“ (103) Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (104) Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?”
(At-Taubah 103-104)
***
Manusia tidak selamanya bersifat jahat. Ada waktunya mereka keluar dari kolam maksiat. Pada saat itu, mereka mempertaruhkan kegigihan hati. Akankah mereka menuju pada kolam itu atau bertaubat dan menuju ke arah yang lebih baik.
Ayat Al-Qur’an di atas menjelaskan tentang penebusan sang pendosa. Penyebutan pendosa karena mereka tidak membela teman dan agamanya, alias tidak ikut berperang. Mereka meninggalkan teman-temannya di medan perang dan bukannya berjuang bersama.
Ketika Nabi dan pasukannya kembali dari peperangan, para pendosa ini merasa bersalah, mereka sadar dengan dosa yang mereka lakukan. Hanya saja, mereka masih berada di kolam maksiat. Hingga mereka menemui Nabi dan mengatakan kebenaran alasan mereka absen perang.
Saat itulah, mereka keluar dari kolam dosa. Namun, apakah mereka akan kembali untuk berenang di sana atau bertaubat dan kemudian melangkah ke arah yang baik?
Mereka bertaubat. Cara mereka bertaubat unik. Mereka mengikatkan diri mereka di tiang-tiang masjid. Mereka melarang siapapun untuk melepas ikatan itu, kecuali Nabi. Cara ini adalah bukti kesungguhan. Kesungguhan bertaubat dan meminta ampunan.
Mengetahui hal tersebut, Nabi tetap tidak melepas ikatan mereka. Sebab memang belum ada firman dari Allah. Maka, ketika turun Surah At-Taubah ayat 102 yang menjelaskan bahwa Allah menerima taubat mereka, Nabi baru melepaskan ikatan tersebut.
Taubat dengan Sedekah
Keseriusan mereka dalam bertaubat tidak hanya berhenti di sana. Mereka, membawa harta mereka ke Nabi sebagai sedekah. Harta ini mereka maksudkan untuk melebur dosa mereka.
Awalnya Nabi tidak menerima sedekah mereka. Namun datanglah perintah dari Allah untuk menerima sedekah mereka. Allah juga memerintahkan Nabi untuk mendoakan mereka. Doa inilah yang menjadi penentram jiwa mereka.
Jadi, antara taubat dan sedekah ini ada relasinya. Setelah taubat itu hendaknya sedekah. Sedekah ini sebagai pengiring keburukan yang telah kita lakukan. Jika ada kegelapan harus ada cahaya agar seimbang. Setelah maksiat mari berbuat kebaikan. Kebaikan ini berfungsi melebur dosa.
Tuntutan ini masih gampang daripada tuntutan yang datang pada Bani Israil. Bani Israil kalau habis melakukan maksiat ngeri hukumannya. Taubat mereka adalah mematuhi apa yang tertulis di pintu mereka. Jika yang tertulis memotong kaki, ya mereka harus mematuhi itu.
Lalu, apakah hukuman yang ngeri ini menandakan mereka lebih spesial? Tidak, malahan kita yang mudah dalam bertaubat, dan ini menandakan Allah sayang kita. Cara kita bertaubat cukup dengan mengingat Allah dan tidak mengulangi dosanya.
(Ahmad Firman Ghani Maulana/Mediatech)

Comment (1)
[…] seorang gadis jika sudah bertemu jodohnya. (4) Melunasi utang ketika sudah jatuh tempo. (5) Segera bertaubat jika berbuat dosa.” [Hilyatul […]