Pengajian Ahad Legi: Daya Tarik Ilmu dan Majelis Ilmu

Dalam acara Pengajian Ahad Legi terakhir, 6 November 2022, sebelum libur pondok tiba, Ustaz Khoiruddin, Lc., hadir di Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” untuk menyampaikan mauizah hasanah kepada jemaah pengajian.

Di awal penyampaiannya, Ustaz Khoiruddin menyampaikan ucapan Habib Sholeh bahwasanya, “Kalau kita ini besok di hari kiamat, nggak dihiraukan oleh Allah iku ono pantese (itu ada pantasnya). Cuma kalau kita ingin dihiraukan, seringlah mencari majelisnya Kanjeng Nabi.”

Ucapan tersebut menunjukkan bahwa majelis Kanjeng Nabi itu istimewa. Apalagi kalau dalam majelis tersebut terdapat tawasul kepada Habib Abdullah bin Alawi Al-Hadad, akan tambah berkah. “Kalau ada majelis dibacakan ratib Al-Haddad, berkat berkahe Habib Abdullah bin Alawi Al-Hadad, berkah iku majelise.”

Majelis Kanjeng Nabi adalah majelis (pengajian) yang di dalamnya membahas sifat dan kebiasaan Nabi, serta perkara halal dan haram. Sehingga orang yang berada di majelis ini beruntung. Bagaimana tidak? Beliau menukil ucapan gurunya, Habib Zain bin Ibrahim bin Smith yang mengambil dari kitab Manhaj As-Sawi bahwasanya Imam Ka’bul Akhbar mengatakan, “Seandainya pahala mencari ilmu ditampakkan kepada manusia, pasti orang itu akan rebutan hadir ke majelis ini.”

Imam Ka’bul Akhbar juga menambahkan, “Pemerintah lek eroh pahalane ngaji, ditinggal iku (Pemerintah kalau mengetahui pahala mengaji, ditinggal pemerintahannya itu).” Bahkan kalau ulama berdoa tidak pernah meminta menjadi orang kaya, tapi meminta hal yang Nabi Muhammad SAW minta setiap usai salat Subuh yaitu, “Robbi zidniilman (Ya Tuhan, tambahkan ilmu kepadaku).

Ada sebuah kisah yang menceritakan seorang anak perempuan yang hafal kitab Al-Jurumiyah, kitab nahwu dasar. Saat menuju roudloh Nabi, ia membaca kitab Al-Jurumiyah tersebut padahal yang lain membaca bacaan yang memuji Rasulullah. Singkat cerita, saat kembali ke hotel, anak tersebut demam tinggi dan mengigau membaca kitab Al-Jurumiyah. Ternyata, Nabi Muhammad SAW memintanya untuk membacakan kitab itu lagi.

Keistimewaan Para Pengamal Ilmu

Ustaz Khoiruddin, Lc. menyampaikan mauizah saat pengajian Ahad Legi

Memiliki dan mengamalkan ilmu tentu saja merupakan hal yang berat, sehingga para pelakunya pasti memiliki keistimewaan tersendiri, berkah dari ilmu tersebut.

Ustaz Khoiruddin mengatakan, “Dadi wong alim iku luar biasa (Menjadi orang alim itu luar biasa).” Akan tetapi ada yang lebih luar biasa yaitu yang mengamalkan ilmunya. Itulah tujuan seseorang mencari ilmu. Hal tersebut karena sudah banyak orang yang berilmu, tetapi yang mengamalkannya tidak seberapa.

Beliau juga mengatakan, “Ilmu tok, teori tok, kabeh entos (Ilmu saja, teori saja, semua bisa). Tapi amal belum tentu.” Mengenai hal itu, ada hadis yang menerangkan tersebut. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Orang yang mempunyai ilmu bisa binasa kecuali yang mengamalkannya.” Contohnya orang yang mengingatkan temannya untuk tidak berbicara saat pengajian. Namun, dia berisik dengan yang lain. “Amal ini lebih berat, hadirin,” tegas beliau.

Setelah itu, beliau menyampaikan hal yang penting ketika mencari ilmu dalam majelis ilmu. “Pertama, niatkan dakwah!” ucap beliau. Bahkan dakwah adalah amal yang paling Nabi cintai. Sahabat Nabi saja berjumlah 124.000, tetapi yang bermakam di Baqi hanya sepuluh ribu saja. Yang lainnya dakwah ke berbagai penjuru.

Maka dari itu, dakwah itu harus memiliki landasan yang kuat, yaitu niat untuk Allah dan Rasulullah. Bukan berharap menjadi orang yang terkenal. Habib Umar bin Hafidz berkata, “Ada orang yang dakwah terkenal di dunia maya, tapi tidak terkenal di langit. Ada yang terkenal di langit, tapi tidak terkenal di mata manusia.” Maka lebih baik terkenal di langit daripada di kalangan manusia. Sekarang kita bisa menggunakan media sosial sebagai media dakwah, tapi tidak boleh berlebihan.

Selanjutnya Ustaz Khoiruddin mengatakan,  “Kedua, kita niatkan dengan ilmu dan kita mengamalkan ilmunya ini untuk memuliakan orang lain dan menghinakan diri kita.” Hal ini sesuai dengan kata pepatah bahwa orang semakin lama semakin merunduk seperti padi. Jangan sampai bangga karena pujian orang alim.

Terkadang orang yang tidak tercium tangannya oleh orang lain (saat sungkem), dia merasa kesal. Orang seperti ini berarti sakit, sebagaimana ucapan guru beliau, Habib Jamal, “Orang dicium tangannya itu biasa, tapi orang yang minta dicium tangannya itu berarti sakit.” Sama halnya dengan seseorang yang duduk di depan (panggung) itu biasa, tapi kalau minta duduk di depan berarti orang tersebut sakit.

Dalam kitab Al-Anwar karangan Abdul Wahab Asy-Sya’roni, terdapat penjelasan bahwa ada satu adab jikalau seseorang bertemu dengan teman sekamarnya dulu, jangan mengatakan hal buruknya. Berati dia ingin mulia di hadapan teman yang lain. Begitu pun kalau berbeda tahun ajaran, jangan sampai merasa lebih tinggi. Tapi katakan, “Ini temanku.” Jangan sampai merasa ingin mulia daripada orang lain.

Bahkan ada sebuah kitab akhlak yang menerangkan apabila ada pertanyaan, “Apakah kamu sudah salat?” Maka jangan menjawab, “Sudah.” Akan tetapi menjawab dengan ucapan, “Taqabbalallah (Semoga Allah menerimanya).”

Dari semua penjelasan tersebut, kita bisa menyimpulkan tiga poin: Pertama, mencari majelis Nabi Muhammad SAW supaya beliau mencari kita di hari kiamat nanti; Kedua, majelis maulid memang bagus, tapi Nabi lebih mencintai majelis ilmu, dan; Ketiga, ketika sudah memiliki ilmu, maka kita amalkan. Triknya ada dua: niat dakwah dan memuliakan orang lain serta menghinakan diri sendiri.

0341-833235 (kantor pondok)

+62 852-3644-6126 (humas pondok)

+62 813-3476-9069 (humas pondok khusus untuk kunjungan)

No. Rek. BNI a/n An Nur 2: 4321-1979-02

(Riki Mahendra Nur C/Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU