Uang Saku Santri

santri, Uang Saku Santri, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

“Tinggal beberapa hari lagi kita akan masuk ke bulan Ramadan,” Begitulah ungkap Dr. KH. Fathul Bari, S. S., M.Ag pada saat mengisi sambutan acara Pengajian internal rutin yang diikuti oleh para santri dalam masa pandemi. Karena Ahad Legi kali itu adalah acara penutupan selama setahun—Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” (Pesantren Wisata)— mengundang KH. Nasirul Mahasin, untuk memberi wejangan kepada para santri.

Acara penutupan pengajian rutinan internal itu berada pada tanggal 21 Maret 2021. Pada saat sambutan, Kiai Fathul menjelaskan, bahwa layaknya seorang santri, tidak hanya belajar membaca dan menulis. Karena pondok tidak sekecil itu. Bahkan Kiai mengutarakan, “Pondok Pesantren adalah tempat untuk belajar hidup dalam kehidupan.”

Dalam pembahasan kali ini, banyak contoh yang beliau berikan. Mulai dari anak yang pendiam hingga sebaliknya, anak yang rajin dan malas, yang pintar dan bodoh, yang taat dan tidak. Mengapa tidak dipisah? “Karena begitulah kehidupan,” jelas kiai. Tidak akan ada kehidupan yang hanya memiliki satu warna. Karena itu, pesantren didesain sedemikian rupa. Hanya untuk satu tujuan: Mempersiapkan para santri untuk menghadapi kehidupan yang sesungguhnya. Bahkan konsep ini tidak ada di Lembaga lain, “Entah itu sekolah atau pun universitas, tidak ada,” pungkas Kiai Fathul.

Lalu peran Gus Mahasin pada acara kali ini muncul. Para santri yang sudah menginjakkan tahun terakhirnya di pondok tentu memiliki tiga pilihan: Boyong, menikah, atau melanjutkan jenjang pesantrennya. Gus Mahasin pun memberikan ijazah doa, sebagai uang saku khusus para santri. Sesuai dengan apa yang mereka pilih. 

“Jangan Meninggalkan Ayat Al-Qur’an,” Begitulah tutur kakak kandung dari KH. Bahauddin Nur Salim yang kerap dipanggil (Gus Baha`) saat memulai tausiahnya. Ayat Al-Qur’an yang beliau maksud ada pada Surat Al-Baqarah, ayat ke-32:

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Beliau menjelaskan bahwa ayat tersebut harus diamalkan pada saat sebelum belajar. Entah itu membuka buku pelajaran umum, atau pun kitab Kuning. Karena dulu, para ulama tidak asal-asalan membuat kitab. Banyak sekali tirakat yang harus dilalui dalam proses penulisannya, “Ya masa, kita ketika belajar main buka saja,” Tegas Gus Mahasin.

    Karena itu beliau menasehati para santri, bahwa alangkah baiknya sebagai seorang santri untuk mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh para ulama. “Walau hanya sedikit saja,” tambah Gus Mahasin. Beliau tidak memberi wejangan khusus tentang apa yang harus dibaca. Jika memang kita hanya kuat membaca Surah Al-Fatihah, lakukan dengan istikamah. Jika hanya kuat membaca Surat Al-Ikhlas, lakukan saja dengan istikamah. “Yang penting ada, walau sedikit,” tekan Gus Mahasin.

    Kedua, beliau memberikan sebuah ijazah khusus untuk mereka yang ingin sekali berangkat Haji. Beliau menganjurkan untuk membaca Surah Al-Waqiah sebanyak 121 kali tiap malamnya. Sekali lagi beliau menuturkan bahwa harus melaksanakannya dengan istikamah. Hal ini harus rutin dilaksanakan selama 41 malam. 

    Bukan hanya itu, beliau juga memberi bacaan khusus bagi mereka yang ingin cepat menikah, supaya dapat yang ideal gurau beliau. Amalannya tidak begitu rumit, hanya membaca Surah Taha. Beliau menerangkan bahwa saat membaca surat tersebut, kita memanjatkan harapan kita dalam hati. Baru kemudian beliau mengutarakan persiapan yang terpenting sebelum keluar: Ilmu kemasyarakatan.

    Beliau juga mengingatkan untuk tetap mendoakan semua ustaz dan juga kedua orang tua. Beliau mengutarakan, “Baca Surat Fatihah seratus kali.” Dibaca tiap malam jumat dan harus dilakukan secara istikamah pula. “Karena kita tidak boleh melupakan jasa mereka,” ujar beliau.

    “Ini sangat berguna, apalagi saat kalian pulang.” Beliau mencontohkan dengan banyaknya tipe dan macam masyarakat lalu apa saja kebutuhan mereka. Ada yang memerlukan bantuan dalam ilmu pengobatan semacam rukyah atau suwu’. Ada yang nanti membutuhkan ilmu sebagai seorang khatib, pemimpin tahlil hingga imam salat. “Begitu juga ilmu fikih,” tambah beliau.

    Beliau berkata bahwa fikih itu ketat, “Tapi bisa disiasati.” Pengaplikasian ilmu fikih tentu tidak mudah jika hanya dipelajari dalam waktu yang singkat, apalagi untuk melenturkannya. Karena itu, Gus Muhasin menganjurkan para santri untuk tetap melanjutkan jenjangnya di pesantren.

    Pada akhir tausiah, beliau mengajak para santri untuk berdoa bersama. Beliau berharap bahwa manfaat amalan tersebut —tidak hanya terkhususkan kepada para santri. Tapi juga berskala kepada orang-orang di sekitar mereka.

(Adam/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: