Tega: Kunci Utama Memondokkan Anak

tega, Tega: Kunci Utama Memondokkan Anak, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

Dari kiai Anwar Manshur Lirboyo, kita belajar tentang tiga kunci penting belajar ilmu agama. “Syarate wong ngaji iku telu (syarat orang mengaji -belajar agama- itu ada tiga),” tutur beliau dalam rekaman suara yang banyak tersebar.

Syarat pertama yaitu gurunya harus bersungguh-sungguh saat mengajar. Kedua, orangtuanya mendukung dengan memberi nafkah dan mendoakan dengan bersungguh-sungguh. Terakhir, si anak yang mencari ilmu pun harus bersungguh-sungguh. Beliau memperingatkan kalau salah satu dari tiga komponen tersebut tidak dipenuhi, maka si anak tidak akan berhasil dalam mencari ilmu.

Di sini lah peran orangtua begitu penting. Karena mereka tidak bersinggungan langsung dengan si anak, terlebih di pondok pesantren. Sebenarnya peran ini ditentukan di awal tahun ajaran baru. Di momen ini tak banyak orangtua yang bisa suka rela mendapati anaknya harus berpisah dengan keluarga di usia yang sangat belia.

Para santri bakal hidup sendiri jauh dari orang tua. Di titik ini orangtua bakal sadar bahwa mereka telah berpisah, meski untuk sementara waktu. Sadar si anak sudah tak bisa dibelai-belai lagi. Tahu betul kalau anaknya berada di lingkungan baru yang tak sedamai di rumah. Dan nantinya si anak bakal kangen dan telepon ke rumah. Meski tak tega, orangtua bakal menasehati si anak agar sabar. Karena anaknya di pondok bukan untuk dibuang, tapi dididik agar menjadi anak saleh.

Para santri di pesantren tak akan dibiarkan terlantar. Tidak akan bodoh karena tidak ikut seminar ini dan itu. Tidak akan tertinggal karena jarang pegang gawai. Insya Allah santri akan dijaga oleh Allah karena merekalah para penjaga Al-Quran. Lebih baik orangtua menangis di awal karena berpisah sementara, dari menyesal di kemudian hari karena si anak lalai dalam urusan akhirat.

Maka, kalau sudah memondokkan anak, orangtua harus tega dengan segala konsekuensinya. Karena pesantren adalah tempat pendidikan dan perjuangan. Santri itu beribadah dengan menuntut ilmu. Mereka selalu diajarkan untuk mendoakan orangtuanya. Mereka juga didik menjadi manusia yang berakhlakul karimah.

Kiai Fathul –pengasuh An-Nur II— pernah berpesan, “Jika wali santri ikhlas, insyaallah anaknya akan menjadi anak yang saleh. Karena mondok bukan untuk pintar, tapi agar menjadi anak saleh, agar bisa menolong orang tuanya kelak di akhirat nanti.” Semoga dengan ketegaan orangtua dalam memondokkan anak dapat menjadikan mereka memperoleh ilmu manfaat lagi berkah.

*Ket. foto: seorang santri baru yang hendak mandi terlihat bahagia.

(Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: