Kajian Tafsir: Nabi juga Manusia Biasa
“Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya?”
***
Awalnya para sahabat menganggap bahwa Nabi Muhammad saw. adalah malaikat, mengapa? Bagi mereka, Nabi ialah orang yang sangat sempurna. Orang-orang kafir pula merendahkan Nabi Muhammad saw. karena mereka beranggapan seharusnya Nabi itu manusia super bukan orang biasa. Bahkan Allah Swt pun berfirman,
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ… (110)
Artinya, “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa. …” (Q.S. Al-Kahfi: 110)
Imam Bukhari menerangkan dalam salah satu riwayatnya bahwa suatu malam Nabi Muhammad saw. tertidur hingga terdengar dengkurannya. Hal ini membuktikan bahwa Nabi juga manusia, perlu makan dan minum, juga menikah seperti halnya manusia pada umumnya.
Berikut syair yang menerangkan bahwa nabi juga sama seperti manusia lainnya, tapi beliau lebih spesial,
مُحَمَّدٌ بَشَرٌ لَا كَالْبَشَرِ :: بَلْ هُوَ كَالْيَاقُوتِ بَيْنَ الْحَجَرِ
Artinya, “Nabi Muhammad saw. adalah manusia biasa, namun bukan seperti manusia biasa lainnya, karena Ia bagaikan batu mulia merah Ruby (merah delima) dibanding sembarang batu lainnya.”
Syair di atas menjelaskan bahwa Nabi juga sama seperti manusia lainnya, tapi Beliau lebih spesial dari mereka. Selain itu, Beliau lebih mulia dan jauh dari kata maksiat, tidak seperti manusia pada umumnya.
Hikmah Nabi ialah Manusia Biasa
Status nabi sebagai manusia biasa menambahkan kemuliaan nabi, mengapa? Jika anggapan makhluk paling taat ialah malaikat, hal ini memang benar tapi malaikat tidak punya hawa nafsu. Jadi wajar mereka tidak melakukan kemaksiatan. Manusia punya yang namanya hawa nafsu, jadi mereka berkemungkinan untuk melakukan maksiat. Tetapi manusia memiliki kekuatan untuk menahan hawa nafsunya. Maka dari itu status nabi sebagai manusia biasa menambah kemuliannya.
Bukti lainnya, ada dalam sebuah kisah orang Badui (suku pedalaman Arab). Suatu ketika orang Badui tersebut mendatangi kediaman Nabi Muhammad saw. Orang itu sangat gemetaran saat ingin menemui Nabi karena melihat Beliau sangat berwibawa. Pada saat Nabi datang, Beliau bersabda yang artinya demikian, “Aku bukanlah raja, aku juga bukan malaikat. Aku anak dari orang yang memakan daging.” Bukti lain pula ialah kewafatan Nabi. Sebagaimana manusia, Nabi meninggal dunia saat ajal tiba. Sedangkan malaikat tidak akan wafat sampai hari kiamat.
Ada sebuah kisah, pada saat kabar Nabi wafat tersebar, semua orang bingung, “Apakah Nabi benar-benar bisa wafat?” Bahkan pada saat tersebarnya berita menyedihkan tersebut, Sayidina Umar bin Khattab berkeliling sambil membawa sebilah pedang dan berkata, “Barang siapa yang mengatakan Nabi sudah wafat, maka akan aku tebas lehernya.” Beliau mengucapkan demikian karena beliau begitu dekat dengan Nabi, sampai-sampai ia melihat bahwa Nabi ialah orang yang sangat mulia, dan tidak mungkin wafat. Padahal faktanya Nabi juga manusia biasa.
Nabi ialah Manusia Biasa, tapi bukan Orang Badui (Suku Pedalaman Arab)
Seperti pada Q.S. Yusuf: 109, nabi ialah seorang laki-laki yang menerima wahyu dan mereka ialah penduduk negeri bukan orang Badui, mengapa begitu? Karena orang Badui kebanyakan budi pekertinya kurang baik dan agak kasar. Sedangkan penduduk negeri akhlaknya masih lebih baik daripada orang Badui. Maka dari itu Allah Swt. mengutus nabi dari golongan penduduk negeri.
(Farkhan Wildana S/Mediatech An-Nur II)