Temu Kangen Alumni: Pokoknya Harus Kumpul

Temu Kangen dan Tahlil Akbar Santri Alumni Pondok An-Nur II 2026

annur2.net – “Kumpulnya (alumni) tok itu sudah menjadi semangat, menjadi ghirah untuk menjaga status menjadi santri.” Itulah ucapan Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., dalam tausiyahnya. Ahad, 5 April 2026, Temu Kangen dan Tahlil Akbar Santri Alumni Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” menjadi reuni besar-besaran. Ribuan alumni dari tahun awal pendirian hingga kini berkumpul di depan Masjid An-Nur II.

Temu Kangen merupakan acara rutinan tahunan yang diadakan oleh IKSAN (Ikatan Santri Alumni An-Nur II) sebagai tempat Halal Bihalal. IKSAN mengajak semua alumni, dari Sabang sampai Merauke, muda sampai tua, untuk hadir di satu tempat yaitu Pondok Pesantren An-Nur II. “Sing penting kumpul,” begitulah pesan Kiai Fathul Bari. Apalagi terdapat pengajian yang tentu akan menambah ilmu para alumni.

Bagi Kiai Fathul Bari, acara alumni tidak boleh mengadakan iuran wajib sebab bisa menjadi beban. Hanya sumbangan yang boleh diterima. Kiai Fathul Bari mengungkapkan, “Kalau ada acara, tidak iuran, teko tok, beliau senang.”

Bahkan Almaghfurlah KH. M. Badruddin Anwar dulu telah membuat aturan untuk acara rutinan yang tempatnya berpindah-pindah seperti Zaadil Maad, tidak boleh memberi makanan kecuali jajanan sederhana. Beliau khawatir tuan rumah berikutnya tidak bisa memberi hidangan yang sama mewah dengan sebelumnya.

Ada salah satu ucapan Kiai Badruddin yang mengajak agar tidak merepotkan para alumni. “Alumni iku ojok direpoti. Alumni iku kaet urip ndek masyarakat (Alumni itu jangan direpotkan. Alumni itu baru saja berbaur di masyarakat).”

Kiai Fathul Bari juga berharap meskipun tidak iuran, para alumni tetap mengusahakan menghadiri acara. Alasan untuk mencari nafkah dan maisyah sudah bisa mereka usahakan dengan pembacaan surah Al-Waqiah di dalam perkumpulan alumni. “Makanya beliau (Kiai Badruddin) mengajarkan membawa Waqiah.” Tutur Kiai Fathul Bari.

Para Pengasuh Selalu Mendoakan Alumni

Keluarga pengasuh senantiasa mendoakan para alumni agar selalu sehat dan rezekinya lancar. Drh. KH. Hairuddin, Ak., M.Si., menyampaikan tentang rezeki yang tak terduga dari Allah Swt. Sebagaimana dalam surah At-Talaq,

… وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ … (3)

Artinya, “(2) Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (3) Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3)

Tentunya orang yang mendapat rezeki tak terduga itu ialah mereka yang bertakwa. Maka dari itu, Kiai Hairuddin mengajak para alumni meningkatkan ketakwaan. Terutama mengamalkan syair dari Kiai Badruddin.

جاءت لدعوته الأشجار ساجدة تمشى إليه على ساقٍ بلا قدم

Meski Alumni Harus Tetap Santri

Ustaz Mohammad Hayat dalam sambutannya juga menyampaikan pesan Kiai Badruddin dulu. “Ono pondok santri, ono ndalan santri, ono omah santri, ndek endi wae tetap santri (Di pondok santri, di jalan santri, di rumah santri, di manapun tetap santri).” Begitulah beliau sampaikan dengan bahasanya sendiri.

Saat sowan dulu, Ustaz Hayat juga mendapat pesan lain dari Kiai Badruddin. “Dadi santri kudu seng kuwat (Menjadi santri harus kuat).” Ucap Kiai Badruddin dulu. Kalimat ini pendek tapi memiliki makna yang banyak.

Ustaz Hayat memaknainya menjadi beberapa poin. Pertama, santri harus kuat dalam masalah ekonomi. Santri Kiai Badruddin sudah memiliki bekalnya yaitu membaca surah Al-Waqiah dan Jaad Lida’. Kedua, santri harus kuat dalam bermasyarakat. Sebagaimana beliau sampaikan, “Santri harus mewarnai masyarakat bukan diwarnai masyarakat.”

Ketiga, santri harus kuat menjadi pemimpin. Para santri setelah lulus akan mendalami berbagai bidang hingga menjadi pimpinan. Santri harus tahan banting dari segala gangguan pada masa itu. Ustaz Hayat mengatakan, “Orang yang gagal bukan orang yang tidak pintar, tapi orang yang gagal adalah orang yang berhenti sebelum waktunya.”

Selain itu, santri alumni harus memiliki beberapa sifat yang Ustaz Hayat sampaikan. Sifat pertama adalah memiliki pemikiran membawa nama baik pondok pesantren. Kedua, berpikir agar dirinya menjadi maslahat bagi pondok dan orang lain. Misalnya dengan memondokkan anaknya, saudaranya, dan kerabatnya. Ketiga agar pondoknya semakin baik.

Temu Kangen ini memiliki kesan dan pesan tersendiri bagi masing-masing alumni. Ustaz H. Nur Kholis, M.Pd.I., satu orang dari 45 alumni lulusan 1991. Kini sepuluh dari mereka telah meninggal dunia. Beliau mengungkapkan dan sambutannya, “Dari 35 orang itu punya keluh dan suka dukanya.” Bahkan Ustaz Nur Kholis menyatakan teman-teman seperjuangannya tetap akrab hingga kini.

(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU