[polor_menu]
[polor_menu]

<strong><em>Qona’ah</em> dan Cara Menghadapi Dunia</strong>

Merasa Cukup dan Cara Menghadapi Dunia

“Siapa yang mencari hal yang tidak penting bagi dirinya, niscaya ia akan kehilangan sesuatu yang berharga baginya.” (Ali bin Abi Thalib)

Dalam menghadapi dunia yang penuh persaingan ini, rasa-rasanya kita perlu menenangkan diri sejenak. Sering-sering mengumpulkan tenaga untuk bekerja. Lalu, lanjut kembali agar bisa mengumpulkan kekayaan di hari tua.

Rutinitas semacam itu mungkin wajar terjadi di zaman akhir ini. Mengutip ramalan Jayabaya, “Siapa yang tidak ikutan gila, tidak akan kebagian (lek ora edan, ora keduman).” Agaknya itu lumayan relevan dengan apa yang terjadi di abad ini.

Sayangnya, di tengah hiruk pikuk itu, terkadang kita merasa lelah, baik raga maupun secara batin. Lelah raga karena badan yang kurang istirahat akibat bekerja terus menerus. Lelah batin sebab kondisi mental akibat hasil pekerjaan yang kurang memuaskan yang berkelanjutan.

Perasaan lelah itu juga muncul bersama dengan rasa kecewa. Kecewa karena hasil yang keluar tidak memuaskan batin. Kecewa karena keringat yang keluar tidak sebanding dengan apa yang didapatkan. Tak jarang, kekecewaan itu berakhir dengan suuzan kepada Sang Pencipta.

Sebaliknya, ketika kekayaan itu datang, tak jarang banyak yang mengabaikannya. Ia terus menimbunnya. Terus mencari sumber uang lainnya. Bahkan, menghalalkan segala cara untuk mencapainya.

Ketika sedikit, tidak terima. Akan tetapi, ketika berkelimpahan justru terasa kurang. Miskin terasa menyesakkan. Kaya terasa membosankan.

Mungkin itulah gambaran yang Nabi ungkapkan dalam hadisnya,

أخبرنا أبو العباس محمد بن يعقوب الأصم حدثنا الربيع بن سليمان حدثنا أسد بن موسى حدثنا أبو بكر الداهري حدثنا ثور بن يزيد عن خالد بن مهاجر عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ابن آدم عندك ما يكفيك وأنت تطلب ما يطغيك ابن آدم لا بقليل تقنع ولا من كثير تشبع إذا أصبحت معافى في جسمك آمنا في سربك عندك قوت يومك فعلى الدنيا العفاء.

“Hai Anak Adam, apa yang berada di sampingmu itu sebenarnya sudah cukup untuk kehidupanmu. Akan tetapi, kau selalu mengejar sesuatu yang memaksamu berbuat kezaliman. Ketika nikmat itu sedikit, kau tidak mau menerimanya, tapi ketika nikmat itu banyak, kau merasa kurang. Seharusnya, ketika kau bangun dengan tubuh yang sehat, keadaan yang aman, dan makanan untuk seharian sudah tersedia, maka dunia seolah-olah sudah rusak di hadapanmu.”

Pada dasarnya, semua kebutuhan itu sudah terpenuhi. Allah telah memberikan apa yang kita butuhkan untuk hidup. Sayangnya, banyak yang merasa kurang. Sebagian lagi tidak terima.

Seharusnya, ketika merasa cukup dengan sesuatu yang sedikit atau hal yang kecil, bukankah itu sudah menjadi sebuah kenikmatan? Ketika makanan sudah tersedia, pakaian sudah ada, tempat tinggal masih layak, apa perlu mencari nikmat lainnya? Bukankah yang terpenting perut terisi makanan, tubuh tertutup pakaian, dan badan terasa aman dari sengatan matahari ataupun derasnya hujan?

(Nabil Abdullah Alghifari/Lingkar Pesantren)

Artikel Terbaru

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

@2026 | Yayasan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”Zeldrex