[polor_menu]
[polor_menu]

SD Nuris Pacitan: Memperkenalkan Anak Ke Pondok Pesantren

SD Nurul Islam Pacitan: Memperkenalkan Anak Ke Pondok Pesantren

“Saya ucapkan selamat datang kepada panjenengan semuanya,” salam sambutan pengasuh Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” Dr. KH. Fathul Bari., S.S., M.Ag., kepada rombongan dari SD Nurul Islam (Nuris) Pacitan. Para guru dan siswa-siswi kelas 5-6 berniat sowan kepada pengasuh Pondok An-Nur II dan studi tur.

Rombongan tersebut tiba di Pondok Pesantren An-Nur II dengan menaiki dua bis sekitar pukul 04.20 subuh. Mereka pun langsung menuju Pendopo Al-Badari lantai dua dan melaksanakan salat Subuh. Kemudian mereka beristirahat sambil menunggu Kiai Fathul Bari.

Mencetak Murid Masuk ke Pondok Pesantren

Beberapa waktu setelah itu, Kiai Fathul Bari memasuki ruangan. Kemudian beliau membuka sesi acara lalu penyampaian sambutan dari Kepala Sekolah SD Nurul Islam Bapak Mohammad Khoirul Anwar. Ia berharap, “Semoga sowan kita di Pondok Pesantren An-Nur II menika (tersebut) membawa keberkahan dan kemanfaatan fi ad-dunya wal al-akhirah (di dunia dan akhirat).”

Dalam sambutan itu, Bapak Khoirul mengungkapkan kekagumannya saat memasuki Pondok An-Nur II. “Estu pas kula ningali, ndahne ten Pacitan, Nuris, dados ngeten niki (benar-benar ketika saya melihat, seandainya di Pacitan, Nuris (Nurul Islam) jadi seperti ini),” ucapnya. Itu adalah mimpi mereka.

Lalu Bapak Khoirul menyampaikan, “Konsep kami untuk mencetak lare-lare (anak-anak) lulusan Pacitan, Nurul Islam, yang melanjutkan ke pondok pesantren.” Ia mengatakan bahwa mondok menjadi momok bagi anak-anak. Maka dari itu, SD Nurul Islam mengajarkan Ahlus Sunnah wal Jamaah dan ziarah kepada para wali.

Jangan Takut Mondok

Setelah penyampaian sambutan, Kiai Fathul Bari menyampaikan tausiah dan nasihat. Beliau berkata, “Jangan takut jadi santri, bahkan menjadi santri itu suatu anugerah karena tidak semua anak bisa menjadi santri.” Selain itu, menjadi santri juga menjadi salah satu jalan untuk membantu orangtua dengan belajar dan mendoakan mereka dari pondok pesantren.

Kiai Fathul Bari juga mengatakan, “Jangan takut ketika kamu mondok karena dengan mondok, jalan kesuksesan akan terbuka lebar.” Beliau mencontohkan Dr. K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai santri yang bisa menjadi presiden, Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si., santri yang menjadi gubernur Jawa Timur, dan sebagainya.

Selanjutnya, Kiai Fathul Bari menambahi, “Maka tatkala suatu ketika kamu dipondokkan sama orangtua, maka jangan takut, tapi harus bangga.” Ketika orangtua memondokkan anaknya berarti mereka memperlakukan anaknya seperti anak presiden dan gubernur sebagaimana yang beliau contohkan.

Beliau juga menyampaikan keuntungan mondok lainnya. “Tatkala kamu tidak mondok, teman-temanmu hanya satu desa. Tapi ketika kamu mondok, temanmu tidak hanya satu desa, satu provinsi, tapi satu Indonesia.” Beliau menjelaskan, semakin banyak teman semakin besar pula peluang kesuksesan karena ketika pergi ke mana pun, pasti akan bertemu teman di sana.

Selain itu, santri memiliki lebih banyak waktu bersama teman di pondok pesantren. Sedangkan ketika di rumah, hanya beberapa waktu saja. “Tatkala kamu mondok, kamu punya teman dekat, waktu bersama teman tidak hanya satu atau dua jam, tapi 24 jam.” Di akhir tausiah, Kiai Fathul Bari mengatakan, “Beruntunglah orangtua kalian memondokkan kalian berarti kasih sayang orangtua kalian tidak sebatas di dunia tapi juga di akhirat.”

Ketika penyampaian mauizah selesai, Kiai Fathul Bari membacakan doa penutup. Berlanjut ke pemberian cendera mata dan foto bersama. Lalu, rombongan berkeliling Pondok Pesantren An-Nur II menaiki mobil golf.

(Riki Mahendra Nur C/Mediatech An-Nur II)

Artikel Terbaru

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

@2026 | Yayasan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”Zeldrex