Santri Bela Negara dan Peran Mereka dalam Sejarah

Santri Bela Negara dan Peran Mereka dalam Sejarah

Konsep “Santri Bela Negara” sebenarnya sudah pernah ditemukan dahulu sekali, jauh sebelum negara ini dikenal dengan sebutan Indonesia. Pada saat itu, kalangan pesantren terlibat aktif dalam perlawanan yang dilakukan di tiap daerah. 

Bukan hanya aktif dalam melakukan perlawanan, kalangan pesantren juga aktif dalam memberikan bantuan logistik, menyediakan pesantren sebagai markas para pejuang, hingga memberi pelatihan kemiliteran kepada para santrinya supaya bisa memberikan bantuan kepada para pejuang.

Setelah Indonesia mengalami Era Politik Etis sekitar tahun 1900-an, bentuk perjuangan rakyat tidak lagi berupa perlawanan fisik. Perlawanan terhadap Belanda kini berubah bentuk menjadi perang pemikiran. Bukan hanya itu, perlawanan terhadap penjajah yang sebelumnya bersifat ke daerah kini berubah menjadi bersifat nasional. Masing-masing daerah menyadari, jika ingin mengusir Belanda, kekuatan daerah tidak akan sanggup. Mereka pun menyatukan kekuatan dan berkonsolidasi dalam gerakan nasional.

Munculnya gerakan-gerakan bersifat nasional dan berubahnya bentuk perlawanan menjadi perang pemikiran membuat kalangan pesantren ikut mengubah taktik mereka. Mereka mengikuti beberapa organisasi yang ada, ikut menyumbangkan pemikiran mereka. Bahkan ada di antara mereka yang mendirikan organisasi sendiri, seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Tak lama kemudian, Indonesia pun mendapatkan kemerdekaannya. Tapi kesenangan itu tidak berlangsung lama. Tak berlangsung lama dari mundurnya pasukan Jepang dari seluruh bumi pertiwi, datanglah pasukan Inggris yang membawa pasukan Belanda di dalamnya. Kedatangan mereka sebenarnya hanya ingin membawa tahanan Belanda yang ditawan oleh Jepang. 

Namun, rakyat pada saat itu sudah menaruh curiga. Sekali lagi, rakyat mengangkat senjata untuk mengusir Belanda dan Inggris, melalui Palagan Ambarawa, Bandung Lautan Api, Pertempuran Lima Hari di Semarang, hingga Pertempuran Surabaya.

Sekali lagi, kalangan pesantren mengambil peranan penting. Melalui Revolusi Jihad yang difatwakan oleh KH. Hasyim Asy’ari, para santri berkumpul dari setiap daerah yang ada. Ikut berjuang dan bergerilya di setiap pertempuran yang dilakukan oleh TKR (Tentara Keamanan Rakyat).

Dari semua itu, mustahil sejarah bisa mengabaikan peran santri dalam kemerdekaan Indonesia. Peran mereka tergores begitu jelas dalam catatan sejarah. Sehingga akan salah rasanya kalau ada yang mengatakan bahwa kalangan pesantren tidak memiliki andil apa-apa.

Delapan dekade berlalu, setelah kemerdekaan negara ini, perjuangan itu belumlah usai. Nyatanya, adanya globalisasi membawa beberapa efek ke dalam Indonesia. Tersebarnya berita luar dan hampir tidak tersaring, membuat banyak dari rakyat yang terpapar ideologi yang tidak sesuai dengan Pancasila. Seiring dengan itu, muncullah beberapa gerakan radikalisme dan separatisme yang mengancam kedaulatan negara.

Melihat ancaman itu, santri kembali ke medan perangnya. Mengambil peran yang sebelumnya telah diwariskan kepada mereka. Apalagi kalau bukan berjuang melawan gerakan radikalisme.

Mungkin terlihat terlalu percaya diri. Akan tetapi, kalangan pesantren sangatlah pantas untuk mengambil peran itu. Mereka telah dididik dengan pendidikan agama yang kuat dan mendalam. Sehingga ajaran bahwa “mencintai tanah air itu adalah sebagian dari iman” begitu mengakar kuat dalam sanubari mereka. 

Selain itu, dengan pemahaman agama yang begitu kuat, mereka memahami bahwa agama itu bukanlah sesuatu yang kaku, melainkan santun, moderat, dan cinta damai. Berlawanan dengan paham radikalisme yang cenderung kaku dan terasa angkuh.

Dengan pemahaman agama yang kuat, santri sudah menjadi “musuh” alami radikalisme. Tambahkan dengan situasi saat ini di mana para santri sudah mengambil kursi dalam politik negara. Tentu menggerakkan kebijakan pemerintahan kini bukan hal yang mustahil bagi kalangan pesantren. Dengan itu, pemerintah dan pesantren bisa saling membantu dalam melawan radikalisme.

Kiranya konsep “Santri Bela Negara” merupakan konsep yang sudah terlalu matang untuk dibahas. Sehingga sudah bukan waktunya untuk membahas apa peran santri dalam membela tanah air ini. Begitu banyak bukti seperti yang telah dijelaskan di atas. Justru apa yang paling kita butuhkan saat ini adalah jawaban atas apa yang harus dilakukan setelah ini?

(Nabil Abdullah Alghifari/Lingkar Pesantren)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU