Mencari ilmu banyak sekali caranya, bersekolah dan mengaji termasuk di antaranya. Di sekolah kita diajarkan ilmu-ilmu yang sedang berkembang saat ini, ilmu yang telah bercampur dengan banyak hal dan kejadian. Lantas, kenapa kita dituntut untuk berilmu? Karena jika tidak berilmu, kita tidak akan mengetahui hal-hal jelek yang seharusnya tidak dilakukan, hal-hal yang sudah memiliki larangan paten.
Ilmu yang baik lagi manfaat, menjadikan kita jauh dari kecacatan dalam melakukan sesuatu. Seperti hal-hal apa saja yang menjadikan pekerjaan kita tidak bernilai. Selain itu, ilmu yang baik juga menjadikan kita tahu tentang tipu daya setan. Dalam menjalankan misinya, tidak semua setan terang-terangan menawarkan kejelekan. Ada yang membungkusnya dengan sesuatu yang seolah-olah baik dilakukan, padahal tidak sama sekali.
Beberapa juga tidak langsung mencegah kita melakukan kebaikan, tetapi mereka menggoda saat kita sedang melakukannya. Ambil contoh saat kita hendak pergi ke sekolah atau tempat mengaji. Setan tidak langsung mencegah kita untuk berangkat, tapi mereka akan melancarkan godaannya saat kita berada di kelas. Saat kita memperhatikan penjelasan yang disampaikan oleh guru, mereka meniup mata kita sehingga kita mengantuk, tidak fokus, bergurau atau yang lain. Bisa jadi juga meniup telinga kita agar kita tidak mendengarkan penjelasan yang disampaikan.
Setan tidak pernah menyerah menggoda seseorang sebelum orang tersebut terbujuk tipu dayanya. Jika orang tersebut tahu bahwa ia sedang digoda oleh setan, maka ia akan berdoa atau melakukan hal lain untuk terhindar dari godaan tersebut. Namun bagi mereka yang tidak tahu, mereka akan menuruti tipudaya itu. Dia akan tetap tidur walaupun sebenarnya ia mampu untuk menahan kantuknya.
Ilmu yang bermanfaat merupakan karunia Allah, agar kita punya perasaan terhadap tipu daya setan. Setan sendiri tidak pernah bosan menggoda orang yang berilmu. Sebab orang berilmu punya trik jitu menangkis godaan setan.
Ulama As-Suu’
Orang yang mempunyai ilmu tetapi tidak bisa berilmu dengan baik dapat disebut Ulama As-Suu’. Mereka akan rela menjual agamanya demi ditukar dengan harta benda yang sifatnya fana. Mereka menyampaikan dalil kesana kemari buka dengan tujuan syiar, melainkan mencari pundi-pundi angka untuk menambah kekayaan.
Pemilik ilmu yang baik, guru yang baik, tidak pernah meminta sepeser uang pun pada anak didiknya. Mereka tahu bahwa urusan mereka telah ditanggung oleh Allah. Namun, guru yang baik tidak pernah menolak pemberian anak didiknya, karena tidak ingin mencegah mereka melakukan amalan-amalan yang baik.
Ulama As-Suu’ biasanya berasal dari mereka yang pada saat masa pencarian ilmu hanya mengedepankan otak tanpa mengikutkan hatinya. Mereka bisanya adalah pelajar-pelajar yang masa belajarnya dihabiskan untuk bergurau, sehingga tidak menangkap pesan-pesan moral yang disampaikan gurunya. Parahnya, hal itu dapat mengakibatkan kesalahpahaman. Alangkah baiknya kita sebagai pelajar utuk fokus dalam masa pembelajaran, agar hal-hal buruk di atas tidak terjadi pada kita kelak.
*Disarikan dari pengajian kitab Bidayah Al-Hidayah oleh KH. Fadhol Ahmad Damhuji pada Ahad Legi 21 November 2021.
(Abror/Mediatech An-nur II)