SOSOK KIAI SABAR DAN MENGAYOMI

yaiKH. Badruddin Anwar
Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur II al-Murtadlo

Terpancar dari air muka beliau, ketenangan hati dan kesabaran. Beliau tampak begitu tawaduk dan bersahaja. Di usianya yang cukup sepuh (73 tahun), beliau memangku pesantren besar berusia 37 tahun bernama An-Nur al-Murtadlo (An-Nur II) yang terletak di Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang, dengan dibantu oleh saudara dan putra-putranya.
Mendirikan Pesantren
Ada cerita menarik di awal-awal beliau hendak mendirikan pesantren Annur II. Menurut penuturannya, saat itu tidak jauh dari lokasi An-Nur I, terdapat lahan kosong yang lumayan luas. Namun lahan ini dipenuhi dengan tumbuhan liar dan konstruksi tanah yang bergelombang dan becek. Akhirnya beliau punya ide untuk menggelar kompetisi layang-layang yang saat itu sangat bergengsi. Kompetisi ini tidak hanya diikuti oleh warga setempat saja, tapi pesertanya juga berasal dari luar Malang, seperti Surabaya, Sidoarjo, Lumajang, dan Blitar.
Uniknya kompetisi ini berlangsung selama sekitar 3 bulan. Sehingga dalam waktu selama itu, membuat rumput-rumput mati dan tanah itu tidak lagi becek. Sehingga kondisi ini kian meneguhkan hati KH. Badruddin untuk mendirikan pesantren di atas lahan itu. “Eman, apabila tanah itu tidak saya buat sarana dakwah,” ungkap beliau.
Dibuatlah rumah dari bambu berukuran 4×6 meter sebagai tempat tinggal santri bersama kiai. Pesantren ini resmi berdiri pada tahun 1979 dengan nama An-Nur II al-Murtadlo. Dan saat ini telah berkembang pesat dengan stuktur dan managemen yang mapan.
I’timâd Kepada Guru
KH. Badruddin adalah anak pertama KH. Anwar Nur dari tujuh bersaudara. Beliaulah tokoh kunci di balik kebesaran An-Nur II saat ini. Pada tahun 1957 beliau mondok di Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) atas perintah orangtuanya yang pernah nyantri di PPS. Di PPS beliau masuk kelas V Ibtidaiyah dan berdomisili di Daerah C.
KH. Badruddin dikenal sebagai santri yang taat dan giat. Ada cerita menarik dibalik ketaatan beliau pada masyaikh Sidogiri, waktu itu beliau terkena penyakit gatal-gatal, penyakit ini diketahui oleh KH. Abdul Adzim, salah satu keluarga PPS, lantas beliau menyuruh KH. Badruddin makan besi karat. Kontan saja perintah ini membuat KH. Badruddin kaget dan hati kecilnya ‘memberontak’. Namun karena didorong ketaatannya yang kuat kepada guru, beliau tetap saja memakan besi itu. Anehnya, besi itu bisa beliau makan layaknya makan buah nangka dan terbukti akhirnya gatal-gatalnya sembuh.
Salah satu motivasi yang membentuk karakter KH. Badruddin menjadi sosok yang taat kepada guru adalah dawuh dari abahnya, KH. Anwar Nur. Al-kisah, KH. Badruddin ketika nyantri di PPS dan Ploso bermaksud untuk menghafal al-Quran dan kitab kuning, namun ketika abahnya mengetahui hal itu, beliau dawuh, “Gak usah koyok ngono nak, seng penting iku I’timad (taat dan berpegang teguh) nang gurune. Masio koyok opo lek gak I’timad nang guru, yo…gak hasil”.
Pernah pula beliau bermaksud mengikuti majelis shalawat, namun setelah izin pada Kiai Cholil Nawawi, beliau tidak jadi ikut. “Ngamalno sullam taufîq iku wes cukup,” dawuh Kiai Cholil kepada KH. Badruddin.
Beliau keluar (Boyong) dari PPS pada tahun 1962 setelah mendapat restu dari Pengasuh PPS KH. Cholil Nawawie dan KA. Sa’doellah Nawawie yang waktu itu menjabat Ketua Umum PPS.
Mengayomi dan Memperhatikan Santri, Alumni, dan Masyarakat
KH. Badruddin adalah sosok kiai yang amat perhatian tidak hanya kepada santri namun juga kepada alumni, dan masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari kegiatan dan kebijakan yang diterapkan oleh beliau di pesantren An-Nur II.
Dalam perkembangannya, PP. An-Nur II tidak hanya aktif menyelengarakan pendidikan dan pelayanan keagamaan untuk santri, selain itu terdapat pula program yang didedikasikan untuk alumni dan masyarakat. Program kemasyarakatan ini diselenggarakan pengurus melalui organisasi khusus alumni yang bernama IKSAN (Ikatan Alumni Santri An-Nur).
IKSAN memiliki empat jalur koordinasi. Yaitu IKSAN pusat, kecamatan, desa, dan kampus. Kegiatan yang diselenggarakan bervariasi, ada pengajian rutin yang diselenggarakan setiap Ahad Legi, istighosah “Zadil Ma`ad”, Pasar Waqiah, dan berbagai macam kegiatan sosial. Kegiatan pengajian rutin diisi dengan mengaji kitab, istighosah, dan ceramah agama. Kegiatan ini diikuti oleh alumni yang diletakkan di area pesantren.
Sedangkan Pasar Waqiah adalah kegiatan pengajian Tafsir Surat Waqiah yang diasuh oleh salah satu putra pengasuh dan pembacaan surat Waqiah sebanyak 9 kali yang dipimpin sendiri oleh pengasuh, KH. Badruddin Anwar. Kegiatan ini terselenggara secara rutin tiap malam Ahad Pahing untuk santri. Dan Pasar Waqiah keliling yang diselenggarakan secara berkala untuk alumni dan masyarakat.
Perhatian beliau terhadap masyarakat juga tampak ketika beliau melarang keluarga untuk menyuplai sendiri kantin atau toko yang ada di dalam komplek pesantren dengan tujuan memberi kesempatan masyarakat untuk merasakan manfaat keberadaan pesantren dengan berjualan. Pernah pula ada santri yang mengusulkan makanan untuk santri dalam pondok dimasak sendiri agar ada keuntungan yang kembali pada pesantren. Namun usulan tersebut tidak diterima oleh beliau. Hal ini tidak lain karena untuk memberi kesempatan masyarakat untuk berjualan.
Selain itu, beliau juga sangat memikirkan alumni, contoh kecil ketika akan ada acara yang melibatkan alumni, beliau melarang memungut iuran. Beliau dawuh, “Jangan kau tarik iuran pada alumni, mereka itu baru memulai hidup di masyarakat. Jangan kau repotkan dengan biaya-biaya lainnya…”
“Kiai dahulu mendapat undangan ceramah dan khutbah kemana-mana, namun rupanya beliau memberi kesempatan agar santrinya yang maju. Berkat kesempatan itulah sampai sekarang saya (alumni) memegang tongkat (khutbah)”, ungkap salah satu alumni pesantren An-Nur II. Hal ini menunjukkan betapa KH. Badruddin memperhatikan santri dan alumninya untuk menjadi manusia yang bermanfaat.
Adapun kepada santri, beliau adalah sosok yang tidak suka marah, jika ada santri yang melanggar (mbeling) beliau memberi hukuman dengan memanggilnya untuk mendekat kemudian memegang telinga santri tersebut seolah-olah beliau menjewernya, padahal hanya memegang saja. Santri menganggap hal ini adalah hukuman berat, berat bukan karena sakit dijewer akan tetapi merasakan bagaimana kasih sayang Kiai kepada mereka dan malu kepada santri yang lain.
Suatu saat beliau pernah dawuh pada para ustaz, “Keberkahan pondok pesantren akan didapat oleh semua santri asal niatnya baik. Boleh jadi santri yang (seakan-akan) mbeling di pondok begitu pulang jadi orang sukses dan terhormat. Maka perlakukanlah semua santri dengan baik karena kita tidak tahu bagaimana kesudahannya nanti (dapat barokah apa tidak)”.

M. Romzi Khalik/sidogiri

Nama    : KH. Badruddin
Alamat    : Jl. Raya Bululawang 65171 Malang Jawa Timur
Ttl    : Malang, 2 April 1942
Ayah    : KH. Anwar Nur
Ibu    : Nyai Hj. Siti Aisyah
Istri    : Hj. Ummi Kultsum (Alm), Hj. Badiatus Sholihah, Hj. Lathifah
Putra-Putri    : 15 Pa/Pi
Pendidikan    : PP. Sidogiri, PP. Ploso, PP Lirboyo
Aktivitas    : Mengasuh Pesantren
Tahun masuk PPS: 1957

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: