Kajian Bidayah Al-Hidayah: Ketetapan Allah dan Nikmat Surga
Pengajian Ahad Legi | 4 Mei 2025
Oleh: Kiai Zainuddin Badruddin, M.M.
annur2.net – Allah Swt., telah menetapkan semua yang ada di dunia. Maka kita harus tenang dan selalu berdoa agar rida atas semua itu. Rida kepada ketetapan Allah merupakan derajat yang mulia. Terkadang kita malah terpaksa untuk rida.
Ada sebuah cerita tentang seorang bapak yang memiliki enam anak. Lima anak di antaranya sangat pintar, sedangkan satu sisanya kebalikannya. Bapak tersebut mengeluh kepada seorang kiai karena satu anaknya tidak sama dengan kakak-kakaknya.
Akhirnya Kiai itu menjawab dengan tenang bahwa karunia anak yang berbeda merupakan anugerah dari Allah agar senantiasa bersyukur dan mengingat-Nya. Seandainya Allah menjadikan enam anak itu pintar, bisa jadi sang bapak angkuh dan mengakui bahwa keberhasilan anak-anaknya adalah karena usahanya sendiri.
Maka dari itu, Allah memberikan satu anak yang berkebalikan dari lima saudaranya supaya orangtuanya senantiasa ingat dan bersyukur kepada-Nya. Usaha tidak lepas dari kehendak Allah Swt.
Nikmat Surga yang Tak Terkira
Nadzar ila wajh Al-Karim (memandang Allah Yang Maha Mulia) adalah nikmat surga yang paling besar. Nikmat dapat melihat Allah secara langsung menjadi nikmat paling tinggi. Di dalam kitab I’anah At-Thalibin, ahli surga dengan nikmat tertinggi itu bisa memandang Allah siang dan malam, pagi dan malam.
Nikmat kedua adalah bisa bersama Nabi Muhamamd saw., di surga. Kemudian nikmat ketiga yakni bisa mendengar lantunan bacaan Nabi Daud as. Menurut kisah, ketika Nabi Daud bersenandung, burung yang terbang di atasnya akan berhenti untuk mendengar suaranya yang sangat merdu.
Sedangkan nikmat surga paling rendah adalah bidadari-bidadari nan cantik dan nikmat lainnya. Berdasarkan surah Al-Waqiah, para penduduk surga akan mendapatkan bidadari-bidadari yang cantik, buah-buahan yang tidak akan habis, anak-anak kecil pelayan, tidak pernah sakit, dan sebagainya. Mereka di surga juga saling berkunjung dan bercakap-cakap sebagaimana di dunia.
Maka nikmat yang Allah berikan sangat tidak terkira. Nikmat terendahnya pun mendapat 70 bidadari. Bagi kita, itu adalah nikmat yang sangat besar. Apalagi nikmat tertinggi yaitu bisa memandang Allah secara langsung di surga. Semoga kita bisa menjadi ahli surga. Aamiin.
(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)