Habib Mustofa Alaydrus: Harun Al-Rasyid yang Sabar dan Rasulullah yang Bertanggung Jawab

annur2.net – Pada zaman Dinasti Abbasiyah, terdapat orang terkenal bernama Bahlul yang dianggap gila oleh orang setempat juga dekat dengan Raja Harun Al-Rasyid di sana. Berucap tak jelas, tingkahnya seperti orang gila dan duduk sembarangan. Saat itu ia tiba-tiba duduk di kursi raja.

Pengawal pun menghampirinya dan menarik-menariknya. Tapi tetap saja, ia tak beranjak dari kursi Raja yang bernama Harun Al-Rasyid. Pengawal di sana pun mamaksanya turun laly menghajarnya. Bahlul berteriak kesakitan, hingga Raja mendengarnya. Kemudian Raja mendatangi sumber suara tersebut dan melihat ada Bahlul di sana.

“Wahai Raja, orang ini tiba-tiba duduk di kursi Anda dengan alasan ingin mencobanya.” Jelas pengawal kepada Raja. Lalu Raja memerintahkan mereka untuk membiarkannya, “Sudah biarkan saja! Dia memang tidak seperti orang pada umumnya.” .

Raja Harus Al-Rasyid dari Dinasti Abbasiyah merupakan keturunan dari Sayid Abbas yang memiliki anak bernama Abdullah bin Abbas. Rasulullah saw., pernah mendoakan anak tersebut sehingga menjadi anak yang memiliki kepintaran tinggi dan kuat hafalannya. 

Abdullah bin Abbas mempunyai saudara yang bernama Fadil. Fadil merupakan misanan (sepupu) dari Rasulullah saw. Maka dari itu, siapa yang memiliki nama Fadil harus memantaskan diri dengan nama yang kelasnya misanannya kanjeng Nabi.

Rasulullah saat sedang Sakit tetapi tetap Melaksanakan Tanggung Jawabnyanya

Pada suatu Ketika Rasulullah saw., sedang sakit panas. Sampai-sampai air yang aslinya dingin menjadi hangat ketika beliau mencelupkan tangannya ke dalam air tersebut. Seperti halnya meletakkan kompresan air dingin di dahi anak yang sakit panas hingga ikut panas.

Tapi ternyata, Rasulullah tetap keluar rumah. Bukan ke pasar untuk membeli obat, melainkan melaksanakan tanggung jawabnya yaitu mendatangi istrinya, Ummu Salamah, yang sudah waktu beliau mendatanginya. Itu tidak bisa gugur kecuali oleh istrinya menggugurkan untuk tidak datang sementara waktu. Tapi jika istrinya tidak mengibra’kan maka tidak boleh. 

Ketika Rasulullah berjalan ke rumah Ummu Salamah, beliau tidak kuat menopang dirinya sendiri karena sakitnya. Di sana Rasulullah menggantungkan kakinya sembari dibopong oleh Fadlan dan Sayidina Ali. 

“Ya Rasulullah, pantasnya anda di rumah, Ya Rasulullah.” Sayidina Ali iba. Lalu Rasulullah menjawab, “Tidak. Ini adalah haknya Ummu Salamah, aku harus datang kepadanya. Ini adalah tugas dan perintah Dzat yang Maha Segala-galanya. Siapakah aku dibanding Dzat yang Maha Agung dan Maha Luhur?” Fadlan yang mendengar itu langsung menangis tak sanggup menahan air matanya.

Sesampainya di rumah Ummu Salamah, istri-istri Nabi yang lain sudah memenuhi rumah tersebut. Di sana terdapat Hafsah, Maimunah, Zainab binti Jahas, hingga Aisyah pun ada. Ummu Salamah yang melihat keadaan Nabi langsung menangis. Sayidina Ali yang sebenarnya tegar juga tak kuat untuk menahan derasan air mata.

Ummu Salamah pun berkata, “Ya Rasulullah, tidak sepantasnya kau menyiksa dirimu seperti ini hanya karena aku? Aku malu di hadapan Allah. Demi Allah, aku rela tidak didatangi sebagai istrimu pada waktu gilirku.”

(Zihni Maurizio/Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU