24 September, 2018
  • 24 September, 2018

Tasbīḥ: Ibadah Kompetitif Alam Semesta

By on 13 Agustus, 2012 0 140 Views

By: Helmi

Allah menciptakan alam semesta ini dengan tujuan yang secara keseluruhan hanya bisa diketahui oleh-Nya. Dia menciptakan manusia, jin, hewan, tumbuhan, dan alam semesta ini tidak main-main (‘abats). Tujuan penciptaan itu tidak didasarkan kepada kepentingan Allah sebagai pencipta, sebab Allah tidak membutuhkan apapun. Dia sendiri dan mandiri. Dia Tuhan tak butuh bantuan. Penciptaan itu diperuntukkan bagi kepentingan setiap elemen alam semesta ini. Ada kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap makhluk ciptaan Tuhan, namun kewajiban tersebut berbeda-beda tergantung kapasitas onderdil yang diberikan Tuhan. Dalam hal ini, manusia dan jin jelas diberikan pesan dan instruksi tegas dari-Nya. Tujuan penciptaan jin dan manusia tak lain adalah untuk menyembah Allah. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (menyembah) kepadaku (QS. 51:56). Penyembahan terhadap Tuhan yang menjadi kewajiban manusia sudah ditentukan dan diformulasikan dalam bentuk syari’at. Ibadah berupa shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya menjadi suatu kewajiban yang mau tidak mau harus dilaksanakan oleh makhluk Tuhan yang bernama manusia.

 

Namun, bukan berarti makhluk Tuhan lainnya tidak dibebani kewajiban untuk menyembah dan beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Semua makhluk di alam semesta ini ternyata juga beribadah kepada Allah. Ibadah yang dilakukan adalah tasbīḥ, mensucikan dan mengagungkan Allah. Allah dengan jelas menyatakan dalam al-Qur’an (QS. 17:44): “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbīḥ kepada Allah. Dan tak ada sesuatupun melainkan bertasbīḥ dengan memuji-Nya, tetapi kalian tidak mengerti  tasbīḥ mereka”. Alam semestabertasbīḥ. Langit, galaksi, awan, angin, tumbuhan, hewan, batu, pasir, air, lautan, bumi, dan semuanya bertasbīḥ, mensucikan Allah.

 

Tasbīḥ mencakup dua hal; ta’ẓīm (mengagungkan) dan tanzīh (mensucikan). Bertasbīḥ berarti mengakui bahwa Allah memiliki segala sifat “Maha” yang hanya pantas disandang oleh-Nya. Allah Maha Besar, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Kaya, Maha segalanya. Di samping itu, sifat-sifat yang kurang pantas atau bahkan negatif dinegasikan dari-Nya. Allah tidak memiliki anak, istri atau kerabat. Allah tidak memiliki sifat tercela dan aib. Dia Maha Sempurna. Ungkapan tasbīḥ biasanya dikemas dalam satu kalimat sederhana, yaitu subḥānallah (Maha Suci Allah). Ungkapan ini seharusnya tidak hanya berhenti di lisan dan ucapan semata, tetapi harus diresapi, dipahami, dihayati dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Bila seluruh makhluk di alam semesta ini berlomba-lomba bertasbīḥ, maka sudah menjadi keharusan bagi manusia sebagai makhluk paling mulia untuk menjadi pemenang dalam lomba tersebut. Manusia harus lebih banyak membaca tasbīḥ. Ia tidak bolek kalah dengan makhluk lainnya, sebab tasbīḥ adalah ibadah kompetitif. Atas dasar itulah, Allah berulang kali memberikan instruksi kepada manusia untuk memperbanyak bacaan tasbīḥ. Nabi Muhammad juga tidak kalah gencarnya memberikan spirit dan dorongan agar umat Islam giat dan rajin membaca tasbīḥ. Beliau memberikan teladan dalam tindakan, bukan hanya sekedar perintah dan ucapan. Allah berfirman dalam QS. 20, 130: “Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakana, dan bertasbīḥlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbīḥ pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang (riḍā)”. Allah menganjurkan kepada hamba-Nya agar tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Di sela-sela kesibukan baik di pagi, siang, sore atau malam hari, hendaknya diisi dengan lantunan tasbīḥ kepada Allah swt. Yang perlu digaris bawahi bahwa untuk melaksanakan ibadah kompetitif ini tidak membutuhkan biaya atau tenaga ekstra, hanya dengan membuka mulut atau sekedar komat-kamit, paling tidak dengan dzikir batin saja seseorang sudah bisa melaksanakan ibadah ini. Subḥānallah. Sungguh tidak pantas bila ada orang yang berkata, “aku tidak sempat membaca subḥānallah”.

 

Perintah dan anjuran membaca subḥānallah bukan tanpa faedah dan manfaat. Ada beberapa faedah dan nilai positif dari ungkapan yang sangat sederhana itu. Pertama, Allah sendiri telah mengatakan salah satu tujuannya ialah “la’allaka tarḍā”, agar supaya kamu riḍā. Riḍā dalam term sufisme menjadi satu tingkatan dan pencapaian tertinggi seorang sālik (orang yang sedang menuju Allah). Bila kita sudah rela, maka apapun akan kita berikan kepada orang yang kita sukai. Begitu pula bila Allah sudah rela kepada kita, apapun keinginan dan harapan kita akan mudah terwujud. Keridaan makhluk akan mempengaruhi keridaan Tuhan, sebab al-jazā’ min jins al-‘amal (reward Allah tergantung pada amal perbuatan manusia). Bila manusia riḍā, maka Allah pun riḍā (QS. 9:100). Bila manusia membuat makr,menipu (QS. 3:54). Allah juga membuat makr kepada-Nya. Manusia lupa, Allah pun akan melupakannya (QS. 9:67). Dengan kata lain, untuk mencapai maqām riḍā, maka perbanyaklah membaca subḥānallah.

 

Kedua, setiap manusia memiliki catatan amal. Catatan tersebut kelak akan diperlihatkan kepada manusia. Amal baik akan ditimbang dengan amal jelek. Salah satu cara untuk memperberat timbangan amal baik ialah dengan memperbanyak bacaan tasbīḥ. Rasulullah saw. bersabda: “Kalimatāni khafīfatāni ‘ala al-lisān, tsaqīlatāni fi al-mīzān, ḥabībatāni ila –al-Raḥmān: subḥānallah wa biḥamdihi subḥānallah al-‘aẓīm” (Ada dua kalimat yang mudah diucapkan, namun bisa menjadikan timbangan kebaikan lebih berat dan disenangi Tuhan, yaitu kalimat subḥānallah wa biḥamdihi subḥānallah al-‘aẓīm). Ketiga, memperoleh ampunan dan pahala yang banyak dari Allah swt. Suatu saat, Rasulullah saw. sedang duduk bersama sahabat-sahabatnya. Lantas Nabi bersabda: Mampukah kalian melakukan 1000 (seribu) kebajikan setiap hari? Salah satu sahabat bertanya: Bagaimana mungkin kami melakukan 1000 kebaikan setiap hari wahai Rasul? Nabi menjawab: membaca tasbīḥ 100 (seratus) kali sama dengan melakukan 1000 kebajikan atau diampuni 1000 kesalahan dan kekhilafan. Artinya, dengan membaca tasbīḥ 100 kali setiap hari, kita akan diberikan balasan oleh Allah berupa pahala 1000 kebajikan bila kita tidak sedang bergelimang dosa. Namun, bila kita masih memiliki deposit dosa, maka balasannya ialah dosa-dosa kita sebanyak 1000 kesalahan dihapus dan diampuni oleh Allah swt. Subḥānallah.

 

Keempat, setiap orang pasti memiliki masalah dalam hidup baik permasalahan ekonomi, keluarga, bisnis atau lainnya. Salah satu solusi yang dahsyat untuk mengatasi berbagai permasalahan dan kesempitan hidup ialah dengan membaca tasbīḥ. Mengenai hal ini, Allah memberikan ilustrasi dengan menceritakan kisah Nabi Yunus yang sedang mengalami musibah ditelan ikan paus (ḥūt). Ketika berada dalam kesulitan semacam itu, Nabi Yunus senantiasa bertasbīḥ kepada Allah Yang Maha Kuasa. Tasbīḥ inilah, kata Allah, yang menyebabkan Nabi Yunus diselamatkan dan dikeluarkan dari perut ikan tadi ke pinggir pantai. Allah berfirman dalam (QS. 37:143): “Maka, kalau sekiranya dia (Yunus) tidak termasuk orang-orang yang bertasbīḥ, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari kebangkitan”. Jadi jelas bahwa penyelamatan Allah terhadap nabi Yunus bukan karena posisinya sebagai Nabi dan kekasih Allah, akan tetapi karena untaian tasbīḥ yang senantiasa keluar dari lisannya. Subḥānallah.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: