Kisah dan Kesan Santri Baru
“Berangkat dari jalan tol dari jam 8 lebih, datang jam 10 lebih,” ucap Adam. “Itu sambil ngebut itu kalo gak salah,” tambahnya. Adam Muhammad Ishaq, salah satu santri SMA baru di Ponpes Wisata yang bersal dari Kenjeran, Surabaya. Ia berangkat dari Surabaya menuju Malang melewati jalan tol dan memakan waktu sekitar dua jam.
Setibanya di Ponpes An-Nur II, ia langsung ke kantor untuk mengawali alur PSB (Penerimaan Santri Baru). Sehabis itu, ia langsung menuju ke pendopo dan raudah Al-Maghfurlah KH. Badruddin Anwar, pengasuh pertama.
Saat ia berada di pendopo, ia mendapat nasihat dari Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., pengasuh umum pondok. “Krasan gak krasan, kudu krasan,” (betah atau gak, harus kerasan) itulah nasihat beliau kepada Adam saat ia berada di pendopo bersama dengan orang tuanya.
Saat pertama kali datang, Adam mengaku bahwa Ponpes An-Nur II terbilang bagus. “Pas mau daftar ke sini ambil formulir (pondok ini) bagus kok,” uangkapnya. “Apalagi kantornya,” ia menambahkan.
Hari pertama ia mondok, Adam mengaku sudah mengetahui dan merasa terbiasa dengan kegiatan di pondok pesantren. “Gak kaget kok,” terangnya. “Soalnya aku (dulu) mengaji di TPQ berbasis pondok, jadinya udah tahu,” tambahnya. Hanya saja ia masih gugup dengan teman-temannya, “Cuma masih gugup.”
Santri baru asal Surabaya ini juga mengatakan bahwa ia mondok atas keinginannya sendiri. Ia mengaku bahwa ia ingin menjauhkan diri dari handphone. “Udah keinginan untuk ninggalin HP.” Ia juga mengatakan agar ia tak seperti kakaknya yang tercemar oleh kenakalan remaja. Maka ia berharap, dengan mondok, ia bisa terhindar dari kenakalan remaja
Kisah Santri SMP Baru
Ada juga Royyan Bastanu, alias Royyan merupakan santri SMP baru yang berasal dari Surabaya. Meski dari Kota Pahlawan, ia tidak berangkat dari sana, tapi dari Bululawang. Sebab sebelumnya, ia menginap di rumah ayahnya yang asli Bululawang.
Perjalanannya menuju Ponpes An-Nur memakan waktu sekitar setengah jam. “Berangkat tadi jam 9, sampai di sini 9.30.” Ia juga mengatakan bahwa saat perjalanan sempat macet, lantaran adanya kecelakaan. “Perjalanan agak macet karena ada kecelakaan mobil,” imbuhnya.
Saat di pendopo, Royyan juga mendapat nasihat dari KH. Fathul. “Cuman dipeseni ‘Lek nuntut ilmu kudu krasan. Lek nuntut ilmu iku kabeh seneng: Nabi seneng, Allah seneng. Seng gak seneng setan (Kalau menuntut ilmu, harus kerasan. Kalau menuntut ilmu, semua orang suka: Nabi suka, Allah juga suka),” katanya. “Intinya supaya santri kerasan lah” Ia menambahkan.
Setelah Royyan ke pendopo dan raudah, ia langsung menuju asramanya. Karena orang tuanya akan meninggalkannya, ia mengaku agak gundah. “Ya, cukup sedih sih” ungkapnya sambil tersenyum. “Tapi di sini banyak teman, jadi gak papa,” tambahnya.
Ia mondok bukan dari hasratnya sendiri, melainkan tawaran dari ayahnya. “Aku ditawari sama ayahku, mau (mondok) apa enggak, kalau gak ya, sudah,” ungkapnya. Royyan pun mengiyakan tawaran ayahnya, dan akhirnya ia mondok di Ponpes An-Nur II.
(Moch. Athoillahil Qodri/Mediatech)