annur2.net – Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” memberikan wawasan yang lebih luas dan visioner kepada para santri Al-Badr dan Tahfiz dengan materi perdaian. Prof. Dr. Syekh Shalah Mahmoed Ahmed Al-Bajuri Al-Azhari datang memberikan materi tersebut.
Syekh Shalah Mahmoed merupakan wakil dekan Fakultas Dakwah Al-Azhar Kairo, Mesir. Beliau mengisi Talk Show di Masjid Sufin, Rabu, 21 Januari 2026 dengan tema “Al-Qur’an dalam Membentuk Seorang Dai.” Bersamanya di panggung, Syekh Mohamed Masud Mohamed Ahmed Habib, seorang guru tugas dari universitas yang sama.
Talk Show berjalandengan dua sesi pertanyaan. Sesi pertama, moderator memberikan pertanyaan-pertanyaan terkait dai dan Al-Qur’an. Para santri yang hadir bisa memberikan pertanyaannya pada sesi kedua.
Siapa Dai itu dan Siapa yang Pertama?
Dai adalah orang yang mengajak orang kepada Allah baik dengan ucapannya maupun perilakunya. Menurut Syekh Shalah, semestinya menggunakan Al-Qur’an sebagai pegangan. Al-Qur’an membimbing dai untuk memberikan pengetahuan kepada audiens dengan ucapan yang baik. Maka dari itu menjadi seorang dai itu sangat mulia.
Tentang kemuliaan seorang dai, Syekh Shalah menyatakan dai pertama di dunia adalah Nabi Muhammad saw. Alasan karena beliau sangat dekat dengan kita sebagai umat muslim dan patut kita jadikan teladan.
Namun bukan tidak memungkiri nabi-nabi sebelumnya juga dai. Para nabi terdahulu mengajarkan akhlak dan tauhid kepada umat-umatnya.
Bedanya, Nabi Muhammad menjadi penyempurna ajaran Allah kepada seluruh manusia. Sebagaimana dalam hadis,
إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR. Bukhari)
Nabi Muhammad juga merupakan sayyidul makhluqat (pemimpin para makhluk). Berarti beliau juga pemimpin para nabi sebelumnya.

Tiga Langkah Menjadi Dai Terbaik
Dai itu mengajak orang lain menuju kebaikan yang Allah ridai. Makanya Al-Qur’an harus menjadi sumber utama seorang dai dalam berdakwah. Al-Qur’an adalah metode terbaik untuk menyebarkan keilmuan kepada banyak orang.
Beberapa orang mungkin bingung bagaimana mengajak orang-orang untuk mengikutinya. Kadang sudah memberikan materi yang sangat baik, mengambil dari Al-Qur’an, dan hadis, tapi audiensnya kurang tertarik. Syekh Shalah memberikan tiga langkah untuk menggapainya.
Pertama, menyucikan hati terlebih dahulu. Al-Qur’an adalah kalam Allah yang suci. Maka tidak mungkin masuk ke hati yang kotor. Jika berdakwah dengan hati yang kotor, meski menggunakan ayat Al-Qur’an sebagai sumbernya pun tidak akan masuk ke hati orang-orang. Mestinya dari hati yang baik baru bisa masuk ke hati banyak orang.
Manusia itu terbangun dari dua hal: jasad dan hati. Jika hatinya baik, jasadnya akan baik pula. Termasuk ucapan dan perbuatannya. Sebaliknya, apabila hatinya buruk, jasadnya mesti buruk pula. Al-Qur’an menjaga manusia dari keburukan hati itu.
Supaya hati bersih, manusia harus meningkatkan keimanan dengan tawakal, ikhlas, dan hati yang tenang. Kemudian membersihkan hati dari penyakit batin seperti hasud, sombong, dan sebagainya. Lalu mengisi hati dengan hal-hal yang baik, salah satunya dengan Al-Qur’an. Maka dari itu, manusia termasuk dai harus memegang teguh Al-Qur’an dengan hati yang bersih dan suci.
Hati yang Suci, Akhlak yang Bagus
Langkah kedua yaitu akhlak yang bagus. Islam sangat memperhatikan akhlak manusia. Ajarannya melalui dakwah Nabi Muhammad dengan Al-Qur’an. Sebagaimana di atas, Allah mengutus Nabi Muhammad untuk menyempurnakan akhlak seluruh umat.
Nabi Muhammad memiliki akhlak yang sempurna. Semua ucapan dan perilaku beliau adalah Al-Qur’an itu sendiri. Seorang sahabat bertanya kepada Sayidah Aisyah ra., tentang akhlak Nabi Muhammad. Sayidah Aisyah menjawab,
كان خُلُقُه القُرآنَ.
“Akhlak Nabi Muhammad adalah Al-Qur’an.” (HR. Ahmad)
Maka tak heran banyak yang menerima dakwah Nabi Muhammad saw., di balik rintangan yang beliau hadapi. Tentunya beliau mengamalkan akhlak-akhlak yang ada di dalam Al-Qur’an, seperti jujur, sabar, tawadu, kasih sayang, dan masih banyak lagi. Mestinya dai juga seperti itu.
Terakhir ialah metode yang dai gunakan. Sejak awal, Syekh Shalah menuturkan agar dai selalu memegang teguh Al-Qur’an. Ilmu dan ajaran yang ada di dalamnya bisa membantu dai untuk berdakwah di masyarakat.

Dai Pencari Nafkah atau Ikhlas
Menurut Syekh Shalah ada dua jenis dai di masa kini. Pertama adalah dai mukalaf. Ia menggunakan undangan ceramahnya untuk mencari uang. Bukan untuk foya-foya melainkan sebagai menafkahi keluarga. Harta yang ia dapat termasuk halal karena ia tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarganya kecuali menjadi dai. Beda halnya kalau dai yang gila harta.
Kedua ialah dai mutabari’. Ia merupakan dai yang ikhlas dalam berdakwah. Tidak memedulikan imbalan yang ia dapat. Ia hanya ingin orang-orang mendapatkan ilmu dan hikmah yang disampaikan. Balasannya hanya Allah yang tahu.
Dai terbaik mestinya menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan isi dari penyampaiannya. Hati yang bersih, akhlak yang baik, dan metode yang tepat memberikan dukungan agar dakwah tersampaikan ke hati orang-orang. Entah keikhlasan atau jiwa pencari nafkah tidak menghalangi seorang dai untuk berdakwah. Syekh Shalah berharap para santri yang hadir bisa mengambil ilmu dari apa yang beliau sampaikan sebagai di masa depan menjadi pendakwah.
(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)
