Bertobat Sebelum Terlambat

bertobat, Bertobat Sebelum Terlambat, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

            Dalam bulan Ramadan ini sebaiknya kita tidak hanya menunaikan kewajiban untuk berpuasa, tetapi juga banyak memohon ampunan kepada Allah SWT. Karena bulan Ramadan adalah bulan ampunan. Sebagaimana hadis yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari,

 ومن قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

”Barangsiapa yang berdiri (menunaikan salat) di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” Maka kita akan menjadi orang yang rugi jika keluar dari bulan Ramadan namun dosa kita tidak diampuni oleh Allah SWT.

            Berbicara masalah dosa, Imam Ghazali pernah berkata, “Mengapa Allah masih membiarkan kita hidup? Karena dosa kita masih banyak.” Kita sebagai manusia memang sudah kodratnya untuk bersalah. Namun tidak semuanya mau bertobat dari kesalahan yang merka perbuat. Padahal seandainya mereka melakukannya maka meraka akan menjadi lebih baik. Sebagaimana sabda baginda Rasul SAW,

 كل بَنِى آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Semua keturunan Adam pernah berbuat salah, dan sebaik-baik pembuat salah adalah mereka yang bertobat.”

            Sebagai hamba yang baik kita harus selalu optimis, sebesar apapun dosa kita pasti akan dimaafkan oleh Allah SWT. Karena Allah sudah menjanjikan hal tersebut. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis qudsi,

 لَو بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ

“Wahai anak Adam, kalau dosamu setinggi langit, kemudian kamu memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikan ampunan kepadamu.”

Menjadi Mukmin Sebenarnya

Dosa adalah tentang perasaan. Banyak dari mereka yang sering berbuat dosa, kecil maupun besar, tetapi merasa dosa mereka hanya sedikit. Ada pula yang sebaliknya. Seperti yang disabdakan Nabi berikut,

 إنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ

“Sesungguhnya orang mukmin melihat dosa-dosanya seperti ia duduk di pangkal gunung, ia khawatir gunung itu akan menimpanya. Sedangkan orang fajir (selalu berbuat dosa) melihat dosa-dosanya seperti lalat yang menempel di batang hidungnya, kemudian ia mengusirnya seperti ini lalu terbang.”

Dari hadis di atas, kita sebagai mukmin yang baik harus merasa setiap dosa yang telah kita perbuat akan sangat besar balasannya. Kita juga harus percaya, selama kita masih mau bertobat Allah akan menerimanya sebelum pintu tobat tertutup.

Perintah Bertobat

Karena itu, Allah mensyariatkan kita untuk bertobat setelah bermaksiat. Namun, ada beberapa syarat bertobat bila ingin diterima di sisi-Nya. Berikut syarat-syaratnya,

  1. Segera menghentikan semua maksiat yang dilakukan sejak saat keinginan tobat muncul.
  2. Harus merasa menyesal karena telah melakukan kemaksiatan.
  3. Berniat tidak akan mengulangi perbuatan maksiat itu untuk selama-lamanya.

Setelah syarat di atas terpenuhi niscaya tobat kita akan diterima oleh Allah SWT. Dan yang terpenting adalah jangan sampai menunda tobat. Karena kita tak mengetahui kapan nyawa kita akan dicabut.

(M. Abror Suriyanto/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: