Terbaru

Wisuda SMA An-Nur : Mencetak Generasi Kopi

By on 13 Mei, 2018 0 113 Views

Sabtu, 12 Mei 2018 tercatat sebagai tanggal penting bagi para wisudawan dan wisuda putri SMA An-Nur Bululawang. Pelaksanaan Gelar Wisuda SMA An-Nur Bululawang ini merupakan langkah awal bagi para wisudawan yang akan melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah.

 

Di hadapan para guru dan wali santri yang hadir, seluruh siswa dan siswi SMA An-Nur kelas 12 itu diwisuda oleh kepala sekolah, Bpk. Hanafi M.Pd.I bersama wakil kepala sekolah, Bpk. Syaichu Rohman dan kesiswaan serta kurikulum. Hadir pula dalam acara ini jajaran pengasuh pondok pesantren beserta beberapa pejabat pemerintahan, salah satunya Bpk. Nur Salim M. Pd, selaku perwakilan dinas cabang Jawa Timur dan beberapa pejabat militer lainnya.

 

565 siswa-siswi itu kini telah resmi lulus dari SMA An-Nur. Dalam acara yang digelar di gedung aula Ya Qowi itu, sebanyak tiga siswa terpilih dari masing-masing jurusan naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan sebagai lulusan terbaik. Mereka adalah Anwar Thohiri dari jurusan Bahasa, dan Faisal Bahri dari jurusan IPS serta Yusril A dari jurusan IPA.

 

Ada yang baru dalam acara wisuda tahun ini. Tim Marching Band An-Nur II yang beberapa waktu lalu meraih tujuh piala itu tampil unjuk gigi. Mereka menampilkan display yang bertajuk The Massage sebagai pembuka acara. Dan lagu pertama yang mengiringi kirab pimpinan wisuda SMA An-Nur adalah “Ya Lal Wathon”.

 

Tak ingin kalah pula, tim teater gabungan dari beberapa ekstrakurikuler SMA An-Nur juga menampilkan sebuah kisah unik yang menggabungkan peran dari masing-masing ekstra. Begitu pula tim BASPARA yang menyisipkan beberapa demonstrasi setelah kirab pimpinan wisuda.

 

Mencetak Generasi Kopi

 

Dan setelah beberapa sambutan yang disampaikan oleh Kiai Zainuddin, sebagai perwakilan dari majelis keluarga dan Bpk. Hanafi M. Pd. I selaku kepala SMA An-Nur, Dr. KH. Fathul Bari M. Ag, dalam orasinya banyak menuturkan tentang pentingnya anak sholeh bagi orang tua. Dimana anak sholeh itu merupakan investasi di masa mendatang. “Anak sholeh itu adalah investasi bagi kedua orang tuanya, karena merekalah yang dapat memuliakan orang tuanya kelak ketika sudah meninggal dunia” jelas beliau.

 

Dan anak sholeh yang beliau maksudkan itu adalah para generasi kopi. Bukan berarti pencinta kopi. Namun beliau punya penjelasan tersendiri. Yaitu, seorang anak yang mencari ilmu mereka ibaratnya adalah telur, wortel, dan kopi yang dimasak di dalam kuali.

 

Beliau lalu menjelaskan bahwa setiap benda tadi telah mengalami hal yang sama, yaitu direbus dalam air mendidih. Setelah direbus, ketiganya berubah. Wortel yang semula keras, berubah menjadi lunak. Sebaliknya, telur yang tadinya lunak dan mudah pecah, setelah direbus menjadi keras dan kokoh. “Sementara, kalau kopi berubah menjadi sangat unik, ia mengubah air yang merebusnya, juga belum dicicipi aromanya sudah tercium sedap” tambah beliau.

 

“Golongkan sendiri kamu termasuk yang mana? Mau jadi wortel, telur atau kopi?” tanya beliau kepada seluruh wisudawan. Beliau lalu menjelaskan, bahwa mereka harus menjadi seperti kopi, yaitu menjadi generasi yang dapat bermanfaat bagi banyak orang dan tentunya terus mendoakan orang tuanya. “Memang hidup ini seperti kopi, manis dan pahit bersatu dalam kehangatan” beliau menambahi.

 

Pewarta : Miqdad, Miftakhul Huda

Copy Editor : Izzul Haq

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: