Hakikat Maulid Nabi: Ketika Selawat dan Salam Menjadi Wujud Cinta kepada Rasulullah ﷺ

Maulid Nabi

annur2.net – Malam itu (19/08/2026) suasana Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” terasa lebih syahdu dari biasanya. Ribuan santri putra yang mengenakan pakaian serba putih melantunkan selawat dengan penuh kekhusyukan, menghadirkan atmosfer cinta kepada Rasulullah ﷺ.

Tapi tahukah kalian? Perayaan tersebut tidak harus bertepatan pada hari kelahirannya, semestinya setiap hari kita merayakannya dengan berbagai bentuk, seperti pujian (selawat serta salam), pengagungan, bersyukur dan masih banyak lagi, sebab hal ini membawa banyak keutamaan dan kebaikan bagi setiap pengamalnya.

Maulid Nabi
Syekh Dr. Muhammad Yahya Al-Kattani Al-Azhari menjelaskan keutamaan maulid

Syekh Dr. Muhammad Yahya Al-Kattani Al-Azhari, Pakar ilmu hadis dan tasawuf Universitas Al-Azhar Mesir, Pemilik lembaga pendidikan Ribathul Ilmi di kota Alexanderia-Mesir, membeberkan rinci bentuk-bentuk perayaan maulid nabi dan keutamaannya.

Perayaan Pertama Maulid Nabi

Menurut penjelasan Syekh Yahya Al-Kattani, bentuk pertama pengagungan terhadap Nabi Muhammad ﷺ berasal dari Allah Swt., sendiri. Perlu kita ketahui bentuk perayaan tidak semata tentang pujian dan makan-makan. Pengagungan atau pemuliaan itu termasuk dalam perayaan.

Bukti Allah merayakan kelahiran atau kedatangan nabi:

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ

Artinya: Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.” Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui.” Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.” (QS. Ali-Imran: 81)

Ayat ini menunjukkan pengagungan Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui pengambilan perjanjian dari para nabi agar beriman dan menolong beliau apabila menjumpai masa kerasulannya.

Hal ini menunjukkan bahwa memuliakan Rasulullah ﷺ bukan sekadar tradisi umat, tetapi memiliki landasan berupa pengakuan atas kedudukan beliau yang agung di sisi Allah. Dari semangat memuliakan dan mencintai Rasulullah ﷺ inilah kemudian lahir berbagai bentuk ekspresi kecintaan umat, termasuk peringatan Maulid Nabi. 

Tentunya kita melakukan perayaan maulid nabi mengikuti yang sudah Allah, para sahabat, dan ulama contohkan. 

Keistimewaan Para Pengamal Perayaan Maulid Nabi

Berdasarkan hadis Nabi ﷺ, Allah akan membanggakan orang-orang yang bersyukur atas nikmat hidayah Islam dan diutusnya Nabi Muhammad ﷺ di hadapan para malaikat.

أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليْهِ وسلَّمَ خرجَ على حَلْقةٍ يعني من أصحابِهِ فقالَ ما أجلسَكم قالوا : جلَسنا ندعوا اللَّهَ ونحمَدُهُ ، على ما هدانا لدينِهِ ومنَّ علينا بِكَ قالَ آللَّهُ ما أجلسَكم إلَّا ذلِكَ قالوا آللَّهُ ما أجلسنا إلَّا ذلِكَ قالَ أما إنِّي لَم أستحلِفْكم تُهمةً لَكم وإنَّما أتاني جبريلُ عليْهِ السَّلامُ فأخبرَني أنَّ اللَّهَ عزَّ وجلَّ يُباهي بِكمُ الملائِكةَ

Artinya: Dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ keluar menemui suatu halaqah para sahabat, lalu beliau bertanya, “Apa yang membuat kalian duduk berkumpul?” 

Mereka menjawab, “Kami duduk untuk berdoa kepada Allah dan memuji-Nya atas petunjuk yang diberikan kepada kami kepada agama-Nya serta atas nikmat-Nya yang telah mengutus engkau kepada kami.”

Beliau bertanya, “Demi Allah, tidak ada yang membuat kalian duduk selain itu?”

Mereka menjawab, “Demi Allah, tidak ada yang membuat kami duduk selain itu.”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku tidak meminta kalian bersumpah karena menuduh kalian. Akan tetapi Jibril datang kepadaku dan memberitahukan bahwa Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia membanggakan kalian di hadapan para malaikat.” (HR. Muslim).

Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ juga tercermin dalam bait-bait syair yang dirangkai oleh para pecinta beliau. Salah satunya adalah syair yang digubah oleh sahabat Nabi ﷺ, Hasan bin Tsabit

وَأَحْسَنُ مِنْكَ لَمْ تَرَ قَطُّ عَيْنِى #  وَأَجْمَلُ مِنكَ لَمْ تَلِدِ النِّسَآءُ


“Mataku tak pernah melihat seseorang yang lebih indah darimu (Muhammad).
Dan tak pernah seorang wanita melahirkan seseorang yang lebih elok darimu.”

خُلِقْتَ مُبَرَّأً مِنْ كُلِّ عَيْبٍ # كَأَنَّكَ قَدْ خُلِقْتَ كَمَا تَشَآءُ

“Engkau diciptakan bersih dari segala kekurangan,
Seakan-akan engkau diciptakan sebagaimana yang engkau kehendaki.”

Setelah zamannya, banyak generasi munsyid (penyair) yang terlahir. Salah satu yang terkenal ialah penulis Qasidah Burdah, Imam Al-Bushiri.

Setiap Salam Ada Keutamaan

Termasuk guru Syekh Yahya, Abu Al-Fail Al-Kattani memiliki beberapa ungkapan pujian dan salam kepada baginda nabi:

مَرْحَبًا أَهْلًا وَسَهْلًا # بِالْحَبِيبِ مَوْلَايَ مُحَمَّدْ

“Selamat datang, ahlan wa sahlan, wahai kekasihku, junjunganku Muhammad.”

Bentuk salamnya:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا عَيْنَ الْعُيُونِ

“Semoga keselamatan tercurah atasmu, wahai mata dari segala mata (yakni yang paling mulia, paling indah, dan menjadi penyejuk segala pandangan).”

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا رُوحَ الْأَرْوَاحِ

“Semoga keselamatan tercurah atasmu, wahai ruh dari segala ruh (yakni ruh yang paling mulia dan menjadi sumber kehidupan hati).”

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ

“Semoga keselamatan tercurah atasmu. Sesungguhnya orang-orang yang berbaiat kepadamu, pada hakikatnya mereka berbaiat kepada Allah.”

Sebagian ulama menyebutkan bahwa memperbanyak salam dan selawat kepada Rasulullah ﷺ menjadi salah satu sebab seseorang dianugerahi Allah berjumpa dengan beliau dalam mimpi.

Selain itu, setiap kali kita menyampaikan salam kepadanya, beliau juga membalas salam kepada kita.

ما من أحدٍ يسلِّمُ عليَّ إلَّا ردَّ اللَّهُ عليَّ روحي حتَّى أردَّ عليْهِ السَّلامَ

Artinya: “Tidaklah seseorang mengucapkan salam kepadaku melainkan Allah mengembalikan ruhku kepadaku sehingga aku membalas salamnya.” (HR. Abu Daud).

Perayaan Maulid Nabi Muhammad ﷺ pada hakikatnya merupakan ungkapan syukur dan kecintaan kepada Rasulullah yang tidak terbatas pada bulan Rabiul Awal. Cinta tersebut diwujudkan dengan memperbanyak selawat dan salam, mempelajari sirah, serta meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari. Semakin besar mahabbah kepada Rasulullah ﷺ, semakin besar pula dorongan untuk berpegang teguh kepada sunnahnya.

Penulis: Abu Raihan Efendi/Mediatech An-Nur II

Editor: Ust. M. Abror Suriyanto

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU