[polor_menu]
[polor_menu]

Garis Lurus Tiga Kiai

Hiburan bagi Kiai Badruddin semasa mondok di Sidogiri adalah “Jalan-Jalan.” Ditulis dalam tanda kutip karena memang jalan-jalan itu tidak benar-benar liburan, tapi benar-benar berjalan.

Udara panas Kabupaten Pasuruan begitu terasa menusuk kulit. Hawa itu masih terasa hingga memasuki kawasan kota. Di musim kemarau, debu-debu di pinggir jalan beterbangan ditiup angin. Untung ada pepohonan tinggi yang sedikit mengurangi terik matahari di siang hari. Debu-debu jalanan dan pepohonan tinggi sepanjang jalan menuju Pondok Pesantren Sidogiri menjadi saksi bisu atas sebuah perjalanan KH. M. Badruddin Anwar semasa belajarnya di pesantren tersebut. Tim Ekspedisi Sang Purnama 3 menyusur dengan benar lokasi-lokasi tujuan Kiai Badruddin beserta jalan yang pernah beliau lewati.

Sudah menjadi agenda mingguan, berziarah dan sowan ke pada para ulama di daerah Pasuruan dilakukan Kiai Badruddin. Kegiatan itu beliau lakukan bersama satu sahabatnya, Ushuluddin –yang lebih dikenal dengan Mbah Ushul. “Ayo mlaku-mlaku, ambek aku iki lo, (ayo jalan-jalan, ini sama saya),” ujar Mbah Ushul menirukan ajakan beliau. Tujuan acara “jalan-jalan” itu adalah makam Sayyid Alwi (Al-Habib Alwi Assegaf) di Kebonagung, Pasuruan; Kediaman KH. Abdul Hamid, Kota Pasuruan; dan makam Sayyid Arif, atau yang terkenal dengan Sayyid Segoropuro. Dan semua destinasi itu dicapai dengan jalan-jalan yang sebenarnya: jalan kaki.

Tidak main-main, jarak tempuh dari Pondok Pesantren Sidogiri ke lokasi makam Sayyid Alwi berkisar 9 KM. Selanjutnya, dari makam tersebut beliau berjalan ke kediamanan KH. Abdul Hamid yang berjarak kurang lebih 4 KM. Sedang tujuan terakhir, Segoropuro, makam Sayyid Arif, berjarak 11 KM dari kediaman KH. Abdul Hamid. Lantas beliau kembali ke Sidogiri yang jaraknya mencapai 25 KM. Setidaknya total perjalanan itu tidak kurang dari 50 KM.

Memang makam Sayyid Arif, Segoropuro, tidak menjadi tempat yang rutin beliau ziarahi setiap minggu. Beliau hanya menziarahi makam tersebut apabila masih ada waktu. Perjalanan itu beliau mulai pada sore hari di hari Kamis, usai pengajian. Saat itu, di Sidogiri setelah pengajian sore di hari Kamis hingga setelah Maghrib di hari Jumat, tidak ada kegiatan mengaji. Waktu libur itu lah yang beliau manfaatkan untuk jalan-jalan tadi. Dan tidak pernah telat, beliau telah sampai di Sidogiri sore harinya di hari Jumat dan langsung mengikuti pengajian.

Mbah Ushul menemani Kiai Badruddin di Sidogiri hanya berkisar tiga tahun. Di tahun selanjutnya, acara jalan-jalan itu beliau lakukan bersama teman lamannya yang baru menyusul ke Sidogiri, Haji Ahmad Faqih, 79 tahun. Beliau adalah teman Kiai Badruddin semasa di Madrasah Ibtidaiyah Bululawang dulu. Dengan Haji Faqih ini, kegiatan itu beliau lakukan hingga lulus dari Sidogiri dan meneruskan ke Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso.

Dalam kegiatan rutinan tersebut, Kiai Badruddin tidak membawa bekal. Memang terkadang, kalau merasa lapar, Mbah Ushul mengaku diajak ke warung hanya untuk minum kopi. “Kiai Bad iku wes betah luwe (Kiai Bad itu terbiasa lapar),” cerita Mbah Ushul. Meski di masa itu ada penyewaan sepeda di sekitar Sidogiri, beliau menolak untuk bersepeda dan tetap teguh untuk berjalan kaki. “Kiai Bad biyen iku gak gelem gawe sepeda (Kiai Bad itu dulu tidak mau bersepeda),” kisah Mbah Ushul. Ini lah salah satu sebab Mbah Ushul masih kuat berjalan jauh meski di usia yang sudah berkepala delapan. Bahkan saat menjalani ziarah jalan kaki itu bersama Haji Faqih, Kiai Badruddin sempat ditawari untuk menggunakan angkutan umum, akan tetapi jawaban beliau tetap sama: menolak dan memilih berjalan kaki.

Makam itu berada di tengah-tengah dua pusara lain. Dengan kontur makam yang bergaya kearab-araban, komplek pemakaman mudah dikenali dengan cat hijau yang mencolok. Di samping komplek pemakaman itu, berdiri sebuah masjid besar yang dinamai marga para leluhur makam tersebut, Masjid Jami Assegaf. Yang menjadi rujukan ziarah makam di komplek pemakaman itu adalah pusara Al-Habib Alwi Assegaf, atau yang sering dikenal dengan Sayyid Alwi. Selain pusara Sayyid Alwi, ada beberapa tokoh yang juga dimakamkan di komplek tersebut, salah satunya adalah makam seorang pejabat setingkat bupati di masa lalu.

Di salah satu sisi dari makam tersebut, Kiai Badruddin pernah berziarah setiap malam Jum’at. Sayyid Alwi adalah sosok ulama yang mendakwahkan ajaran Islam di tanah Jawa. Sebagai ulama besar, hari kewafatan beliau masih diperingati setiap tahunnya. Dan di malam-malam tertentu, banyak peziarah yang berkunjung untuk melakukan sebuah ritual keagamaan.

Setelah makam Habib Alwi, KH. Abdul Hamid menjadi tujuan Kiai Badruddin. Saat itu, Kiai Hamid masih aktif menemui tamu-tamu yang sowan. Beliau adalah seorang ulama yang dikenal sebagai seorang wali, kekasih Allah. Kebiasaan sowan ini diajarkan oleh abah Kiai Badruddin, KH. Anwar Nur yang sering berkunjung ke Kiai Hamid. Sejak kecil, Kiai Anwar sering mengajak Kiai Badruddin ke pada Kiai Hamid. Hingga dalam banyak hal, Kiai Badruddin menghormat pada hasil istikharah, atau keputusan Kiai Hamid.

Sejarahnya, berdasarkan buku “Percik-Percik Keteladanan Kiai Hamid Pasuruan,” beliau dilahirkan di Desa Sumbergirang, Kec. Lasem, Kabupaten Rembang pada 1333 H atau 1914-1915 Masehi. Beliau wafat dan dimakamkan di Pasuruan pada 25 Desember 1982 (usia 70 tahun). Pusara itu berada di belakang Masjid Jami’ Pasuruan dan selalu ramai kunjungi banyak peziarah dari berbagai daerah. Ini lah yang menjadi salah satu penyebab Kiai Badruddin selalu memasukkan nama Kiai Hamid dalam bacaan tawasul yang dibaca para santri.

Sayyid Abdurrahim –nama asli Sayyid Arif Segoropuro, adalah tujuan ziarah makam terakhir dari perjalanan Kiai Badruddin ini. Dari berbagai sumber tertulis di internet, beliau adalah putra dari Habib Abdulrahman Basyaiban dengan Syarifah Khadijah (Raden Ayu Bangil). Sayyid Arif dikenal sebagai ulama yang berdakwah meletakkan dasar-dasar Islam di Pasuruan dan Pulau Madura.

Dan kini, pusara yang menjadi kawasan wisata religi itu, bukan hanya ramai diziarahi, tetapi juga menjadi tempat tirakatan. Juru kunci dan pengurus makam telah menyediakan tempat beserta beberapa peraturan bagi yang menjalankan suatu amalan tertentu.

Selain tiga ulama di atas, Kiai badruddin juga memiliki kedekatan dengan KH. Abu Amar. Beliau dikenal sebagai wali tani yang juga teman satu kamar Kiai Anwar Nur semasa nyantri di Pondok Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo.

Masyasyikh An-Nur II

(MFIH/Mediatech An-Nur II)

Artikel Terbaru

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

@2026 | Yayasan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”Zeldrex