PWR Malam Ke-17: Memperingati Nuzulul Qur’an dengan Memperbanyak Membaca Al-Qur’an

Mushaf Al-Qur'an dibuka dan dibaca

Pasar Waqiah Ramadan 1447 H/2026 M Malam ke-17

Kajian Nuzulul Qur’an

Oleh: Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag.

annur2.net – Tidak terasa sudah mencapai malam 17 Ramadan. Malam tersebut bertepatan memperingati Nuzulul Qur’an, malam turunnya Al-Qur’an. Di mana pun, turun itu dari atas. Hal ini menandakan Al-Qur’an turun dari sebuah kemuliaan yaitu Allah Swt. 

Sebenarnya, terdapat dua istilah turunnya Al-Qur’an. Pertama yaitu Lailatul Qadar yang terletak pada malam ganjil tanggal-tanggal likuran. Tidak ada yang mengetahui kapan tepatnya kecuali Allah semata. Fase ini merupakan penurunan Al-Qur’an dari Lauh Mahfuz ke langit dunia Baitul Izzah langsung 30 juz. 

Kedua yaitu Nuzulul Qur’an yang terjadi pada tanggal 17 Ramadan. Fase ini berlangsung selama 22 tahun 2 bulan 22 hari atau kurang lebih 22 tahun. Al-Qur’an diturunkan dari Baitul Izzah kepada Nabi Muhammad saw., melalui perantara Malaikat Jibril.

Turunnya Al-Qur’an harus diperingati karena Al-Qur’an adalah kitab suci dan akan tetap seperti itu sampai hari kiamat. Beda dengan kitab suci yang lain. Sekarang kitab-kitab selain Al-Qur’an tidak suci lagi karena adanya campur tangan manusia. Banyaknya perubahan pada kitab-kitab tersebut menjadikannya tidak murni. Beda halnya Al-Qur’an.

Seandainya terjadi pembakaran semua kitab suci, Al-Qur’an akan menjadi kitab yang masih ada. Sebab banyak orang yang telah menghafalkannya dari awal sampai akhir. Namun selain Al-Qur’an akan hilang seketika. Apalagi tidak ada yang menghafalkannya. Kemungkinan yang terjadi setelahnya adalah “pembuatan kitab suci baru”. 

Selain itu, Al-Qur’an tetap kekal bahkan sampai hari kiamat karena Allah langsung yang menjaganya. Sebagaimana dalam firman-Nya,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Al-Qur’an ibarat produk yang memiliki garansi. Ketika ada kesalahan pasti ada yang memperbaikinya sampai benar keseluruhannya, yaitu Allah Swt., melalui penghafal Al-Qur’an. Sedangkan kitab lainnya ibarat produk dengan garansi yang sudah habis. Ada kesalahan dan tidak bisa diperbaiki. Tentu lebih memilih produk yang bergaransi daripada non garansi.

Membaca Al-Qur’an Mengobati Hati

Al-Qur’an artinya bacaan. Maka harus dibaca. Tapi sekarang banyak orang yang menyalahartikan Al-Qur’an sebagai hiasan. Banyak Al-Qur’an yang hanya menjadi pajangan. Padahal membaca Al-Qur’an akan memperoleh tombo ati (obat hati). Dalam kasidah, moco Qur’an angen-angen sak maknane (membaca Al-Qur’an mereka-reka beserta maknanya). Kalau asal membaca Al-Qur’an, hati tidak akan tenang karena tidak mendalami maknanya. Malahan memikirkan urusan dunia yang meresahkan. 

Ada cerita seorang anak yang memiliki kakek rajin membaca Al-Qur’an. Anak itu bertanya, “Mbah, engkau membaca AL-Qur’an terus. Aku juga kepingin. Tapi aku tidak bisa membaca tanpa bisa mendalami maknanya seperti Mbah.” Lalu kakeknya menjawab, “Nak, baca saja! Kamu paham maknanya atau pun tidak, baca saja!”

Sama dengan salat, harus khusyuk. Tapi kalau menunggu khusyuk, tidak akan salat. Makanya mending tetap melakukan salat sambil berlatih khusyuk. Begitu juga membaca Al-Qur’an. Tetap terus membaca Al-Qur’an sambil berlatih memahami maknanya.

Membaca Al-Qur’an bisa membersihkan hati. Nabi bersabda, 

إن القلوب تصدأ كما يصدأ الحديد فقيل يا رسول الله وما جلاؤها فقال تلاوة القرآن وذكر ‌الموت

“Sesungguhnya hati itu bisa korosi sebagaimana besi ketika bertemu dengan air. Kemudian ada yang bertanya kepada Baginda Nabi, ‘Ya Rasulallah, lalu apa yang dapat menghilangkan korosi tersebut?’ Rasul menjawab, ‘Banyak mengingat kematian dan membaca Al-Qur’an.’” (HR. Al-Baihaqi)

Ada seorang bapak yang bicara kepada anaknya sambil menunjuk sebuah keranjang, “Nak, isilah wadah ini dengan air dari sungai, tapi menggunakan keranjang itu.” Anaknya pun melakukannya. Ia bolak-balik dari sungai ke wadah. Tapi wadah itu tak kunjung penuh. Akhirnya anak itu menyerah. 

“Ayah, aku berhenti. Wadah itu tidak penuh-penuh.” Ucap anak itu. Bapaknya pun berkata, “Nak, wadah itu memang tidak penuh. Tapi lihat perubahan keranjang itu. Apa yang kamu lihat?” Anak itu menjawab, “Semakin bersih daripada sebelumnya.” Lalu ayahnya menambahi, “Benar, itu juga yang akan terjadi pada orang yang sering membaca Al-Qur’an.” Orang seperti itu akan memiliki hati yang bersih. 

Membaca Al-Qur’an Membersihkan Hati

Syekh Ahmad Isa Al-Mu’ashrawi, 

عجباً لأمر القرآن نزل جبريل بالقرآن فأصبح أفضل الملائكة. ونزل القرآن على محمد فصار سيد الخلق. ونزل القرآن في شهر رمضان فأصبح خير الشهور.  ونزل القرآن في ليلة القدر فأصبحت خيرا من ألف شهر. وجاء القرآن إلى أمة محمد فأصبحت خير أمة. فماذا لو نزل القرآن في قلوبنا؟

“Sungguh menakjubkan keajaiban Al-Qur’an. Jibril menurunkan Al-Qur’an, lalu ia menjadi malaikat terbaik. Al-Qur’an diturunkan kepada Muhammad, lalu ia menjadi pemimpin seluruh makhluk. Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadan, lalu bulan itu menjadi bulan terbaik. Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar, lalu malam itu menjadi lebih baik dari seribu bulan. Al-Qur’an datang kepada umat Muhammad, lalu umat itu menjadi umat terbaik. Lalu, bagaimana jika Al-Qur’an diturunkan ke dalam hati kita?”

Mestinya hati akan menjadi bersih dan dipenuhi makna Al-Qur’an. Dalam keadaan apapun, orang itu akan tenang, bahkan ketika tertimpa masalah. Lebih mantap lagi jika memperbanyak membaca Al-Qur’an seolah ini Ramadan terakhir. Mengingat kematian mendorong untuk lebih giat dan semangat dalam membaca Al-Qur’an. 

الصيامُ والقرآنُ يَشْفَعانِ للعبدِ، يقولُ الصيامُ: أَيْ رَبِّ ! إني مَنَعْتُهُ الطعامَ والشهواتِ بالنهارِ، فشَفِّعْنِي فيه، ويقولُ القرآنُ : مَنَعْتُهُ النومَ بالليلِ، فشَفِّعْنِي فيه ؛ فيَشْفَعَانِ

“Puasa dan Al-Qur’an bisa memberikan syafaat kepada hamba. Puasa berkata, ‘Wahai tuhanku! Sesungguhnya aku telah mencegah hamba tersebut dari makanan dan syahwat di siang hari. Maka dari itu, terimalah syafaatku untuknya’. Al-Qur’an juga berkata, ‘Aku telah mencegahnya dari tidur pada malam hari, maka terimalah syafaatku untuknya.’ Sehingga mereka bisa memberikan syafaat.” (HR. Ahmad)

Perumpamaan Pembaca Al-Qur’an Mukmin dan Munafik

Meski sama-sama membaca Al-Qur’an, orang mukmin dan kafir memiliki anggapan yang berbeda. Nabi Muhammad bersabda,

2865 – عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «‌مَثَلُ ‌الْمُؤْمِنِ ‌الَّذِي ‌يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْأُتْرُنْجَةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ، وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا، وَطَعْمُهَا حُلْوٌ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ رِيحُهَا مُرٌّ وَطَعْمُهَا مُرٌّ.»

  1. “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti jeruk utrujah. Buahnya wangi dan manis. 
  2. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan kurma. Buah itu tidak memiliki bau tapi manis.
  3. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an seperti raihanah. Baunya wangi tapi rasanya pahit.
  4. Perumpamaan orang munafik yang  tidak membaca Al-Qur’an seperti handzalah. Baunya tidak enak dan rasanya pahit.” (HR. Turmudzi)

Ada pemuda yang bertanya kepada seorang syekh, “Syekh, bagaimana ulama terdahulu memperlakukan Al-Qur’an?” Ia heran mengapa mereka bisa sering membaca Al-Qur’an. Syekh itu menjawab, “Mereka memperlakukan Al-Qur’an sebagaimana kamu memperlakukan gadget sekarang.” Dalam artian, mereka tidak terlepas dari Al-Qur’an. Entah sebelum maupun sesudah salat, bahkan sebelum dan bangun tidur, mereka membaca Al-Qur’an.

Maka tak heran, pada bulan Ramadan, Imam Malik membaca Al-Qur’an. Padahal pada hari-hari biasa, beliau belajar dan membaca kitab. Imam Bukhari juga begitu. Imam Syafii mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari satu kali. Sedangkan pada bulan Ramadan, beliau khatam dua kali sehari.

Orang-orang terdahulu sering baca Al-Qur’an karena hati mereka yang bersih. Oleh sebab itu, mereka tidak pernah bosan membacanya. Utsman dan Hudzaifah berkata, 

لو ‌طهرت ‌القلوب لم تشبع من قراءة القرآن 

“Seandainya hati bersih, maka tidak akan kenyang dari membaca Al-Qur’an.” (Ihya Ulumuddin)

Jadi membaca Al-Qur’an bisa menjadi indikator hati orang bersih atau tidak. Jika ia sering membaca Al-Qur’an berarti hatinya bersih. Sebaliknya hati yang kotor akan terlihat jarang membaca Al-Qur’an. 

Sebagaimana sebelumnya, agar hati bersih caranya dengan mengingat mati dan sering membaca Al-Qur’an. Makanya hati harus selalu bersih. Agar ketika meninggal nanti ada temannya. Al-Qur’an bisa memberi syafaat di akhirat nanti. 

Salah satu kesulitan yang akan datang adalah istikamah. Memang lebih sulit dari istirahat. Tapi istikamah sangat afdal karena lebih baik daripada 1000 keramat. Istikamah membaca Al-Qur’an memiliki fadilah yang besar. Sehingga hati bisa bersih sekaligus tanda kebersihannya. 

Membaca Al-Waqiah juga termasuk salah satu caranya. Al-Waqiah adalah surah di dalam Al-Qur’an. Sering membacanya juga berarti sering membaca Al-Qur’an. Apalagi dengan mengikuti Pengajian Pasar Waqiah. Membaca surah Al-Waqiah setiap malam. Bahkan sebagaimana hadis, 

 مَنْ ‌قَرَأَ سُورَةَ ‌الْوَاقِعَةَ كُلَّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ»

“Barang siapa membaca surah Al-Waqiah setiap malam maka ia tidak akan tertimpa kefakiran.”

(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU