Penempatan Amarah

Amarah, Penempatan Amarah, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

(Tafsir Surah Al-A’raf ayat 154)

“Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) lauh-lauh (Taurat) itu; dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya.”

Selepas kepergiannya ke Gunung Sinai untuk bemunajat dan menerima Taurat dari Tuhannya, Nabi Musa As merasa sangat kecewa bercampur marah dan sedih melihat kaumnya kembali menyembah berhala berupa anak sapi yang terbuat dari emas selepas kepergiannya. Melihat hal itu, Nabi Musa pun melemparkan lauh-lauh Taurat kepada kaum tersebut dan memperingatkannya kembali atas perbuatannya yang berakar kesesatan.

Kemudian, Nabi Musa segera menghampiri Nabi Harun As guna meminta kejelasan perihal kaum yang dipasrahkannya selama kepergian dirinya ke Gunung Sinai. Setelah menerima penjelasan, beberapa waktu kemudian amarah Nabi Musa mulai mereda ditandai dengan pemaafannya kepada Nabi Harun yang disangka lalai dalam menjalankan tugasnya.

Alhasil, Nabi Musa mengambil kembali lauh-lauh Tauratnya. Tanpa ia sangka, di situ Nabi Musa menemukan petunjuk-petunjuk untuk memperoleh rahmat Tuhannya. Sehingga, Nabi Musa menetapkan sebuah keputusan. Ia mengambil salah satu cara sebagai jalan pertaubatan untuk mengharap rida dan ampunan kepada Allah SWT (Cara tersebut dijelaskan pada ayat selanjutnya—Al-A’raf: 155).

Peristiwa ini menunjukkan bahwa Nabi Musa adalah sosok yang benar-benar kuat. Arti kata “kuat” sendiri, adalah ketika seseorang dapat menempatkan gejolak amarahnya dengan benar. Menahan amarah ketika mendapat cobaan dari Tuhan, dan senatiasa meluapkannya ketika melarang kemungkaran di hadapan-Nya. Hal ini, terlihat dari sikap beliau yang menempatkan amarah ketika melihat kaumnya mengingkarinya dan menyekutukan Allah SWT. Lalu, di mana kita menempatkan amarah kita selama ini?

Pentingnya Amarah

Orang yang kuat bukanlah mereka yang mampu membanting lawannya dan menghabisinya dengan sekali pukulan, melainkan mereka yang mampu menguasai dirinya tatkala dilanda amarah. Rasulullah SAW bersabda,

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang kuat itu bukanlah orang yang jago bergulat. Akan tetapi orang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah.”

Meskipun orang itu kuat, badannya kekar, tetapi dia tidak mampu mengontrol dirinya, sebenarnya dia adalah orang yang rapuh dan lemah.

Seseorang yang bersabar ketika dirinya dihina, dia adalah orang yang kuat. Namun sebaliknya, jika agamanya dihina tetapi dia hanya diam sebagai bentuk kesabaran, dia termasuk orang yang lemah. Marah tidak selamanya buruk. Ada beberapa tempat yang memang kita harus marah; saat agama kita dihina, melihat kemungkaran, kemaksiatan.

Dalam surat Al-A’raf ayat 154 diceritakan, pernah suatu ketika Nabi Musa murka sampai beliau memaki kaumnya karena mereka kembali menyembah patung anak sapi. Ayat ini tidak menunjukkan bahwa Nabi Musa adalah tipe pemarah, karena beliau marah di tempat yang tepat.

Ada sebagian orang yang berpendapat, Nabi Musa memang agak sedikit tempramen, berbanding terbalik dengan baginda rasul yang lemah lembut. Mereka berpijak pada perintah Allah kepada Nabi Musa untuk melembutkan sikapnya di hadapan Fir’aun, sedangkan Rasulullah diperintahkan untuk berbuat kasar terhadap kaum kafir. Perkataan seperti ini tidak bisa dibenarkan, karena situasi dan kondisinya berbeda.

Hal ini bisa kita gambarkan pada kehidupan kita ketika menjadi pemimpin, selembut apapun kita, apakah kita akan tetap diam seandainya ada rakyat kita yang berbuat ingkar? Tentu tidak. Jelas sekali bahwa jika ada kemaksiatan atau kemungkaran yang dilakukan di hadapan kita, kita memang harus marah, dan hal ini dibenarkan.

Ketika Nabi Musa diam dari marahnya, beliau mengambil lembaran Al-Kitab yang menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaumnya yang takut kepada Allah. Bagi mereka yang tidak takut kepada Allah, Al-Kitab ini jelas tidak ada gunanya. Semisal ada orang yang hafal Al-Qur’an tetapi tidak mendapat hidayah, sama halnya seperti orang buta yang memegang senter, hal itu tidak berguna bagi mereka.

Perintah untuk bertaubat

Setelah kejadian penyembahan kaum Nabi Musa terhadap berhala anak sapi, Allah memerintahkan beliau untuk naik ke Bukit Tursina untuk kedua kalinya, setelah yang pertama dulu untuk menerima Kitab Taurat, untuk bertaubat, dan bermunajat, serta mengajak 70 orang yang tidak menyembah berhala, untuk memintakan ampunan bagi saudara-saudara mereka, juga agar mereka tidak ikut diazab bersama yang lain karena membiarkan mereka melakukan kemaksiatan.

Cerita di atas adalah bukti tentang pentingnya marah dan amar ma’ruf nahi munkar. Jadi tidak cukup bagi kita hanya berbuat baik, kita juga harus menyerukan kebaikan dan mencegah segala macam bentuk kemaksiatan.

#penapesantren

(M. Arif Rahman Hakim dan Muhammad Abror S/ Mediatech)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: