Malam Sejuta Waqiah 1447 H: Penutupan Penuh Berkah Beserta Akad Nikah

Malam Sejuta Waqiah Pondok Pesantren An-Nur II pada 27 Ramadan 1447 H

annur2.net – Tepat malam 27 Ramadan 1447 H, Malam Sejuta Waqiah dilaksanakan di area Masjid Utama Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo”, Senin, 16 Maret 2026. Para jemaah duduk di area dalam masjid dan pelataran di bawah terop, melaksanakan salat Hajat terlebih dahulu. Empat rakaat, dua kali salam, pembacaan surah Al-Ikhlas sebanyak sepuluh kali dan kelipatannya pada setiap rakaatnya. 

Kiai Husni Mubarok, S.Ag., M.Pd.I., kemudian membacakan tawasul. Berlanjut dengan pembacaan surah Al-Waqiah sebanyak tiga kali dan wa shubba alayya rizqan oleh Ustaz Mohamad Hasyim, M.Pd.I. Hujan yang lumayan deras turut mengiringi suasana khidmat Pasar Waqiah. 

Intensitas Makna Doa Wa Shubba ‘Alayya Rizqan

Drs. KH. Hairuddin, Ak., M.i., mewakili majelis keluarga An-Nur II, berharap malam 27 Ramadan ini bertepatan dengan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan. “Yang apabila baca Waqiah pada malam ini, pahalanya seperti membaca Waqiah 83 tahun 4 bulan.” Ucapan beliau dalam sambutannya.

Kemudian, Kiai Hairuddin menjelaskan doa yang biasa jemaah baca setelah surah Al-Waqiah memiliki makna yang sangat dalam. Berikut doanya,

وصب علي الرزق صبة رحمة

فانت رجا قلبي الكسيرمن الخبت 

“Curahkanlah rizki kepada kami, dengan curahan kasih sayang. Karena Engkaulah harapan hati kami yang hancur lebur.”

Bait pertama merupakan harapan agar Allah memberi rezeki kepada hamba-Nya dengan kasih sayang-Nya. Kiai Hairuddin menjelaskan bait pertama, “Kalau disayangi Allah bagaimana? Apakah tidak menangis?”

Pada bait kedua menjelaskan pengakuan hamba-Nya bahwa Allah adalah harapan satu-satunya. Oleh karena itu, Kiai Hairuddin berpesan kepada seluruh jemaah, “Monggo setiap di rumah walaupun baca satu kali tiap Subuh atau tiap sore, baca satu kali misalkan, langsung baca doa itu.”

Jangan Menyia-nyiakan Datangnya Bulan Ramadan

Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., menyebutkan tiga golongan manusia di dunia dalam tausiyahnya. Pertama, orang yang bersungguh-sungguh. Kedua, orang yang melakukan perintah sekadarnya. Ketiga, orang yang acuh terhadap perintah. 

Kiai Fathul Bari menghubungkan tiga golongan tersebut dengan pelaksanaan puasa Ramadan. Golongan pertama tentu mendapatkan fadilah yang banyak sebab memperbanyak ibadah. Namun pemikiran golongan kedua dan ketiga, “Tahun depan Ramadan masih ada,” justru bisa mengecewakan mereka. Apalagi golongan ketiga yang menyia-nyiakan kesempatan itu.

Keyakinan Ramadan akan datang setiap tahunnya pasti benar. “Cuma pertanyaannya pada waktu Ramadan datang, kita masih hidup apa tidak? Kita bisa menyambut atau tidak?” Tutur Kiai Fathul Bari meyakinkan. Maka orang yang merugi di bulan Ramadan adalah yang tidak melakukan ibadah dengan sungguh-sungguh.

Ramadan tahun ini pun akan usai. “Tatkala Ramadan meninggalkan kita, maka kita senantiasa harus muhasabah. Apakah kira-kira puasa diterima oleh Allah Swt.?” Pertanyaan Kiai Fathul Bari. Indikator Allah menerima ibadah selama Ramadan ialah seberapa baik perubahan orang tersebut. 

Kiai Fathul Bari mengungkapkan, “Kalau tahun kemarin jelek. Begitu habis Ramadan jadi baik. Tahun sebelumnya baik. Habis Ramadan tambah baik. Itu tandanya panjenengan dari wong seng taqwa.” Sebab kesungguhan dalam ibadah bisa mengubah diri seseorang menjadi lebih baik. 

Sebagai penutup, Kiai Syamsul Arifin melantunkan doa. Kemudian Syekh Mohamed Masud Mohamed Ahmed Habib selaku guru utusan dari Al-Azhar Mesir juga membacakan doa penutup.

Akad Nikah Alumni An-Nur II pada Malam Sejuta Waqiah

Usai acara, terdapat akad nikah alumni Pondok Pesantren An-Nur II sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Mempelai pria, Ustaz Muhammad Sholihin, alumni asal Jodipan, Malang yang telah mondok selama 15 tahun sejak 2011. Ia menikah dengan Fitriyah Alfi  Az-Zahriyah, alumni asal Klojen, Malang. 

Mereka langsung diakadkan oleh pengasuh Pondok Pesantren An-Nur II, Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag. Khutbah nikah pun disampaikan oleh Syekh Mas’ud. Doa nikah oleh Syekh Mas’ud dan Kiai Syamsul Arifin.

Puluhan kembang api menghiasi langit malam pertanda acara Malam Sejuta Waqiah telah usai. Para jemaah menerima semangkuk makanan dan ramah tama di area pelataran masjid sebelum pulang ke rumah. 

(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU