وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ وَقُرُونًا بَيْنَ ذَٰلِكَ كَثِيرًا
“Dan (Kami binasakan) kaum ‘Aad dan Tsamud dan penduduk Rass dan banyak (lagi) generasi-generasi di antara kaum-kaum tersebut.” (QS. Al-Furqan: 38)
Ashhaburrassi merupakan beberapa orang kaum Tsamud yang tersisa setelah tertimpa azab Allah. Kaum ini memiliki nama Ashhaburrassi disebabkan kehidupan mereka bergantung pada satu sumur bernama Ar-Rassi atau Rass.
Allah menguji keimanan mereka dengan mendatangkan burung Anqa‘. Burung tersebut bertubuh besar, memiliki bulu yang warna-warni, serta leher yang begitu panjang. Bernama Anqa’ sebab memiliki leher panjang. Kehidupan burung tersebut di gunung-gunung
Mereka, kaum Ashhabu Ar-Rassi terpukau dengan burung Anqa’. Mereka semua mengagung-agungkan burung Anqa‘ menganggapnya sebagai hal keramat. Tetapi burung Anqa’ juga memangsa anak-anak serta hewan. Meski memiliki sisi berbahaya, para penduduk tetap mengagungkannya dan menganggap hal itu sebagai tumbal.
Sejarah Sebagai Peringatan Masa Depan
Sebab itu, Nabi Hanzhalah yang Allah datangkan untuk kaum tersebut berdoa agar Dia memusnahkan burung Anqa’. Begitu Nabi Hanzhalah berdoa kilat-kilat muncul dan menyambar burung tersebut.
Karena mengetahui burung Anqa’ mati tersambar kilat, kaum Rass mengamuk dan menangkap Nabi Hanzhalah. Kaum Rass itu tinggal di dekat sumur yang kemudian jadi danau dan airnya bersumber dari sumur Rass.
Dengan penuh amarah, mereka membawa Nabi Hanzhalah ke sumur. Selanjutnya mereka membunuhnya dengan cara ditenggelamkan ke dalam sumur.
Akibat perbuatan mereka, Allah murka dan menjatuhkan azab kepada kaum Rass. Ada dua riwayat tentang azab yang menimpa mereka. Pertama, mengeringkan sumber air dari sumur Rass. Alhasil, mereka kekurangan air dan mati di sana.
Menurut riwayat lain, mereka terkena azab saat mengubur hidup-hidup Nabi Hanzhalah di dalam sumur. Saat proses penguburan tersebut, sumur dan tanah di sekitarnya ambles. Mereka tidak sempat menyelamatkan diri bahkan rumah-rumah di daerah itu juga ditelan bumi.
وَكُلًّا ضَرَبْنَا لَهُ الْأَمْثَالَ ۖ وَكُلًّا تَبَّرْنَا تَتْبِيرًا
“Dan Kami jadikan bagi masing-masing mereka perumpamaan dan masing-masing mereka itu benar benar telah Kami binasakan dengan sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Furqan: 39)
Kisah-kisah azab yang menimpa kaum terdahulu itu sejarah. Sejarah berasal dari bahasa Arab syajarah berarti pohon. Analoginya adalah saat kita akan melakukan sesuatu kita tahu apa hasilnya atau buahnya. Tahunya dari mana? dari sejarah masa lalu yang sudah terjadi.
Melalui sejarah ini, kita diingatkan untuk mengambil pelajaran agar tidak memanen “buah” pahit yang sama akibat mengulang kesalahan kaum terdahulu. Masa depan kita ditentukan oleh kemampuan memetik hikmah dari kehancuran masa lalu sebagai peringatan agar tidak terulang kembali.
(Abu Raihan Efendi/Mediatech An-Nur II)
