[polor_menu]
[polor_menu]

Kajian Tafsir: Pesan Tersirat dalam Surat Yusuf

Kajian Tafsir: Pesan Tersirat dalam Surat Yusuf

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”

(Q.S. Yusuf: 111)

***

Kutipan di atas merupakan ayat terakhir dalam surat Yusuf. Pada ayat terakhir tersebut, Allah menjelaskan bahwa kisah-kisah para nabi dan rasul adalah kisah nyata, termasuk kisah Nabi Yusuf yang mendominasi pada surat tersebut.

Terdapat berbagai pelajaran dalam kisah Nabi Yusuf. Banyak hal yang terjadi kepadanya dari masa kecil hingga beranjak dewasa. Beliau mendapat banyak cobaan pada masa kecilnya. Di antaranya bibinya memfitnahnya dan para saudaranya membuangnya ke sumur hingga terpisah dari keluarga. Tak berhenti di situ, musafir menjualnya setelah menemukannya. Hal yang sama terulang kembali saat dewasa, sosok perempuan bernama Zulaikha memfitnahnya dan membuatnya terkurung dalam penjara.

Namun walau banyak penderitaan yang beliau terima, semua itu tak membuat imannya goyah. Nabi tertampan ini masih bertawakal kepada Allah Swt. dan mengharap pertolongan-Nya. Dalam kepedihan, beliau tetap menjalani hidupnya dan berpegangan kepada Sang Rahman.

Tak lama dalam penjara, raja memanggil Nabi Yusuf a.s. untuk menafsirkan mimpinya. Nabi Yusuf pun bisa menafsirkan mimpi sang raja. Setelah menafsirkannya, raja mengangkatnya menjadi menteri negara. Pada titik inilah Nabi Yusuf mendapatkan kebahagiaan setelah kepedihan melandanya. Beberapa tahun setelahnya, putra Nabi Yakub a.s. ini bertemu dengan ayahnya kembali.

Pesan Tersirat dalam Kisah Nabi Yusuf

Ada banyak pesan tersirat di dalam kisah Nabi Yusuf a.s. Salah satu pesannya adalah sebagai orang beriman tidak boleh putus asa walaupun saudara membenci. Segala musibah yang ada merupakan cobaan dari Sang Maha Kuasa yang merupakan bentuk kasih sayang terhadap hamba-Nya.

Pun tak perlu bingung karena terjebak dalam dilema jika salah satu pilihannya merupakan kemaksiatan. Pilihlah opsi yang sama sekali tidak mengandung kemaksiatan di dalamnya. Memang menahan nafsu itu berat. Naluri selalu merengek untuk melakukan kenikmatan bagaimanapun caranya. Namun, tak menutup kemungkinan untuk kita bisa mengendalikannya, membelokkannya ke arah kebenaran walaupun harus berakhir di penjara.

Kita juga tetap mendapatkan tuntutan untuk berdakwah di mana pun dan kapan pun. Orang-orang yang kurang mengerti agama sangat memerlukan dakwah. Jangan hanya karena berada di penjara, kita berhenti berdakwah. Jangan juga karena bukan hari besar. 

Pada dasarnya, seorang mukmin tidak boleh putus asa dan harus selalu bertawakal kepada Allah. Kendalikanlah hawa nafsu, kuasai dia, agar kita mencapai keselamatan juga kebahagiaan. Berdakwahlah tanpa mengenal waktu dan tempat karena masyarakat membutuhkannya.

(Moch. Athoillahil Qodri/Mediatech An-Nur II)

Artikel Terbaru

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

@2026 | Yayasan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”Zeldrex