Tamu: Barometer Iman

Tamu, Tamu: Barometer Iman, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

ONE DAY ONE HADITH

Abi Syuraih Al-Adawi RA berkata: “Dua telingaku mendengar dan kedua mataku melihat tatkala Nabi SAW bersabda”:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ قَالُوا وَمَا جَائِزَتُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ يَوْمُهُ وَلَيْلَتُهُ وَالضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهِ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya dengan memberikannya hadiah. Sahabat bertanya, ‘Apa hadiahnya itu, wahai Rasulullah? ’Beliau menjawab: ‘(menjamunya dengan hidangan terbaik) sehari semalam. Jamuan untuk tamu ialah tiga hari, dan selebihnya adalah sedekah.’” [HR Muslim]

Catatan Alvers:

Islam mengajarkan kepada kita untuk menghormati tamu. Sikap menghormati tamu bukan hanya mencerminkan kemuliaan hati tuan rumah, namun juga menjadi salah satu tanda tingkat keimanannya kepada Allah dan hari akhir. Karena dengan jamuan yang disuguhkan, seorang mukmin berharap pahala dan balasan yang besar dari Allah pada hari kiamat kelak.

Sikap menghormati tamu bisa berupa menyediakan jamuan makanan buat mereka. Terlebih lagi, dengan menghidangkan makanan kepada tamu sesuai dengan kegemarannya sehingga mereka bisa menyantapnya dengan lahap, karena Rasul SAW pernah bersabda:

من أطعم أخاه حتى يشبعه وسقاه حتى يرويه بعده الله من النار بسبع خنادق ما بين كل خندقين مسيرة خمس مائة عام

“Barang siapa memberi makan kepada saudaranya roti (makanan) sehingga ia kenyang, dan memberi minum hingga lepas dahaganya, maka Allah menjauhkannya dari api neraka sejauh tujuh parit dimana jarak antara ke dua parit adalah perjalanan 500 tahun.” [HR Al-Hakim].

Namun demikian, jika kondisi kita dalam keterbatasan, kiranya kondisi tersebut tidak lah menghalangi kita untuk memuliakan tamu dengan menyuguhkan apa yang ada. Dalam hal ini, para sahabat nabi menjadi teladan hingga Allah pun terkagum melihatnya.

Dalam Shahih Bukhari, terdapat riwayat bahwa suatu hari Rasul SAW memiliki tamu. Namun, di saat itu beliau sedang tidak memiliki makanan sedikit pun melainkan air minum saja. Kemudian, Rasul menawarkan kepada para sahabat di antara mereka yang bersedia menjamunya.

Akhirnya, salah seorang dari kaum Anshar bersedia lalu pergi membawa tamu tersebut ke rumahnya. Ia berkata kepada istrinya: “Muliakanlah tamu Rasul SAW.” Namun istrinya menjawab: “Di rumah kita hanya tersisa makanan si Kecil saja. Ia pun menyuruh sang istri untuk menghidangkan makanan tersebut, mematikan lampu dan menidurkan anaknya. Lalu setelah makanan siap, sang istri berpura-pura memperbaiki lampunya namun ia memadamkannya.

Sahabat tersebut kemudian menyuguhkan hidangan ke hadapan tamunya dalam kegelapan dan mempersilakan untuk menyantapnya. Sahabat dan istrinya berpura-pura makan, padahal keduanya tidak makan sedikitpun dan malam hari itu mereka tidur dalam keadaan lapar. Keesokan harinya, Sahabat tadi menemui Rasul dan beliau bersabda:

ضَحِكَ اللَّهُ اللَّيْلَةَ أَوْ عَجِبَ مِنْ فَعَالِكُمَا

“Allah tertawa malam tadi atau kagum dengan apa yang kau perbuat.”

Setelah itu Allah SWT menurunkan Ayat:

 وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan mereka (kaum Anshar) mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka sendiri memerlukannya. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [QS Al- Hasyr: 9]

Menjamu tamu bukanlah hal yang baru karena terlah ada dan menjadi ajaran Nabi Ibrahim AS bahkan beliau lah orang yang pertama kali menjamu tamu. Rasulullah SAW bersabda:

كان أول من ضيف الضيف ابراهيم

“Orang yang pertama kali memberi suguhan kepada tamu adalah Ibrahim.” [HR Al-Baihaqi]

Bahkan beliau mencapai gelar “Khalilullah” karena senang menjamu tamu, tiada hari tanpa menyuguhi makanan kepada tamu dan tidak mengharap imbalan apapun dari tamu-tamunya. [Tafsir ibnu Katsir]. Oleh karena itu juga kita dititahkan untuk mengikuti ajaran-ajaran Nabi Ibrahim AS, bukan kah Allah SWT berfirman: “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad SAW): “Ikutilah millah (ajaran) Ibrahim seorang yang hanif.” [QS an-Nahl :123]

Dari uraian kemuliaan-kemuliaan dalam menjamu tamu di atas, maka sungguh rugi jika seseorang tidak melakukannya. Rasul SAW bersabda:

لاَ خَيْرَ فِيْمَنْ لَا يُضِيْفُ

“Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak menjamu tamu.” [HR Ahmad]

Senada dengan ajaran Islam, dalam masyarakat Jawa, budaya menghormati tamu dikenal dengan sebutan empat “Uh” yaitu: Gupuh (segera membuka pintu dan menyambut tamu), lungguh (mempersilahkan duduk), suguh (memberi jamuan), dawuh (berkata-kata baik). Sungguh, ini adalah tradisi baik dan selaras dengan ajaran Islam.

Meskipun Islam memerintahkan tuan rumah untuk menghormati tamunya, namun di sisi lain Islam juga melarang tuan rumah untuk memaksakan diri dalam menjamu tamu dengan menyuguhkan sesuatu yang tidak dimilikinya. Salman Al-Farisi RA berkata:

نَهَانَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَتَكَلَّفَ لِلضَّيْفِ مَا لَيْسَ عِنْدَنَا.

“Rasulullah SAW melarang kami membebani diri untuk (menjamu) tamu dengan sesuatu yang tidak kami miliki.” [HR Thabrani]. Sebagaimana Islam juga melarang tamu tersebut untuk menyulitkan dan memberatkan sang Tuan rumah. Nabi SAW bersabda:

لَا يَحِلُّ لِرَجُلٍ مُسْلِمٍ أَنْ يُقِيْمَ عِنْدَ أَخِيْهِ حَتَّى يُؤْثِمَهُ. قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَكَيْفَ يُؤْثِمُهُ ؟ قَالَ : يُقِيْمُ عِنْدَهُ وَ لَا شَيْءَ لَهُ يَقْرِيْهِ بِهِ

.

“Tidak halal bagi seorang muslim menetap di rumah saudaranya kemudian ia membuatnya berdosa. Para sahabat bertanya: ‘Wahai, Rasulullah! Bagaimana ia membuatnya berdosa?” Nabi SAW menjawab: ‘Ia (tamu tersebut) menetap padanya, namun tuan rumah tidak mempunyai sesuatu untuk disuguhkan kepadanya’” [HR Muslim]

Inilah kesempurnaan dalam Islam yang syumul dan komprehensif yang ajarannya meliputi semua lini kehidupan sampai pada urusan menjamu tamu, baik dari sisi tuan rumah maupun sisi tamunya. Semoga kita mendapatkan kemuliaan dari Allah sebab menjamu tamu-tamu kita.

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk ringan hati dalam menjamu tamu dan memuliakannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: