Sabtu, 8 Oktober 2022, sembilan anggota Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) dan PPKSI (Pusat Pengembangan Kampung SDGs Indonesia) melakukan observasi dan diskusi terkait potensi Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” sebagai Pesantren SDGs. Salah satu mereka adalah Manajer Pilar Pembangunan Ekonomi Bapak Setyo Budiantoro.
Tujuan mereka mengunjungi An-Nur II adalah untuk berdiskusi mengenai lingkungan dan ekspansi yang ada di pondok ini. Mulai dari penghijauan, air, pengelolaan sampah, luas lahan, dan lain-lain. Mereka bilang, Pondok An-Nur II memenuhi beberapa kriteria SDGs (Sustainable Development Goals) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang berjumlah 17.
Mengenai SDGs sendiri adalah, “suatu upaya yang dilakukan oleh seluruh dunia. Prinsipnya bagaimana kita mengupayakan supaya pembangunan ini bisa memenuhi kebutuhan pada saat sekarang juga masa depan,” jelas Bapak Budi.
Observasi Potensi Untuk Referensi

“Kalau kita lihat di sini tentu soal pendidikan (gol 4) tentu ya. Kemudian terkait gol 12 tadi, kemudian terkait soal watering and sanitation (air bersih dan sanitasi). Juga terkait gol 8, gol delapan ini juga banyak menyerap tenaga kerja sebenarnya, dari luar atau di dalam. Kemudian terkait soal tanaman-tanaman, pohon-pohon itu terkait dengan perubahan iklim (gol 13),” ucap Bapak Budi.
Beliau menjelaskan bahwa An-Nur II memiliki total santri sebanyak 7000 santri. Mestinya tidak mudah untuk mengelola air bersih dan perekonomian pondok. Namun nyatanya, tidak ada masalah dalam hal tersebut. Bahkan An-Nur II ini memiliki sumber mata air sendiri, yaitu Sumber Manten yang berada di belakang Rumah Makan Arofah.
Begitu juga terkait perekonomian pondok terutama dalam hal pembagian jatah makan kepada para santri, An-Nur II dapat mengelolanya dengan baik. Kemudian mengenai pengelolaan penghijauan yang ada di An-Nur II juga menjadi perhatian bagi mereka. Akan tetapi, ada hal yang menjadi fokus observasi ke An-Nur II.
“Terutama sebenarnya kami di sini itu salah satu fokusnya itu melihat soal pengolahan sampah,” jelas Manajer tersebut. Beliau mengatakan bahwa kapasitas sampah yang ada di An-Nur II pasti akan menumpuk karena banyaknya santri sebagai konsumen. Sehingga mereka ingin mengetahui bagaimana An-Nur II mengolah sampah-sampah tersebut.
Maka dari itu, tim Bappenas dan PPKSI mengunjungi lokasi pengolahan sampah An-Nur II bersama Ustaz Farkhi dan Ustaz Fahmi. Sesampainya di sana, Ustaz Road sebagai kepala kebersihan pondok pesantren menjelaskan kepada mereka terkait pengolahan sampah di An-Nur II. Mulai dari pemilahan sampah sesuai jenisnya, penghancuran menggunakan air, pengeringan, hingga menjadi bahan daur ulang, seperti biji plastik.
Setelah melihat tempat pengolahan sampah, tim Bappenas dan PPKSI mengunjungi Sumber Manten. Di sana mereka mendapati sumber mata air yang sangat jernih. Bahkan Bapak Budi meminum air dari Sumber Manten itu.
Usai berkeliling, mereka pun kembali ke gedung kantor pusat untuk istirahat dan ramah-tamah.
Rekomendasi Pengembangan Potensi

“Oleh karena itu, kami terus terang mau belajar,” ungkap Manajer tersebut. Mereka ingin mempelajari bagaimana An-Nur II dapat mengelola semua itu. Sebab dengan lahan yang sangat luas dan santri yang amat banyak, mengelola sumber daya itu bukanlah hal yang mudah. Selain untuk belajar, Bapak Budi juga mengungkapkan bahwa Pondok An-Nur II ini patut untuk menjadi referensi bagi pondok-pondok lainnya.
“Pondok An-Nur II ini sangat baik untuk menjadi referensi yang seperti saya sampaikan tadi. Soal pengelolaan sampah, kemudian green (penghijauan) sangat hijau, dan kemudian juga terkait soal pemanfaatan air,” ungkap beliau.
Setelah melakukan diskusi dan berkeliling, akhirnya tim Bappenas dan PPKSI menemukan banyak potensi sumber daya yang ada di An-Nur II. Bapak Budi mengatakan, Pondok An-Nur II ini masih bisa untuk memanfaatkan sumber daya yang terbatas supaya bermanfaat di masa mendatang.
“Kalau terus terang dari apa yang saya lihat potensinya masih sangat banyak,” ucap beliau. “Jadi sumber daya yang makin terbatas itu tetap bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan kita di masa depan,” ungkapan beliau lainnya. Selain untuk masa depan, An-Nur II juga memiliki potensi untuk saling berkontribusi dengan masyarakat sekitar.
Beliau menyarankan agar An-Nur II memperoleh sumber daya terutama perekonomian tidak hanya dari pasar saja. Melainkan juga dari masyarakat karena permintaan pondok ini sangatlah besar. “Daripada kita membeli ke pasar tapi kita bisa mengembangkan kampung-kampung. Tapi nggak harus semuanya sehingga mereka bisa produksi dan kemudian kita bisa beli,” jelas beliau.
Begitu pun terkait wisata. Hal tersebut juga berpotensi membantu masyarakat sekitar karena butuhnya terhadap pasar yang besar. Apalagi jika kapasitas pondok semakin besar tentunya pariwisata An-Nur II juga semakin besar dan dapat berguna bagi orang-orang yang berkunjung. Bahkan mereka bisa mempelajari hal-hal yang ada di Pondok An-Nur II ini.
“Bagusnya kalau wisata yang dari luar itu kemudian orang akan belajar tentang hal-hal yang baik di sini,” ungkap Manajer. “Kalau orang belajar hanya dari buku, melihat, mengalami itu kan beda.”
(Riki Mahendra Nur C/Mediatech)