Nasab Ba Alawi dan Ahlulbait di Indonesia Terputus dari Rasulullah?
Ada oknum yang meyakini nasab habaib dan Ba Alawi di Indonesia terputus dari Nabi Muhammad Saw. Mereka bilang kalau catatan nasab antar dokumen berbeda. Ada yang menuliskan nama Alawi bin Ubaidillah yang merupakan leluhur Ba Alawi dan ada yang tidak menuliskannya.
Ada dua kitab yang sesuai dengan konteks di atas. Pertama kitab Syajarah Al-Mubarakah karangan Imam Fakhrurrazi atau Imam Fakhruddin Ar-Razi (554-606 H) dan kedua kitab Tahdzib Al-Ansab karya Syekh Asy-Syaraf Abul Hasan bin Muhammad bin Abi Ja’far Al-Ubaidili (w. 437 H). Oknum tersebut merujuk kepada dua kitab di atas yang tidak mencantumkan nasab Ubaidillah bin Ahmad sehingga mereka mengatakan nasab Ba Alawi dan Ahlulbait di Indonesia terputus dari Nabi Muhammad Saw.
Selain itu, ada juga oknum yang mengatakan bahwa nasab Ba Alawi dan Ahlulbait terputus jika lewat jalur ibu. Bahkan di antara mereka juga ada yang beranggapan kalau seorang laki-laki menikah dengan syarifah termasuk zina dan haram serta nasab keturunannya terputus dari Nabi Muhammad Saw.
Kejanggalan Pendapat Oknum Penuduh
Namun, terdapat beberapa kejanggalan dalam kitab tersebut. Pertama, kitab Syajarah Al-Mubarakah tidak tercatat karya Imam Fakhrurrazi dalam sejarah. Selain itu, dalam halaman kitab tersebut, seseorang bernama Al-Mar’asyi An-Najfi baru menemukan kitab Syajarah Al-Mubarakah ini pada tahun 1997 Masehi. Pertanyaannya, mana mungkin kitab baru menjadi rujukan tanpa mengetahui keasliannya terlebih dahulu?
Tak hanya itu, dalam kitab ini juga tidak tercantum nama-nama ulama besar seperti Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, padahal hidup pada masa yang sama dengan Imam Fakhruddin Ar-Razi. Malahan kitab ini mencantumkan nama Imam Al-‘Askari, imam Syiah ke-11. Tidak mungkin Imam Fakhruddin Ar-Razi menuliskan nama imam ke-11 Syiah.
Dalam kitab Tahdzib Al-Ansab, Imam Al-Ubaidili menyebutkan, “Di antara anak Ahmad bin Isa ….” Berarti dia memang tidak berniat menyebutkan semua putra-putri Ahmad bin Isa. Jadi, ada nama anak Ahmad bin Isa yang belum tercantum dalam kitab tersebut.
Pembahasan selanjutnya terkait nasab lewat jalur ibu. Selama ini, memang nama bapak menjadi rujukan di belakang nama anaknya untuk menunjukkan nasab. Akan tetapi, bukan berarti menggunakan nama ibu memutus nasab kepada Nabi Muhammad Saw. Malahan turunan nasab setelah Nabi Muhammad Saw, Sayyidah Fatimah Azzahra, adalah seorang ibu.
Jadi jelas tidak masalah menyambungkan nasab lewat jalur ibu. Jika kita analogikan, cucu adalah anak dari anak kita, entah itu perempuan maupun laki-laki. Apakah kita mengatakan bahwa cucu adalah anak dari anak laki-laki saja? Tidak, itu tandanya nasabnya masih sambung kepada kita.
Merespons anggapan laki-laki biasa menikah dengan syarifah adalah zina, Sayyid Zulfikar mengungkapkan sudah jelas itu tidak benar. Justru menikah itu syariat Allah dan rasul-Nya. Hal-hal yang berhubungan antara laki-laki dan perempuan menjadi halal setelah menikah, bahkan termasuk ibadah. Selain itu, tidak ada ketentuan seorang syarifah tidak boleh menikahi laki-laki biasa. Justru hal ini mewujudkan keturunan-keturunan penerus Rasulullah Saw.
Benci Ahlulbait Berarti Munafik

Selain itu, oknum atau bahkan kiai yang menuduh tidak sambungnya nasab ulama Indonesia dengan Nabi Muhammad Saw, berarti dia tidak punya adab. KH. Najih Maimun mengatakan, “Kalau ada kiai yang menentang nasab habaib, berarti juga menentang nasab Wali Sanga. Ini kan enggak punya adab. Bisa baca kitab tetapi bikin tafriqah (perpecahan) kepada umat.” Padahal nasab para habaib, Ba Alawi, Ahlulbait di Indonesia sudah jelas benarnya.
Buya Yahya juga mengatakan, “Kami sampaikan, wahai umat! Kepercayaan yang selama ini ada pada hati Anda tetap pegangi bahwasanya para zuriah Nabi yang ada di Indonesia yang selama ini Anda dengar adalah nasabnya benar. Jangan Anda mau mendengar suara-suara yang mengatakan bahwasanya itu adalah tidak benar. Anda akan rugi pada akhirnya.”
Tak hanya itu, sebagai umat islam tidak boleh membenci zuriah Nabi Muhammad Saw, entah karena perilakunya atau hal lain. Membenci zuriah Nabi atau Ahlulbait tidaklah sama dengan membenci orang biasa. Adanya rasa benci kepada zuriah Nabi dapat menyebabkan orang tersebut masuk neraka.
Dalam kitab Al-Iklil, Ibnu ‘Addi menyampaikan ucapan Abu Sa’id Al-Khudri Ra. yang mengatakan, “Rasulullah Saw. bersabda, ‘Barang siapa yang membenci kami, Ahlulbait, maka dia termasuk golongan munafik’.” Selain itu, Abu Sa’id Al-Khudri juga mengatakan, “Nabi Saw. bersabda, ‘Demi Zat Yang Menggenggam Jiwaku, tidak ada seseorang yang membenci kami Ahlulbait kecuali Allah akan memasukkannya ke neraka’.”(Dari kitab Ihya Al-Mait karangan Imam Al-Hafiz Jalaluddin As-Suyuti). Buya Yahya juga memperingatkan, “Dan jangan gara-gara orang yang dikatakan zuriah Nabi lalu melakukan kemungkaran lalu kita benci Ahlulbait Nabi, hati-hati!”
Jadi, tidak perlu ada perdebatan tentang nasab Ahlulbait dan Ba Alawi yang ada di Indonesia. Nasab beliau semua sudah jelas dan tercatat oleh organisasi Rabithah Alawiyah. Apalagi semua habaib di Indonesia telah menyatakan nasab mereka sudah jelas kebenarannya, kecuali kalau memang ada orang biasa yang mengaku-ngaku sebagai habib atau keturunan Nabi Muhammad Saw. Takutnya dengan adanya perdebatan ini dapat menimbulkan perpecahan dalam memercayai zuriah Rasulullah.
(Riki Mahendra Nur C/Mediatech)

Comments (5)
Adakah perbuatan paling memuakkan selain menyombongkan nasab, kalau ada diantara Anda baalawi ulama kasar, suka ngejek orang, itu sama halnya anda menghina Rasulullah SAW, kehadiran Kyai Imaduddin Utsman al Bantani melalui tesis ilmiahnya harusnya anda bantah dengan bukti kitab nasab primer sejaman juga.
Saya memang melihat kesombongan yang nyata pada orang ba’alawi, seharusnya andalah yang harus memberi peringatan keras pada kaum anda pada tataran ulama bertingkah laku kasar, congkak, suka menghina, apa anda tidak malu ?
Ketahuilah Allah tidak pernah tidur dan siapa saja menyakiti Rasulullah melalui perbuatannya, pasti akan hancur.
Keyakiananku cm 1 aja, baaalawi bukan dzuriyah nabi.. Sudah berkali2 saya buktikan dalam pengalaman saya pribadi scra spiritual… Kesimpulanya sama PARA HABIB BUKAN DZURIYAH NABI MUHAMMAD SAW..
CATATAN : pengalamn spiritual saya tisak ada kaitan
eengan kesombongan baaalawi yang kayak iblis, di luar kajian ilmiah kyai imad yang menemukan bahwa tisak ada bukti ketersmbungan nasab baalawi smpai rasulullah, di luar tes dna yang sudah di teliti yng menyatakan baalawi berhaplo grup G yahudi azkhenazi. ..
Loh kan sudah dibantah secara ilmiah oleh Gus Wafi, Lora Isma’il Al Khalili, nyai raden lina cirebon, gus kaustar lirboyo, kiyai sarang rembang, kiyai sidogiri, dan pengakuan dari seluruh Naqobah di Dunia. Cuma imad saja selalu lari dari undangan diskusi ilmiah, karena dia pengecut. Saya punya datanya lo dari Lora, bahkan saya berteman dengan Nyai Raden Lina Cirebon yang asli keturunan Kesultanan Cirebon.
Cuma anda yang degil, ketinggalan informasi intelektual karena cuma mengandalkan propaganda medsos. Umur dewasa, tapi otak degil.
Ini pemikiran yang cerdas dan memang sampai sekarang belum ada yang bisa membantah tesis KH, Imaduddin Utsman Al-Bantani
Kebenaran tesis kyai Imad mendekati mutlak, hanya bisa tersanggah bila ditemukan kitab yang mengisi rentang waktu 500 tahun yang terputus, atau manuskrip, atau inskripsi makam, itupun masih harus berhadapan dengan test DNA yang ternyata meleset. Jadi, kepalsuan nasab baalwi 100%
Hanya orang-orang termakan doktrin sesat dan pembela kepentingan pribadi yang masih percaya ketersambungan nasab ba’alawy ke nabi Muhammad.