Kajian Tafsir: Identitas Orang Mukmin Sebenarnya

“(112) Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadah, yang memuji, yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.”

***

            Di dunia ini, ada golongan yang beriman kepada Allah Yang Maha Esa. Ada juga yang menyekutukan-Nya. Maka dari itu, orang mukmin memiliki beberapa ciri yang membedakan mereka dengan orang kafir.

            Surah At-Taubah ayat 112 di atas merupakan gambaran bagaimana karakteristik orang mukmin. Dalam ayat tersebut ada sembilan sifat yang mana enam sifat pertama berkenaan dengan Allah, dua sifat setelahnya berhubungan dengan manusia, dan satu sifat terakhir berkaitan dengan Allah maupun sesama manusia.

            Pertama, orang yang bertaubat. Setiap orang pasti memiliki kesalahan termasuk orang mukmin. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, “Manusia tempatnya salah dan lupa.” Supaya Allah mengampuni dosanya, ia pun bertaubat.

            Kedua, orang yang beribadah. Orang mukmin hanya beribadah kepada Allah. Jika ada orang yang beribadah karena mengharapkan sesuatu dari orang lain, seperti dukun, maka itu keliru. Sebab segala sesuatu itu berasal dari Allah.

            Ketiga, orang yang memuji Allah. Orang mukmin pasti memuji Allah dalam setiap keadaan sebab dia rela dengan pemberian Allah, apapun itu. Selain itu, orang yang memuji Allah memiliki keistimewaan yang luar biasa sesuai dalam sabda Nabi Muhammad SAW, “Orang yang pertama kali masuk surga adalah orang yang senantiasa memuji Allah dalam segala kondisi dan keadaannya.”

            Keempat, orang yang melawat atau berekreasi, namun bukanlah orang yang suka jalan-jalan, melainkan orang yang berpuasa. Orang mukmin tidak mungkin meninggalkan puasa. Selain itu, orang mukmin yang berpuasa tidak hanya menahan diri dari lapar dan dahaga, tetapi juga menahan hawa nafsunya.

            Kelima dan keenam, orang yang rukuk dan sujud (orang yang salat). Orang mukmin senantiasa salat dimanapun dan kapanpun.

            Ketujuh, orang yang memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah berbuat keburukan. Orang mukmin yang seperti ini adalah salih sekaligus muslih karena dia membuat orang lain menjadi orang yang salih.

Krusialnya Amar Ma’ruf Nahi Munkar Bagi Orang Mukmin

            Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa perumpamaan orang yang amar ma’ruf nahi munkar seperti dua kaum yang naik kapal. Saat akan berlayar, mereka membagi tempat sehingga ada yang berada di kabin atas dan bawah. Jika kaum yang berada di atas menginginkan air, maka mereka tinggal mengambilnya dari luar kapal. Sedangkan yang berada di kabin bawah akan kesulitan karena berada dalam ruangan tertutup.

            Dari kaum yang berada di bawah, ada yang berinisiatif untuk melubangi kabin kapal supaya bisa mengambil air. Tak lama, kaum yang berada di atas mengetahuinya dan secara spontan mengingatnya supaya tidak melubangi kapal. Jika mereka yang berada di bawah sampai melubangi kapal, maka kedua kaum itu akan tenggelam, meski yang di atas tidak melakukan apa-apa. Jadi orang yang amar ma’ruf nahi munkar seperti kaum yang di atas akan menyelamatkan semuanya.

            Maka dari itu, jika ada seseorang yang melakukan maksiat, harus ada orang yang menasehatinya. Jangan sampai Allah murka dan menurunkan azab kepada mereka yang bermaksiat sebab orang yang tidak melakukan maksiat juga akan terkena akibatnya. Jadi jangan lupa berbuat baik dan membuat orang lain menjadi baik.

(Riki Mahendra Nur Cahyo/Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU