Kajian Tafsir: Belas Kasih Allah Kepada Hamba-Nya

Tafsir Surat At-Taubah Ayat 115-117

“(115) Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (116) Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dan sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah. (117) Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka,”

***

Ayat-ayat ini masih berhubungan dengan pembahasan sebelumnya yang mana para sahabat dulu memintakan ampunan kepada Allah untuk bapak-ibunya yang kufur. Kemudian Allah menurunkan Surah At-Taubah ayat 114 yang berisi larangan mendoakan orang yang menyekutukan Allah. Setelah ayat tersebut turun, para sahabat berhenti mendoakan orang tuanya yang kafir itu. 

Namun, bagaimana perbuatan mereka sebelum mereka tahu kalau hal itu tidak boleh? Maka Surah At-Taubah ayat 115 pun turun menanggapi hal tersebut. Menurut Surah At-Taubah ayat 115, perbuatan para sahabat tidak termasuk kesesatan sebab yang sesat adalah orang-orang yang tidak menjauhi larangan tersebut. 

Surah At-Taubah ayat 116 menjelaskan bahwa Allah adalah Dzat Yang Menguasai langit-langit dan bumi serta Yang Maha Menghidupkan dan Mematikan. Sudah jelas,  tidak ada pelindung  dan penolong dari marabahaya selain Allah SWT.

Kesulitan yang Berbuah Ampunan

Dalam Surah At-Taubah ayat 117 ini menyimpan kisah penderitaan yang menimpa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat yang mengikuti Perang Tabuk. Mereka rela pergi ke Tabuk yang berjarak 800 km dari Madinah dalam cuaca yang ekstrem dan jalanan yang terjal. Waktu keberangkatan berlangsung selama 30 hari, di Tabuk 10 hari, dan perjalanan pulang berlangsung selama 30 hari.

Namun untungnya, Perang Tabuk ini tidak terjadi sebab orang kafir gentar. Raja Heraclius, pemimpin pasukan kafir pada saat itu, tidak menyangka kalau pasukan Muslimin bisa sampai di Tabuk. Padahal jaraknya sangat jauh, namun tetap tidak mematahkan semangat kaum Muslimin. Namun, apa yang maksud dari kesulitan dalam Surah At-Taubah ayat 117 tersebut?

Kesulitannya adalah perjalanan mereka. Saat perjalanan, kaum Muslimin kehabisan bekal dan air karena durasi perjalanan yang sangat lama. Sampai-sampai setiap dua orang memakan satu biji kurma setiap hari. Ketika kurma tinggal satu biji, mereka bergantian menggigitnya hingga habis.

Selain itu, setiap sepuluh orang bergantian menunggangi unta yang hanya satu ekor. Kemudian saat panas terik dan dehidrasi, mereka menyembelih unta dan mengambil simpanan air di dalam tubuh unta. Lalu, mereka membagi air tersebut sama rata. 

Bahkan, kaum Muslimin sempat tidak kuat dan ingin menyerah untuk melanjutkan perjalanannya. Namun, inilah yang membuat Allah takjub. Mereka tetap melanjutkan perjalanan meski dalam keadaan yang sangat sulit seperti itu. Maka dari itu, Allah menerima taubat mereka sebab kesabaran dan ketabahan mereka. 

Dari kisah tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa sebagai sesama manusia hendaknya saling berbagi terutama saat kesulitan. Sebagaimana Sahabat Ansar yang menolong Sahabat Muhajirin yang menjadi pendatang. Para sahabat kuat sebab mereka saling berbagi.

(Riki Mahendra Nur Cahyo/Mediatech)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU