Pasar Waqiah: Pergantian Tahun Menunjukkan Kedekatan Hari Kiamat

Pasar Waqiah: Pergantian Tahun Menunjukkan Kedekatan Hari Kiamat

Kajian Pasar Waqiah | 21 Juni 2025

Oleh Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag.

annur2.net – Ada cerita tentang seseorang yang berada di tengah hutan. Ia sedang menikmati pemandangan di sana. Banyak pohon, angin semilir, dan bermacam-macam suara di sana. Sampai beberapa waktu ia bingung mengapa di belakangnya ada suara yang mencurigakan. Saat ia menoleh ke belakang ternyata ada harimau.

Orang itu pun berlari sekuat tenaga sedangkan harimau itu mengejarnya. Ternyata larinya kurang cepat sehingga harimau semakin menyusul dan dekat. Ketika sangat dekat, orang itu menemukan sumur di depannya dan melompat ke dalamnya. Ia melompat sambil memegang tali yang menggantung di tengah sumur sehingga tidak sampai ke dasarnya.

Tapi dalam keheningan di dalam sumur, ada suara mencurigakan lagi. Setelah ia mengeceknya ternyata di bawahnya ada ular yang bersarang di sana. Ia kembali bingung. Jika ia naik, harimau akan memangsanya, tapi kalau turun ular akan membunuhnya. Akhirnya ia memilih untuk tetap berpegangan erat sambil menggantung di tali itu.

Masalah pun datang lagi. Ada dua tikus berwarna putih dan hitam yang ikut bergantung di tali. Tikus itu menggerogoti tali tersebut sehingga ia tidak bisa membiarkannya. Ia pun menggoyangkan tali itu supaya tikus lari. Tapi tikus itu tetap di sana. Kemudian ia memegang tali dengan satu tangan dan tangan lainnya menempel tembok untuk membuat goyangan yang lebih besar.

Tetapi tangannya yang menempel dinding sumur merasakan cairan dingin. Lalu ia mencicipinya. Rasanya dingin dan manis seperti madu. Ia menikmatinya karena lelah setelah harimau mengejarnya. Namun ia melupakan tujuan awal menempelkan tangan ke dinding sumur.

Saat ingat, ia melihat ke arah tikus di atasnya. Ternyata tikus itu sudah menggerogoti tali hampir putus. Melihat itu, orang itu panik dan menggoyangkan talinya. Namun bukan tikus yang pergi malah orang itu jatuh ke dasar sumur. Ular yang bersarang di sana pun membunuhnya.

Perumpamaan Cerita Orang yang Berada di Hutan

Cerita tersebut merupakan sebuah perumpamaan. Orang yang ada di hutan tersebut ialah perumpamaan manusia. Harimau adalah perumpamaan dari kematian. Sumur ialah perumpamaan kehidupan. Ular itu perumpamaan azab kubur. Tikus perumpamaan dari siang dan malam. Madu mengumpamakan harta yang melalaikan kita. Sedangkan tali adalah perumpamaan usia kita.

Jangankan pergantian tahun, pergantian siang dan malam merupakan tanda kebesaran Allah Swt. Sebagaimana firman-Nya dalam ayat berikut.


إِنَّ فِي اخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَّقُونَ

“Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Yunus: 6)

Allah telah menjalankan hari yang menjadi pertanda hari akhir yang semakin dekat. Selain itu, pergantian hari adalah perwujudan dari pergantian periode manusia. Setiap hari ada manusia yang mati, maka hari juga berganti. Hasan Al-Bashri berkata, “Wahai keturunan Adam! Tidak lain kalian adalah sejumlah hari. Apabila satu sudah lewat, berarti sebagian dari kita sudah lewat (mati).”

Pergantian Tahun Pengingat Terhadap Waktu

Pergantian tahun seperti ini mengingatkan kita terhadap waktu. Allah banyak bersumpah dengan waktu. Seperti pada surah Al-Dluha, Al-Ashr, dan sebagainya. Waktu sangat berhubungan dengan keberuntungan dan kerugian seseorang. Dalam surah Al-‘Ashr, Allah menjelaskannya.

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

“(1) Demi masa. (2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, (3) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Orang yang beruntung adalah orang yang beriman. Lalu orang yang beramal saleh, orang yang berpesan dengan kebenaran dan kesabaran. Kalau tidak melakukan itu, maka orang itu benar-benar rugi karena menghabiskan waktunya tanpa mendapatkan hasil tersebut.

Misalnya orang yang tidak beriman yang banyak melakukan amal baik, ia tidak akan masuk surga karena ia belum daftar. Ada orang yang banyak uang dan ingin mengikuti rekreasi tapi tidak mendaftarkan diri, maka orang itu tidak akan bisa menikmati kesenangan itu.

Hari Kiamat sebagai Hari Kerugian

Orang-orang yang melakukan hal-hal dalam surah Al-‘Ashr akan merugi. Tidak berhenti di situ, mereka akan merasakan kerugian dan penyesalan itu pada hari kiamat. Dalam surah At-Taghabun ayat 9 Allah berfirman:

يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ۖ ذَٰلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِ ۗ …

“(Ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan. …” (QS. At-Taghabun: 9)

Dalam ayat tersebut, hari kiamat disebut juga taghabun (kerugian). Dalam kitab Adlwa’ul Bayan fi idlahil Qur’an bil Qur’an terdapat penjelasan setiap orang memiliki dua jatah tempat di akhirat: surga dan neraka. Jika ia masuk surga, maka tiketnya ke neraka akan menganggur. Maka tiket tersebut akan diberikan kepada orang kafir. Begitu juga sebaliknya. Ketika dia masuk neraka, maka tike surganya diberikan kepada orang yang Islam yang masuk surga.

Dari sini terdapat perbedaan jelas antara orang-orang yang beruntung dan merugi. Oleh karena itu saat itu mereka menyesal. Penduduk neraka menyesal bahkan penduduk surga juga begitu. Rasulullah saw., bersabda:

لَيْسَ يَتَحَسَّرُ أَهْلُ الْجَنَّةِ إِلَّا عَلَى سَاعَةٍ مَرَّتْ بِهِمْ لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ فِيهَا

“Tidaklah penduduk surga menyesal kecuali menyesal atas waktu yang terlewati semasa di dunia tanpa mereka gunakan untuk berzikir kepada Allah.”

Empat Pertanyaan saat Hari Kiamat

Nabi saw., bersabda, “Tidaklah tergelincir kaki manusia di hari kiamat kecuali ditanyai empat soal: umurnya, mereka menggunakannya untuk apa; waktu mudanya, untuk apa; hartanya, dari mana ia mendapatkannya dan membelanjakannya untuk apa saja.” (HR. Thabrani dari kitab Mu’jam Al-Kabir)

Tidak ada harta yang baik jika tidak mereka gunakan untuk hal yang baik. Maka dari itu di dalam Al-Quran, harta disebut khair. Sebaik-baik harta adalah milik orang-orang yang baik. Begitu juga sebaliknya.

Ada seseorang yang berkata kepada rasul, “Ya Rasulullah! Hartaku, hartaku, hartaku.” Lalu nabi bersabda, “Hartamu hanya ada tiga: apa yang kamu makan nanti akan menjadi kotoran, pakaianmu yang akan usang, dan harta yang kamu infakkan. Itu adalah harta yang kamu miliki. Selain tiga harta tersebut adalah milik orang lain.”

Maka dari itu, kalau ada orang yang menabung sangat banyak, harta itu bukan miliknya. Bisa jadi saat sudah terkumpul banyak, orang itu akan mati. Maka semua yang kita miliki adalah titipan. Ketika lahir tidak punya apa-apa dan ketika mati tidak membawa apa-apa. Jadi wajar jika suatu saat nanti Pemiliknya akan mengambilnya.

Oleh karena itu kita tidak boleh sombong. Semestinya kita hidup seperti tukang parkir. Mereka pasti senang ketika ada kendaraan yang datang maupun pergi karena mereka tidak merasa memiliki. Tukang parkir tahu bahwa tugasnya hanya menjaga kendaraan titipan orang-orang. Begitu juga kita dalam menanggapi harta.

Semakin Mendekati Hari Kiamat

Pergantian akhir tahun mengingatkan kedekatan hari kiamat. Nabi pernah bersabda mengenai tanda hari kiamat, “Kiamat tidak akan terjadi sampai fitnah semakin tampak, kedustaan semakin merebak, pasar-pasar berdekatan dan zaman (waktu) semakin berdekatan (terasa cepat).” HR. Ahmad.

Sekarang kita sudah kesulitan untuk membedakan mana yang benar dan salah. Terlebih lagi sekarang ada AI atau kecerdasan buatan yang bisa membuat kebohongan. Misalnya deepfake atau pengganti wajah, dan sebaginya.

Selain itu, semakin akhir zaman, banyak toko berdekatan. Pasar juga berdekatan. Bisa jadi desa sudah memiliki pasar. Bahkan setiap orang bisa jadi berjualan karena tidak perlu bangunan untuk membuka toko. Misalnya toko online. Waktu yang semakin cepat juga menjadi tanda dekatnya akhir zaman.

Doa Akhir Tahun Bukan dari Nabi, Bukan Berarti Tidak Boleh Kita Baca

Para ulama mengajari kita untuk membaca doa akhir tahun. Doa ini bukan dari Nabi karena pada zaman itu belum ada istilah akhir dan awal tahun. Pada saat itu, tahun disandarkan kepada sesuatu, misalnya Tahun Gajah.

Hingga zaman Sayidina Umar, beliau memiliki banyak tumpukan surat. Di situ ada tanggal dan bulan tapi tidak terdapat tahun. Sayidina Umar pun bingung tahun yang mana. Akhirnya Sayidina Umar bermusyawarah dengan para sahabat untuk menentukan tahun.

Ada sahabat yang mengusulkan memulai tahun pada saat Nabi lahir. Ada juga yang mengusulkan saat Nabi wafat. Namun opsi ini bisa menjadikan seseorang sedih mengingat Nabi telah wafat. Ada pula yang mengusulkan awal tahun adalah hijrah Nabi. Ini adalah opsi yang mereka setujui.

Setelah itu, Sayidina Umar dan para sahabat memusyawarahkan bulan mana yang pertama dan terakhir. Singkatnya, mereka menyetujui bulan terakhir adalah Zulhijjah karena pada bulan itu terdapat haji. Haji merupakan rukun terakhir agama Islam. Akhirnya Muharam adalah bulan pertama karena niat Nabi hijrah pada bulan ini.

Maka nama bulan dan tanggal sudah ada sejak dahulu. Hanya urutannya dan angka tahun yang belum ada. Maka kalau ada hadis yang menunjukkan sunah membaca akhir tahun itu palsu karena pada zaman Nabi belum ada tahun.

Meski begitu, bukan berarti tidak boleh membaca doa akhir tahun. Sebagaimana zikir, doa seperti ini tetap boleh kita baca untuk mengharapkan fadilah darinya. Membaca doa akhir tahun supaya mendapatkan husnul khotimah. Selain itu, ada juga doa awal tahun agar mudah dalam berbuat kebaikan selama setahun ke depan.

(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU