Kajian tafsir: Ketakutan Kaum Munafik dan Serba-Serbi Pembukuan Al-Qur’an

Kajian tafsir: Ketakutan Kaum Munafik dan Serba-Serbi Pembukuan Al-Qur’an

(127). Dan apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka memandang kepada yang lain (sambil berkata): “Adakah seorang dari (orang-orang muslimin) yang melihat kamu?” Sesudah itu merekapun pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti. (128). Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.

***

Dari kisah-kisah yang ada pada ayat-ayat sebelumnya, kaum muslimin mengetahui bahwa bisa jadi Allah membuka hijab. Sehingga tersingkap siapa saja yang benar-benar mukmin dan munafik.

Walaupun kaum muslimin tidak tahu, Allah akan memberitahukan nama-nama orang yang munafik kepada Nabi Muhammad SAW. Sehingga hal tersebut akan menjadi sebuah aib yang besar, yaitu terbongkarnya identitas status orang-orang munafik.

Saat ada surat yang turun, kaum munafik akan ketar-ketir, takut kalau Allah membongkar identitas mereka yang sebenarnya. Ketika Rasulullah menyampaikan ayat yang turun, dan ayat tersebut membahas kemunafikan, mereka yang munafik akan saling berpandangan, khawatir kalau Rasulullah akan menyebut nama mereka.

Dalam keadaan saling pandang mereka juga bertanya satu sama lain, “Apakah di antara muslimin ada yang melihat kalian?”. Mereka kemudian pergi meninggalkan perkumpulan tersebut, karena jika Rasulullah sampai menyebut nama mereka saat mereka ada di tempat perkumpulan, maka mereka akan merasa malu.

Mengapa mereka, kaum munafik, sampai melakukan hal yang demikian? Karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti kebenaran. Mengapa mereka tidak mengerti kebenaran? Karena mereka tidak mau mendalami makna-makna ayat Al-Qur’an.

Penulisan Ayat Al-Qur’an Di Zaman Nabi SAW

Pada zaman Nabi, saat ada ayat yang turun, beliau akan memerintahkan para sahabat untuk segera mendokumentasikan ayat tersebut. Karena Nabi memeruintahkan untuk segera menulis, dan harus di hadapan beliau, maka medianya pun seadanya, seperti tembok, kayu, batang pohon, dan lain sebagainya.

Dalam proses penulisannya, ada beberapa lafaz di dalam Al-Qur’an yang menyalahi kaidah penulisan seperti yang kita ketahui. Penulisan lafaz “Ash-Sholaatu” seperti yang kita ketahui penulisannya adalah الصلاة, namun dalam Al-Qur’an menggunakan lafaz الصلوة, begitupun lafaz “Az-Zakaatu” penulisannya dalam Al-Qur’an adalah الزكوة bukan الزكاة.

Pengumpulan Ayat-ayat dan Pembukuan Al-Qur’an

Pada zaman kekhalifahan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq terjadi Perang Yamamah, ada sekitar 70an penghafal Al-Qur’an yang syahid dalam perang ini. Melihat hal tersebut Sayyidina Umar khawatir, takut kalau banyak penghafal Al-Qur’an yang Syahid. Lalu kepada siapa para anak cucu kaum Muslimin kelak akan belajar Al-Qur’an, jika guru dan tulisannya tidak ada?

Dari sini lah ide Sayyidina Umar untuk membukukan Al-Qur’an muncul. Beliau kemudian menyampaikan idenya kepada Sayyidina Abu Bakar. Namun Sayyidina Abu Bakar menolak usulan tersebut. Beliu takut, karena semasa Nabi hidup tidak pernah ada kegiatan seperti ini. Beliau takut melakukan bidah.

Sayyidina Umar terus berusaha meyakinkan Sayyidina Abu Bakar dengan memberikan alasan-alasan yang logis kepada beliau. Hingga akhirnya beliau pun mau menerima usulan dari Sayyidina Umar. Sayyidina Umar pun berkata, “Demi Allah. Ini adalah hal yang baik, meskipun Rasulullah tidak melakukannya.”

Sayyidina Abu Bakar kemudian menunjuk beberapa orang untuk menjadi tim pembukuan Al-Qur’an. Beliau menunjuk sahabat Zaid bin Tsabit, penulis ayat-ayat yang turun di zaman Nabi, untuk menjadi pemimpin tim. Namun, Zaid bin Tsabit tidak serta merta mau melakukannya. Beliau juga takut kalau-kalau apa yang beliau lakukan termasuk bidah.

Mendapat penolakan dari Zaid bin Tsabit, Sayyidina Abu Bakar kemudian meniru jurus Sayyidina Umar. Hingga akhirnya, walau dengan berat hati, Zaid bin Tsabit berkata, “Seandainya kau memerintahkanku memindahkan gunung, niscaya itu akan lebih mudah bagiku.” Beliau pun menjadi pemimpin tim pembukuan Al-Quran.

Zaid bin Tsabit memulai pembukuan Al-Qur’an dengan mengumpulkan aya-ayat yang tertulis pada media-media seperti pelepah kurma dan sebagainya. Beliau mengumumkan kepada seluruh kaum muslimin yang menulis ayat Al-Qur’an di hadapan Rasulullah agar mengumpulkannya kepada beliau, dengan membawa saksi.

Akhirnya pengumpulan ayat Al-Qur’an pun selesai. Namun karena para sahabat juga hafal Al-Qur’an, mereka tahu bahwa ada dua ayat yang belum tertulis, yaitu dua ayat terakhir dalam surah At-Taubah ini. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya datanglah sahabat dari kaum Ansor, Abu Huzaimah, membawa dua ayat terakhir surah At-Taubah ini. Hingga kemudian pengumpulan dan pembukuan Al-Qur’an tersebut rampung dan bisa kina nikmati hingga saat ini.

(Muhammad Abror S/Mediatech)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU