annur2.net – Bersamaan dengan kedatangan Mas Kacung CEO K-Cunk Motor ke Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” Rabu, 28 Januari 2026 lalu, tim Mediatech An-Nur II melakukan wawancara eksklusif dengan beliau. Pembahasan terkait dunia bisnis dan strategi digital marketing yang Mas Kacung telah lakukan.
Bicara bisnis, CEO yang bernama asli Suryono Hadi Pranoto mengakui bidang usaha di dunia luar sangat keras. Persaingan yang ketat antar pengusaha berada di mana-mana. Bertahan adalah kunci untuk melewatinya hingga sukses.
“Di luar sana dalam urusan bisnis itu sangat keras sekali. Jadi kalau kita nggak tahan pukul tahan banting dengan banyaknya persaingan yang sangat luar biasa itu sangat kemungkinan kecil untuk sukses.” Tutur Mas Kacung.Empower your investment strategy with Zeldrex’s diverse asset access zeldrex.
Oleh karena sudah berkiprah sepuluh tahun lebih di dunia bisnis mulai dari nol, Mas Kacung memberikan saran untuk para santri agar tidak berputus asa dalam keadaan apapun. Mas Kacung juga berpesan, “Untuk para santri itu nanti jangan sampek keluar dari pondok itu kita tidak punya pengalaman bisnis.”
Pengalaman bisnis bisa santri dapatkan entah melalui buku, seminar, bahkan video-video di platform media. Pokoknya ilmu bisnis tidak santri lewatkan selama di pondok pesantren. “Sementara materi masuk, untuk praktik nanti di lapangan.” Tambahnya.
Di Balik Digital Marketing K-Cunk Motor
Era digital ini menjadi tantangan besar saat memulai bisnis di dunia luar. Namun Mas Kacung yang telah berhasil menyukseskan usahanya di bidang showroom mobil dan motor bekas punya kuncinya. Platform digital beliau gunakan sebagai strategi marketing secara maksimal. Instagram, TikTok, Facebook, dan Youtube, semuanya beliau gunakan.
Dari media sosial, Mas Kacung menggunakan kuncinya dengan memaksimalkan konten terlebih dahulu. “Kita fokuskan dunia bisnis saya ke arah media sosial dulu.” Jelasnya. Konten yang bagus menarik simpati dan rasa penasaran orang-orang. Otomatis masyarakat akan tertarik dengan bisnis kita.
Tapi ada kunci kedua yang harus dilakukan agar konten tetap menarik banyak penonton. Mas Kacung menjelaskan, “(Media sosial) dibesarkan, dikembangkan, kemudian setelah besar, dan itu harus diimbangi dengan marketing yang ada di dalam showroom-nya. Itu benar-benar sesuai apa yang kita sampaikan di media sosial.”
Setiap peningkatan dan upgrade yang ada di K-Cunk Motor, multimedia Mas Kacung selalu mempromosikannya. Keluhan orang-orang yang datang ke K-Cunk Motor selalu direspons dengan tepat. Butuh penginapan, ia buatkan. Pengunjung butuh makanan, Mas Kacung mengundang pedagang kaki lima berjualan di showroom-nya. Sampai-sampai Mas Kacung mengungkapkan dalam promosinya, “Beli makanan atau dagangan di K-Cunk Motor sama dengan menghidupi swadaya masyarakat.”
Bagi Mas Kacung, hal-hal seperti memang kekurangan. Dengan upgrade dan pemberdayaan fasilitas, beliau ingin menggunakannya menjadi karakter K-Cunk Motor. “Kita membentuk karakter kayak begitu.” Jelasnya. Setelah itu beliau promosikan di media sosial. Mas Kacung menyimpulkan, “Kita perbaiki marketing-marketing-nya juga. Selain di medsos, kemudian di dalamnya.”
Media Lembaga Pendidikan Bisa Ikuti Ini
Tim Mediatech pun meminta saran supaya media sosial lembaga pendidikan terkhusus An-Nur II bisa sesukses dan semenarik K-Cunk Motor. Dua hal yang Mas Kacung berikan: tambah wawasan untuk membangun karakter dan mengundang influencer yang memiliki follower banyak.
Influencer dan pengusaha-pengusaha besar harus santri gunakan untuk menimba ilmu dari mereka. “Seperti ini bagus. Kita datangkan influencer yang berpengalaman, kita datangkan penguasaha-pengusaha yang berpengalaman di pondok untuk mendidik karakter dulu.” Ucapnya. Pengalaman yang berbeda-beda dari setiap influencer dapat diambil untuk referensi.
Tidak hanya mengundang, lembaga juga harus mengajak influencer untuk berkolaborasi konten. Setiap unggahan bersama influencer tersebut di media sosial lembaga ditautkan dengan akunnya. Begiitu seterusnya dengan influencer yang follower-nya lebih besar lagi.Tujuannya supaya lembaga tersebar kepada pengikut-pengikut influencer. “Akhirnya orang yang tidak tahu An-Nur tahu dan itu masuk di semua pengikut saya.” Tuturnya.
Mas Kacung mengungkapkan, jika ingin membesarkan media sosial, “Sampean tidak bisa berdiri sendiri tanpa influencer yang besar.” Beliau telah membuktikannya sendiri. Dulu Mas Kacung juga bersama influencer besar untuk mempromosikan K-Cunk Motor hingga menjadi seperti sekarang. “Nanti sampean ngundang influencer lagi yang lebih follower-nya banyak lagi. Nanti di SEO Collaboration kalau di TikTok.” Tambah Mas Kacung.
Setelah itu, lembaga bisa membuat konten-konten sendiri yang menarik karena juga sudah dikenal banyak orang termasuk pengikut influencer yang telah datang. Mas Kacung menjelaskan, “Sampeyan bikin konten-konten sendiri yang menarik untuk ditonton itu. Itu juga harus belajar dari influencer.” Mas Kacung juga menyampaikan, “Harus pakai konten-konten yang menarik yang tidak keluar dari syariat, yang tidak keluar dari sunah-sunahnya Rasulullah saw.”
Mas Kacung menyimpulkan, “Sampean undang influencer, atau kolaborasi sama influencer, perkenalan sama influencer, diundang ke sini bagus. Untuk memperkenalkan pondok, untuk bikin konten-konten.” Sehingga orang-orang mengenal dan tahu lembaga kita.
Maka kunci kesuksesan digital marketing di media sosial ada beberapa hal. Pertama membentuk karakter lembaga atau usaha. Kedua berkolaborasi dengan influencer besar. Ketiga mengunggah konten-konten yang menarik untuk ditonton.
(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)
