وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ فَإِذَا هُمْ فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ
“(Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kaum Tsamud saudara mereka) yang satu kabilah (Saleh, yang berseru, ‘Sembahlah Allah!’) tauhidkanlah Dia. (Tetapi tiba-tiba mereka jadi dua golongan yang bermusuhan) dalam masalah agama; segolongan terdiri dari orang-orang yang beriman kepadanya sejak ia diutus kepada mereka dan golongan yang lain adalah orang-orang kafir.” (Tafsir Jalalayn, QS. An-Naml: 45)
***
annur2.net – Kaum Tsamud merupakan tempat yang turunnya utusan kepada mereka seorang nabi bernama Shaleh. Nabi Shaleh merupakan saudara dari Kaum Tsamud itu sendiri yang berasal dari keluarga terpandang di sana. Nabi Shaleh menjadi utusan setelah kehancuran Kaum ‘Ad lalu memiliki keturunan yakni Kaum Tsamud yang terkenal sangat maju dalam bidang bangunan. Mereka merupakan kaum yang hebat, kuat dan kaya akan tetapi sombong dan menyembah berhala.
Terdapat peninggalan yang masih tertinggal dan menjadi situs arkeolog disebut sebagai Madain Saleh. Kaum Tsamud merupakan pemahat yang sangat hebat pada masanya. Mereka memahat gunung dan menjadikanya sebagai tempat tinggal. Dalam Al-Qur’an menyebutkan tempat-tempat yang terkena azab Allah merupakan tempat terkutuk dan tidak ada yang boleh ke sana.
Madain Saleh ini juga merupakan daerah tertimpa azab dari Allah Swt. Kaum Tsamud menentang dan menolak adanya mukjizat dan azab, bahkan mengejek adanya hal tersebut. Seperti pada yang dipaparkan dalam Al-Qur’an:
Dakwah Nabi Shaleh dan Azab yang Diremehkan Kaum Tsamud
قَالَ يَا قَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ ۖ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Dia berkata: ‘Hai kaumku mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum (kamu minta) kebaikan? Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat’.” (QS. An-Naml: 46)
Pertama, Nabi Shaleh mengingatkan mereka untuk menyembah Allah akan tetapi malah terbagi menjadi dua kubu. Sebagian ada yang beriman, akan tetapi banyak yang kafir dan mereka menentang dakwah Beliau dengan meminta segerakan datangnya azab. Justru meremehkan adanya peringatan Nabi Shaleh perihal azab yang akan menimpa mereka daripada mencari ampunan Allah Swt.
قَالُوا اطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَنْ مَعَكَ ۚ قَالَ طَائِرُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ ۖ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تُفْتَنُونَ
“Mereka menjawab: ‘Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu.’ Shaleh berkata: ‘Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji’.” (QS. An-Naml: 47)
Lalu, mereka menganggap jika Nabi Shaleh pembawa sial. Hal ini banyak terjadi pada dakwah nabi. Saat dakwah datang orang-orang merasa terganggu, gangguan aneh terjadi pada mereka dan menuduh nabi merupakan pembawa sial bagi mereka. Nabi Shaleh berkata kepada mereka bahwa kesialan yang mereka alami itu berasal dari dirinya sendiri.
Makar Berupa Sembilan Laki-Laki
وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ
“Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.” (QS. An-Naml: 48)
Di sana terdapat sembilan laki-laki dari Kaum Tsamud yang melakukan kerusakan dengan melakukan kemaksiatan, kekufuran, kejahatan di muka bumi serta tidak pernah berbuat kebaikan. Mereka adalah makar kejahatan dan merencanakan fitnah, pembunuhan kepada Nabi Shaleh.
قَالُوا تَقَاسَمُوا بِاللَّهِ لَنُبَيِّتَنَّهُ وَأَهْلَهُ ثُمَّ لَنَقُولَنَّ لِوَلِيِّهِ مَا شَهِدْنَا مَهْلِكَ أَهْلِهِ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ
Mereka berkata: “Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar”. (QS. An-Naml: 49)
Sembilan orang tersebut merencanakan sebuah kejahatan dan fitnah, hingga menyebarkan alibi berupa berita bohong dan bersumpah atas nama Allah.
Kehancuran Kaum Tsamud
وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (50) فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَاهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِي (51) فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (52)
“(50) Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari. (51) Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. (52) Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui.” (QS. An-Naml: 50)
Pada malam harinya mereka telah merencanakan makar akan tetapi rencana tersebut gagal dan bukannya mereka menghancurkan justru hancur oleh Allah Swt. Rencana tersebut gagal sebab Allah akibat hal yang mereka sendiri, rumah-rumah yang terpahat dengan baik itu runtuh dan hancur lebur. Suara yang begitu nyaring, gempa membuat semuanya hancur dan kosong.
Dengan demikian, orang-orang yang menentang Nabi Shaleh dan orang kafir hancur tak bersisa terkena azab akibat perbuatan mereka sendiri. Sedangkan orang yang beriman selamat. Mereka hebat secara teknologi tapi hancur dalam akhlak, dari hal itu menimbulkan kerusakan. Hingga perbuatan mereka masih terlihat jelas dengan peninggalan bangunan yang masih tersisa di zaman saat ini yakni Madain Shaleh. Madain Shaleh menjadi saksi bagaimana rusaknya dan sombongnya Kaum Tsamud.
(Zihni Maurizio/Mediatech An-Nur II)