Kiai Nidhom juga beberapa masayikh lainnya, tengah duduk sembari berbincang-bincang hangat. Di hadapannya puluhan santri serta pengurus sedang menunggu mulainya acara yang mereka tunggu-tunggu.
Senin malam, 11 September 2023, acara pembukaan LBM gabungan An-Nur II yang bertempat di Masjid An-Nur II. Acara mulai pada jam 20.00. Seperti biasa, pembacaan surah Al-Fatihah menjadi pembuka acara ini.
Kemudian terdapat sambutan dari Kiai A. Ibrahim Zainul Akbar. Beliau menyampaikan bahwasanya tujuan dari adanya Lembaga LBM ini adalah agar santri bisa paham dan memahamkan polemik yang sering terjadi pada lingkungan masyarakat. Beliau juga sempat bercerita dan menyampaikan beberapa dawuh dari gurunya, yang salah satunya berbunyi seperti ini, “Ganok wong alim seng keleleran (gak ada orang alim yang gagal).”
Runtutan acara selanjutnya ialah pembacaan mukadimah kitab Fath Al-Qorib oleh Ustaz Muhibul Kirom. Lalu terdapat pula penyampaian sistematika LBM gabungan An-Nur II oleh Kiai Nidhom sendiri. Beliau juga menyampaikan betapa keramatnya kitab Fath Al-Qorib, juga tata cara bagaimana agar kita bisa mudah memahami kitab tersebut. Agar suasana tidak terlalu tegang, Kiai Nidhom sering kali bergurau, juga disusul dengan gelak tawa para santri yang turut hadir.
Rencananya LBM ini akan terlaksana sekiranya 2 minggu sekali, setiap senin malam. Nantinya semua santri boleh ikut. Di setiap kelasnya wajib ada minimal 2 delegasi, agar santri yang paham tentang musyawarah tidak hanya dari satu kelas, melainkan dari semua kelas yang ada di Pondok Pesantren An-Nur II ini.
Acara-pun berakhir dengan pertanyaan tentang sistematika LBM, serta pembacaan doa oleh seluruh santri serta pengurus yang hadir di sana. Semuanya pun kembali ke kamar masing-masing setelah melakukan pendataan oleh panitia.
Alasan Fath Al-Qorib sebagai Pokok Pembahasan
Seperti yang telah Kiai Nidhom sampaikan, kitab ini sangatlah populer. Hampir seluruh pondok pesantren memakai kitab ini sebagai dasar pembelajaran ilmu fikih. Saking populernya pula sampai ada unen-unen, “Kalau gak kenal kitab ini berarti bukan santri.”
Kiai Nidhom juga mengatakan bahwa kitab ini merupakan kitab yang sangat keramat karena walaupun banyak pondok pesantren yang mengkaji kitab ini, tapi pembahasan tentang soal-soal yang ada tidak pernah tuntas 100%, mungkin hanya khatam saja. Bahkan saking keramatnya kitab ini, ada satu tarekat yang mewajibkan umatnya untuk membacanya setiap hari.
Kiai Nidhom juga sempat menyinggung penulis matan dari kitab ini, yakni Syekh Abu Suja’. Beliau merupakan seorang ulama yang sangat kaya, bahkan beliau punya sepuluh pegawai khusus untuk menyedekahkan uangnya setiap hari.
Pesan Kesan Santri tentang LBM Gabungan An-Nur II
“Saya sendiri sangat menyayangkan, mengapa adanya LBM ini baru sekarang, kenapa tidak dari dahulu saja sudah ada?” Ujar Zidan salah satu peserta dan merupakan santri dari kamar Wali Songo. “Tapi ya sudah, karena sudah ada semoga LBM ini bisa terus berkembang, dan semoga LBM ini bisa semakin maju.” Tambahnya. “Kalau saya sih, turut senang ya dengan adanya LBM gabungan ini. Ya harapannya juga LBM gabungan ini bisa berjalan terus.” Ujar Jaya, salah seorang peserta yang lain.
Panitia pula turut senang dengan terlaksananya acara ini, “Ya saya juga turut senang karena acara berjalan dengan lancar, walaupun sempat ada beberapa kendala.” Ia juga sempat memaparkan tujuan dari adanya LBM gabungan ini, “Sebenarnya adanya LBM ini untuk melatih SDM pondok pesantren agar lebih mahir dalam musyawarah, dan juga agar pondok pesantren ini bisa ikut musyawarah-musyawarah yang diadakan di pondok-pondok besar.”
(Farkhan Wildana S./Mediatech)