Kajian Tafsir: Propaganda Perpecahan Umat Nabi Musa oleh Musa As-Samiri

Kajian Tafsir: Propaganda Perpecahan Umat Nabi Musa oleh Musa As-Samiri

annur2.net– Setelah selamat dari kejaran Firaun, Nabi Musa harus menghadapi berbagai hal. Terjadi sebuah insiden yang membuatnya berang pada Nabi Harun. Lantaran umatnya terpecah menjadi dua golongan saat ia bersemedi di Gunung Tur seraya menunggu turunnya kitab suci Taurat.

Sebelum itu, Allah hanya memerintahkan selama 30 hari saja. Nabi Musa bersama 70 orang lainnya meninggalkan umatnya untuk bersemedi, bahkan sampai 40 hari. Selama itu, ia tidak makan minum serta tidur.

Puasa yang ia lakukan membuat mulutnya berbau tidak sedap. Sayangnya ia menghilangkannya di hari finalisasi saat akan menghadap Allah. Ternyata yang ia lakukan malah mengundang teguran sebab Allah lebih suka bau mulut orang yang berpuasa. Sebagai sanksinya, ia harus bersemedi selama 10 hari lagi sebab perbuatannya sendiri.

Bertambahnya hari tersebut berdampak pada kaumnya. Mereka bingung kemana nabinya pergi. Sudah 30 hari menunggu tapi tak kunjung kembali.

Saat itu, seorang provokator muncul dan menyesatkan sebagian kaum Nabi Musa. Ia memprovokasi bahwa Nabi Musa tidak akan datang lagi sebab mereka telah berbuat dosa dengan emas yang mereka miliki.

Konon emas itu adalah harta pinjaman dari kaum Firaun yang belum sempat mereka kembalikan. Ada juga yang mengatakan, mereka memperolehnya dari bala tentara Firaun yang hanyut termakan ombak laut.

Lalu provokator tersebut membuat sebuah lubang yang nantinya ia gunakan untuk mengumpulkan emas-emas yang mereka miliki. Kemudian ia membakar semua emas dan membentuknya menjadi sapi utuh.

Setelah itu ia memasukkan debu bekas tapak kaki kuda Malaikat Jibril pada mulut dan hidung patung sapi tersebut. Sebuah keajaiban terjadi, sapi itu hidup dan mengeluarkan suara. Provokator tersebut bernama Musa As-Samiri.

Biografi Singkat Musa As-Samiri

Musa As-Samiri, nama lengkapnya Musa bin Dzafar. Ia adalah anak hasil zina. Lahir semasa dengan Nabi Musa yang membuat ibunya khawatir sehingga menelantarkannya di sebuah gunung.

Ibunya sudah tidak lagi kembali menemuinya. Ia hidup sendiri di gunung tersebut hingga Malaikat Jibril turun dan merawatnya. Setiap hari Malaikat Jibril mengisi kebutuhan nutrisinya dengan susu, madu, dan mentega yang mengucur dari tiga jemari tangannya.

Ia semakin tumbuh besar hingga Malaikat Jibril tidak lagi mengurusnya. Malaikat Jibril selalu mengendarai kuda saat menemuinya yang tanah bekas pijakan kakinya akan muncul tumbuhan hijau. 

Suatu saat ia memberi debu bekas pijakan kaki kuda tersebut pada sebuah bangkai. Tak disangka bangkai tadi dapat hidup kembali. Kejadian itu membuat Musa As-Samiri menyimpan debu dari tanah tapak kaki kuda Malaikat Jibril. Debu ini lah yang kelak ia gunakan untuk menghidupkan patung sapi emas.

Di bawah pengasuhan langsung, Malaikat Jibril tidak menentukan Musa As-Samiri bertakwa. Ia malah menjadi penghancur keimanan kaum Nabi Musa. Hal ini telah Allah sampaikan dalam Firman-Nya dalam surah Thaha ayat 85:

قَالَ فَاِنَّا قَدْ فَتَنَّا قَوْمَكَ مِنْۢ بَعْدِكَ وَاَضَلَّهُمُ السَّامِرِيُّ ۝٨٥

“Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Kami benar-benar telah menguji kaummu setelah engkau tinggalkan dan Samiri telah menyesatkan mereka.” 

Propaganda Kesesatan Musa As-Samiri dan Kemarahan Nabi Musa

Seusai berhasil menghidupkan patung sapi emas, Musa As-Samiri membuat propaganda kesesatan pada kaum Nabi Musa. Sebagian dari mereka terpengaruh dengan omongannya yang sesat lagi menyesatkan.

Ia mengakatakan kepada orang-orang di sana bahwa Nabi Musa telah tersesat dalam mencari Tuhan. Padahal Tuhan sesungguhnya adalah patung sapi yang hidup tersebut. Begitulah katanya kepada kaum Nabi Musa.

Enam ratus dua puluh ribu total kaum Nabi Musa yang selamat dari kejaran Firaun. Sedangkan enam ratus delapan ribu mempercayai kesesatan Musa As-samiri, tinggal dua belas ribu yang masih berpegang teguh dengan ajaran Nabi Musa.

Tak lama dari peristiwa itu Nabi Musa datang menemui kaumnya. Amat terkejutnya Nabi Musa melihat kekacaun yang terjadi selama ia tinggal hingga membuatnya marah besar terutama pada saudaranya, Nabi Harun. Di dalam Al-Qur’an Allah menjelaskan pada surah Thaha ayat 86:

فَرَجَعَ مُوْسٰٓى اِلٰى قَوْمِهٖ غَضْبَانَ اَسِفًا ەۚ قَالَ يٰقَوْمِ اَلَمْ يَعِدْكُمْ رَبُّكُمْ وَعْدًا حَسَنًا ەۗ اَفَطَالَ عَلَيْكُمُ الْعَهْدُ اَمْ اَرَدْتُّمْ اَنْ يَّحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ فَاَخْلَفْتُمْ مَّوْعِدِيْ ۝٨٦

“Lalu, Musa kembali kepada kaumnya dalam keadaan marah lagi sedih. Dia berkata, “Wahai kaumku, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Apakah masa perjanjian itu terlalu lama bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan Tuhan menimpamu sehingga kamu melanggar perjanjian denganku?”

Sebagian kaumnya yang membangkang malah membela perbuatannya sendiri. Mereka memang merasa bersalah telah menyimpan emas sebagaimana hasutan Musa As-Samiri. Begitu juga dengan Musa As-Samiri yang tidak merasa salah atas apa yang telah ia lakukan. Sebagaimana terusan ayat di atas:

قَالُوْا مَآ اَخْلَفْنَا مَوْعِدَكَ بِمَلْكِنَا وَلٰكِنَّا حُمِّلْنَآ اَوْزَارًا مِّنْ زِيْنَةِ الْقَوْمِ فَقَذَفْنٰهَا فَكَذٰلِكَ اَلْقَى السَّامِرِيُّۙ ۝٨٧ فَاَخْرَجَ لَهُمْ عِجْلًا جَسَدًا لَّهٗ خُوَارٌ فَقَالُوْا هٰذَآ اِلٰهُكُمْ وَاِلٰهُ مُوْسٰى ەۙ فَنَسِيَۗ ۝٨٨

“Mereka berkata, “Kami tidak melanggar perjanjian (dengan)-mu atas kemauan kami sendiri. Akan tetapi, kami harus membawa beban berat berupa perhiasan kaum (Fir‘aun) itu. Kami kemudian melemparkannya (ke dalam perapian) dan demikian pula Samiri melemparkannya. (87)  kemudian dia (Samiri) mengeluarkan untuk mereka patung berwujud anak sapi yang bersuara. Mereka lalu berkata, “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi dia (Musa) telah lupa (bahwa Tuhannya di sini).” (88)

Nabi Musa Marah kepada Nabi Harun

Sudah tak sanggup lagi mengajak kaumnya ke jalan yang benar, Nabi Musa mendatangi saudaranya, Nabi Harun. Ia bertanya pada saudaranya mengapa hanya diam saat melihat kemungkaran. Sebab marahnya pula hingga sempat menarik janggut dan rambut Nabi Harun. Kejadian itu Allah rekam pada surah Thaha ayat 95:

قَالَ يَبْنَؤُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِيْ وَلَا بِرَأْسِيْۚ اِنِّيْ خَشِيْتُ اَنْ تَقُوْلَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِيْ ۝٩٤

“Dia (Harun) menjawab, “Wahai putra ibuku, janganlah engkau tarik janggutku dan jangan (pula engkau jambak rambut) kepalaku. Sesungguhnya aku khawatir engkau akan berkata (kepadaku), ‘Engkau telah memecah belah Bani Israil dan tidak memelihara amanatku.’”

Pada akhirnya Nabi Musa mendatangi Musa As-Samiri. Ia sangat ingin membunuh Musa As-Samiri tapi Allah berkehendak lain. Allah melarang membunuhnya namun cukup Nabi Musa mengusir dari kehidupan kaumnya dan melarang menyentuhnya, sebab orang yang menyentuh atau tersentuh olehnya akan demam.  Hingga akhir hayatnya ia mengucilkan diri dan hidup di dalam hutan.

Nabi Musa lalu menyembelih patung sapi yang Musa As-Samiri hidupkan. Setelah itu ia menabur-naburkan abunya ke laut lepas.

(Ahmad Basunjaya I.K.F./Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU