Tradisi Unik Merayakan Iduladha
Biasanya saat Iduladha yang menjadi sorotan utama adalah penyembelihan binatang kurban. Namun, di beberapa daerah di Indonesia, mereka memiliki tradisi unik yang turun-temurun. Tradisi itulah yang membuat Iduladha lebih berwarna.
Indonesia sendiri memang kaya adat tak biasa, sehingga jika Hari Raya Iduladha, ada saja di beberapa daerah yang memiliki ciri khas tersendiri untuk meramaikan hari meneladani Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail itu.
Mau tahu lebih dalam tradisi apa saja yang ada di beberapa daerah Indonesia? Kalau iya, yuk, baca tulisan ini sampai akhir!
1. Manten Sapi
Adalah kebiasaan unik yang masyarakat Pasuruan miliki. Manten Sapi artinya dalam bahasa Indonesia ialah pengantin sapi. Sengaja masyarakat memberi nama seperti itu, karena memang warga merias sapi kurban selayaknya pengantin.
Mereka mendandani sapi kurban tersebut sebagai bentuk penghormatan. Jadi, mereka akan mempercantik sapi-sapi tersebut sehari sebelum hari penyembelihan berlangsung.
Pertama-tama untuk melaksanakan tradisi ini, mereka akan memandikan sapi-sapi kurban terlebih dahulu. Warga kemudian akan menghias mereka secantik mungkin (cantik di sini standar sapi). Sapi-sapi itu juga akan memakai kalung yang terdiri dari bunga tujuh rupa. Tak lupa, para warga juga akan menyampirkan kain putih ke hewan-hewan itu.
Jika tahapan-tahapan di atas sudah selesai, warga akan mengarak sapi-sapi yang telah mereka hias seperti pengantin. Para warga yang mengikuti arakan ini akan membawa bahan pangan seperti beras, minyak goreng, dan bumbu dapur lain.
Nanti, bahan pangan itu juga daging hewan kurban akan mereka bagikan kepada orang-orang yang kurang mampu. Masyarakat Pasuruan melakukan ini selain untuk melestarikan budaya mereka, tapi juga sebagai sarana syiar Islam.
2. Meugang
Kalau satu ini adalah corak unik yang orang-orang Aceh lakukan saat Iduladha. Tradisi ini muncul sejak tahun 1607. Orang yang menjadi pelopor di balik adat ini ialah Sultan Iskandar Muda, raja Aceh Darussalam.
Sebenarnya tradisi ini tidak hanya terjadi saat Hari Raya Kurban tapi ada tiga titik besar lainnya. Yaitu sebelum Ramadan, sebelum Idulfitri, juga sebelum Iduladha. Berarti tiga kali dalam setahun.
Warga Aceh menjaga tradisi ini sejak dahulu hingga generasi milenial. Modernisasi tidak menjadi penghalang untuk terus melestarikan Meugang ini, sampai Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menjadikan tradisi ini sebagai warisan budaya pada tahun 2016.
Cara menikmati tradisi ini sangat gampang, ialah dengan memasak daging lalu memakannya bersama keluarga, kerabat dan anak yatim piatu.
3. Ngejot
Tradisi satu ini adalah milik masyarakat Bali. Ngejot dalam istilah bahasa Bali artinya memberi. Istilah makanan di dalam tradisi Ngejot ialah enjotan.
Sesuai namanya, masyarakat Bali akan membuat makanan yang akan mereka berikan kepada tetangganya. Meski tetangga mereka berseberangan agama, mereka tetap saling memberi. Oleh karena itulah Ngejot ini merupakan wujud toleransi antar agama di Bali.
Sebab di setiap agama memiliki aturan tersendiri mana makanan yang boleh dikonsumsi dan yang tidak, aturan makanan tradisi Ngejot tidak boleh memberi makanan haram menurut agama sebelah. Seperti orang-orang Hindu akan memberi makanan kue, jajanan atau buah-buahan yang halal untuk orang muslim.
4. Toron
Bagi orang Madura, tradisi ini tidak hanya melekat pada Hari Raya Idulfitri. Akan tetapi mereka juga akan melakuakannya pada Hari Raya Iduladha dan di Maulid Nabi. Toron atau pulang kampung ini sudah seperti kewajiban bagi orang Madura.
Ketika Iduladha mereka memaknainya sebagai waktu bersedekah. Mereka memiliki sebuah anggapan bahwa di hari itu mereka harus menemui kerabatnya di kampung mereka, sehingga karena dorongan kultural itu membuat mereka merasa harus pulang.
Orang Madura melakukan tradisi ini dengan tujuan agar tidak melupakan asal-usulnya dari mana. Kemudian jika sudah sampai mereka biasanya akan membawa oleh-oleh yang akan mereka berikan ke tetangga.
Itu dia cara-cara unik yang di beberapa daerah Indonesia miliki untuk merayakan Hari Raya Kurban. Semua tradisi itu layak untuk lestari dan turun-temurun hingga generasi-generasi selanjutnya. Demi menggapai hal itu, perlu sekali bagi generasi muda untuk membaca literasi yang terkait tradisi-tradisi di atas.
(Ahmad Firman Ghani Maulana/Mediatech)
