Bumi itu Bulat atau Datar? Ini Penjelasannya!

Bumi itu Bulat atau Datar?

Planet ini memiliki kehidupan di dalamnya. Banyak sekali spesies makhluk hidup yang ada di sana. Udara dan air serta tanah melengkapi alur kehidupan. Planet berada di urutan ketiga dari Matahari setelah Merkurius dan Venus dan memiliki luar permukaan sebesar 510.100.000 km persegi. Dia juga memiliki satu satelit alam yaitu Bulan. Apalagi kalau bukan Bumi.

Bumi adalah planet yang paling istimewa di alam semesta dengan alasan di atas. Namun, meski ada keistimewaan, ada saja yang masih menjadi perdebatan. Salah satunya, apakah Bumi itu bulat atau datar? Apa penjelasannya? Padahal sudah ada bukti potret Bumi dari luar angkasa. Jelas berbentuk bulat. Mengapa masih belum percaya?

Sebenarnya perdebatan ini sudah ada sejak dulu, bahkan sebelum tahun Masehi. Ada yang menganggap bentuk Bumi itu bulat seperti Plato (427 – 327 SM) dan Aristoteles (384 – 322 SM). Ada juga yang bicara bahwa Bumi itu datar seperti Hecataeus (550 – 476 SM) dan Thales (626 – 548 SM). Hingga sekarang perkara ini masih menjadi permasalahan. Lebih baik kita bahas saja.

Menurut Akal, Bagaimana?

Pertama, dari sisi pergerakan Matahari. Jika kita lihat, Matahari terbit di timur dan tenggelam di barat. Ukuran Matahari tetap sama. Itu menjadi bukti bahwa penglihatan kita ke Matahari seolah melengkung. Ibarat kita memegang bola dan meluruskan tangan kita ke kanan. Kemudian kita mengayunkan tangan ke kiri dari atas kepala. Coba lihat, garis orbitnya melengkung. Berarti Bumi maupun Matahari berbentuk bulat seperti bola.

Bukti yang kedua ini pasti banyak yang sudah tahu yaitu kapal yang berlayar. Saat kita berdiri di pelabuhan atau pantai, ketika ada kapal yang akan datang pasti belum kelihatan di ufuk. Namun, lama-kelamaan, layar kapal terlihat sedikit-sedikit, dari ujung atas hingga benderanya. Tak lama, badan kapal terlihat seluruhnya. Gambaran ini menunjukkan bahwa ada lengkungan yang berada jauh dari pandangan kita. Kemudian lengkungan itu terus memanjang dan membentuk bulat. Sudah jelas apa belum?

Ketiga, dengan bukti perjalanan Fernando de Magelhaens atau Ferdinand Magellan yang mengelilingi Bumi. Pada awalnya, ia berlayar ke satu arah yaitu ke barat dari Seville, Spanyol bersama sekawanannya. Setelah dua tahun berlayar, Ferdinand sampai di Filipina. Namun, penduduk di sana membunuhnya. Akhirnya ada salah satu temannya yang melanjutkan perjalanannya yaitu Juan Sebastian Elcano. Elcano berlayar selama tiga tahun dan sampai di Spanyol kembali. Ini membuktikan bahwa Bumi itu bulat. Mereka berangkat dari suatu tempat dan kembali ke tempat semula, padahal hannya satu arah. Apa masih kurang?

Keempatseorang astronot dari Uni Emirat Arab, Hazza Al-Mansouri telah menjelajah luar angkasa pada 2019 lalu. Setelah delapan hari di sana, dia mengumumkan bahwa Bumi itu memang bulat. Bersumber dari nu.or.id, ia berkata, “Alhamdulillah. (Bumi) Itu bulat. Saya telah melihatnya dengan mataku sehingga aku bisa mengatakan ini kepadamu sendiri.”

Bagaimana Al-Qur’an dan Ulama Menentukan Bumi Datar Atau Bulat?

Banyak surah dalam Al-Qur’an yang menjelaskan perkara tentang Bumi, tapi tidak mengatakan Bumi itu bulat. Namun, Al-Qur’an menujukkan dengan beberapa tanda bahwa Bumi itu bulat. Contoh saja dalam surah An-Naml ayat 88, “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ayat tersebut menyebutkan gunung-gunung berjalan sebagaimana awan berjalan. Berarti ini menunjukkan bahwa Bumi berotasi pada porosnya. Bahkan bukan gunung saja, melainkan benda-benda yang berada di Bumi ikut berputar pada porosnya seperti awan. Tapi karena Bumi itu sangat besar, kita tidak bisa merasakan perputarannya.

Pr. Dr. AG. KH. Muhammad Quraisy Shihab, Lc., M.A., juga pernah menyinggung hal ini dalam kanal Youtube Najwa Shihab. Beliau mengatakan bahwa firman Allah yang membahas penciptaan Bumi dalam Al-Qur’an ada dua kata yang mirip tapi berbeda makna yaitu menciptakan dan menjadikan.

Kata “menciptakan” berarti Allah membuat Bumi dari awal hingga jadi. Sesuai dalam surah Az-Zumar ayat 5, “Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Dalam ayat itu pula, adanya pembagian siang dan malam adalah karena bumi berotasi. Contoh di Indonesia siang tapi di sisi lain seperti Amerika masih gelap. Itu membuktikan kebulatan Bumi juga. Bahkan gerak semu tahunan matahari dari utara ke selatan kemudian kembali ke utara karena bumi berevolusi juga bisa menjadi bukti. Gerakan itu juga melengkung layaknya bola. Ini juga memperkuat bukti pertama di atas.

Adapun kata “menjadikan” terdapat dalam surah Nuh ayat 19, “Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan.” Kiai Quraisy Shihab mengatakan maksud dari ayat ini adalah Allah menjadikan Bumi menurut pandangan kita itu datar karena manusia yang sangat kecil sedangkan Bumi amat besar. Maka dari itu kita melihat seolah Bumi rata. Padahal aslinya bulat.

Disebutkan pula dalam kitab Nazhah Al-Musytaq karangan Abu Abdillah Muhammad Al-Idrisi (1100 – 1165 M) bahwa, “Bumi itu berbentuk bulat seperti bulatnya bola. Sedangkan air menempel tidak mengalir tumpah di atasnya dan secara alamiah tidak terpisah darinya. Bumi dan air merupakan sesuatu yang tetap di ufuk galaksi sebagaimana kuning telur dalam cangkang putihnya, meletakkan keduanya dalam tata letak yang seimbang, dan angin bertiup dari seluruh arah sudutnya.”

Jadi bagaimana? Apakah sudah cukup dengan bukti-bukti ini. Bumi memang bulat. Bumi berotasi. Yang bisa berotasi hanya benda yang berbentuk lingkaran atau bulat. Sudah jelas, kan? Kalau memang belum, bisa tulis di kolom komentar. Oke, terima kasih.

(Relaina/Lingkar Pesantren)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU