Malam Iduladha Ada GTA di An-Nur II
Malam itu air gerimis berjatuhan, membuat tanah menjadi licin. Meski dalam keadaan seperti itu, santri-santri Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” (Pesantren Wisata) tetap dengan semangat berkeliling mengumandangkan takbir.
Para santri berkumpul di lapangan timur milik SMP An-Nur. Di sana merupakan tempat start untuk pawai takbiran ini. Tempat itu juga yang akan menjadi titik kembali.
Acara bertajuk GTA (Gema Takbir An-Nur II ) berlangsung di malam Hari Raya Iduladha, 28 Juni 2023. Panitia dari acara ini merupakan mahasantri STIKK (Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning). Acara berlangsung sukses tapi ada yang di luar rencana, gerimis.
Bakda isya santri-santri mulai bepergian ke lapangan timur. Sebab gerimis, mereka berpencar mencari tempat yang teduh. Namun, ketika MC mulai berada di panggung, para santri dengan cepat berkumpul sesuai kelompoknya di lapangan tanpa pelindung.
Dua mahasantri ke panggung sebagai MC. Mereka membuka acara hari ini juga untuk memberitahukan jargon wajib untuk perlombaan kali ini. Jika MC meneriakkan, “GTA” semua santri harus menjawab, “Gema Takbir An-Nur II”.
Setelah pembukaan dari pemandu acara, Kiai Zainuddin naik ke atas panggung. Beliau menyemangati para santri yang sekarang sedang kehujanan. Juga menyemangati para santri dalam belajar di pondok pesantren.
Kemudian MC akan memanggil kelompok secara sistematis satu per satu untuk melakukan pawai takbiran malam Iduladha ini. Sebelum berangkat, pemandu acara akan menanyai jargon kelompok tersebut. Juga mereka akan menanyai kesiapan mulai dari perkusi hingga lampu-lampu kecil.
Salah satu dari tiap kelompok akan maju ke panggung sebelum berangkat keliling. Anak yang yang menjadi perwakilan tiap kelompok bertugas untuk memimpin jargon. Kelompoknya yang berada di bawah akan merespon temannya itu dan menyemangati.
Ketika para santri berkeliling, mereka akan menyerukan takbir. Mereka juga sempat menyelipkan jargon wajib dan jargon milik kelompok masing-masing. Bukan hanya itu, mereka sesekali akan menyanyikan lagu yang mereka punya.
Selain mulut mereka yang bergerak, tangan mereka melambai-lambai dengan lampu di dalam genggaman. Pawai takbir ini hanya mengitari daerah pondok saja, tidak sampai keluar dari pesantren.
Santri-santri akan kembali ke tempat awal, di lapangan timur. Di tempat ini juga, para juri akan menilai dan mengumumkan pemenang.
Setelah mereka kembali, mereka harus mengumpulkan patung kambing dan sapi yang mereka bawa saat pawai untuk penilaian. Ada kelompok yang membuat patung, ada yang membuat miniatur masjid, ada juga miniatur Kakbah.
Lalu, panitia akan mengumumkan kelompok dengan perkusi terbaik untuk menampilkan performa mereka. Setiap kelompok harus menyertakan tiga unsur saat performa. Satu, takbiran. Dua, jargon wajib. Tiga, jargon dan lagu masing-masing.
Selain penampilan perkusi, acara GTA ini menyuguhkan koreografi bersama. Mahasantri akan menyanyikan mars An-Nur dan para santri melambaikan tangannya yang membawa lampu-lampu kecil berwarna kuning dengan kompak.
Selesainya semua penampilan, juri akan mengumumkan para pemenang. Kemudian para santri boleh untuk kembali menuju kamarnya masing-masing. Bersamaan dengan kembalinya santri, intensitas air hujan meningkat.
(Ahmad Firman Ghani Maulana/Mediatech)