Meriahkan Rajab dengan Musabaqah Isra Mikraj

Meriahkan Rajab dengan Musabaqah Isra Mikraj

Seorang santri yang terlihat gagah dengan jas hitamnya menghadap juri untuk membacakan puisinya. Puisi tersebut mengisahkan tentang perjuangan Nabi Muhammad saw. Ia membacakan puisinya dengan lantang dan berani, hingga semua orang di sana dapat merasakan makna yang amat dalam dari puisi tersebut.

Perlombaan membaca puisi merupakan salah satu ajang yang ada pada Musabaqah Isra Mikraj. Acara ini bertujuan untuk memeriahkan malam Isra Mikraj sekaligus mewujudkan visi-misi pondok pesantren dengan mencetak generasi sholihin-sholihat selanjutnya. Babak penyisihan terselenggara pada pagi hingga siang hari Kamis (08/02/2024), kemudian acara puncaknya ada pada malam harinya.

Selain perlombaan membaca puisi, adapula beberapa perlombaan lainnya, seperti: hadrah, MQK (Musabaqah Qiraah Al-Kutub), khitobah, kaligrafi, juga menghafal kitab Lamiyah. Dalam masing-masing lomba terdapat persaingan yang ketat.

Dalam perlombaan hadrah, masing-masing grup dapat bernyanyi selama tujuh menit. Apabila melebihi, maka akan mendapat pengurangan nilai. Sedangkan dalam perlombaan khitobah dan puisi, peserta dapat bebas membacakan puisi atau isi khitobah mereka tanpa batasan waktu.

Kemudian dalam perlombaan MQK, terdapat dua kitab yang diujikan. Kitab Safinah An-Najah untuk santri diniah tingkat wustho. Sedangkan santri diniah ulya menggunakan kitab Fath Al-Qorib.

Jika dalam perlombaan hadrah, puisi, dan khitobah terlihat sangat meriah, maka tidak dengan MQK dan menghafal Lamiyah. Suasana dalam kedua perlombaan ini sangat menegangkan. “Aku asline ndredeg pas jurine takok (Aslinya saya deg-degan saat jurinya mulai bertanya).” Ujar salah seorang peserta bernama Sulthoni Nur Faizin, santri kelas 4 diniah ulya.

Sedangkan dalam perlombaan kaligrafi, tidak ada suara yang terdengar sama sekali, hanya ada suara gesekan pensil dengan kertas atau suara kuas yang tercelup ke dalam cat air. Semua peserta tengah berkonsentrasi untuk membuat sebuah karya kaligrafi yang dapat membuat juri tercengang.

Perjuangan Panitia dan Kesan Peserta

“Sebelum dipanggil biasa saja, kami juga percaya diri akan menang. Tapi pas sudah maju itu malu sama deg-degan.” Ujar salah seorang peserta lomba hadrah. “Tapi pas udah maju rasanya lega.” Tambahnya. “Yah, selama lomba ini fun-fun ajah gak ada apa-apa. Semoga bisa lebih baik kedepannya.”

“Kendala kami kurang persiapan, sama adanya miscom. (salah komunikasi), saat acara berlangsung.” Ucap Hasbi Aiman Dermawan sang ketua pelaksana. “Untuk ke depannya, semoga kami bisa membuat lomba yang tingkatnya jauh lebih tinggi, atau lomba eksternal.” Tambahnya.

(Farkhan Wildana S./Mediatech An-Nur II)


Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU