18 September, 2018
  • 18 September, 2018

Syekh Amin, Ulama Lebanon yang Berjuang di Indonesia

By on 28 Maret, 2018 0 184 Views

Bangga? Tentu. Pagi itu, Selasa (27/03), masjid Pondok Pesantren Wisata An-Nur II sejak usai dilaksanakannya sholat Subuh terdengar gema tausyiah. Bukan majelis biasa, pagi itu, malaikat pun serasa turut hadir menyimak.

 

Pada kunjungan keduanya ini (27-28/03), berkenan Syekh Amin bin Muhammad Ali Ad-Duhaby Al-Jailani menyampaikan banyak nasihat kepada para santri. Mereka disuplai lewat ajakan lembutnya agar setiap waktu tidak putus-putusnya mengingat Allah SWT dengan membaca dzikir. “Hanya perlu 4 sampai 6 (menit) saja setiap selesai salat.” Tegasnya.

 

*Biografi Singkat Syekh Amin

 

Ayah beliau Syekh Muhammad Ali. Terlahir sebagai cucu ke-26 Syekh Abdul Qadir Al-jailani, beliau murni bertumpah darah Turki. Atas instruksi ayahnya, Amin Kecil berhasil menamatkan Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah-nya di kampung sendiri, Lebanon.

 

Tahun 2018 ini, umurnya telah genap 70 tahun. Beliau adalah bapak dari 18 anak dari keempat istrinya.

 

*Berjuang di Indonesia

 

“Hampir seluruh kawasan Indonesia pernah beliau kunjungi.” Begitu kata Ismail, Pendamping setia Syekh Amin sejak 4 tahun silam.

 

Banten, Jawa Barat, merupakan kota pertama beliau mendarat di Indonesia. Dan di kota itu lah Ismail berjumpa dengan ulama yang beraliran Sufisme ini.

 

Mulanya, terhitung satu dua daerah saja yang dicanangkan sebagai objek utama beliau berdakwah. Namun seiring alur waktu, tahun 2016 beliau mulai mengembangkan sayapnya di berbagai kota-kota besar. Seperti Pekalongan, Cirebon, Malang dan sekitarnya.

 

*Melihat Kampung Bahasa

 

Sore cerah pantas bersanding wajah ceria. Dari pintu mobil Alphard, turun sosok dengan gamis khas Timur Tengahnya. Syekh Amin, menyiratkan senyum bahagia saat para santri asrama bahasa Arab menyanyikan lagu sambutan.

 

Beliau menyinggung 3 asas pokok alasan mengapa kita harus belajar bahasa Arab. Sebab, nabi kita sendiri orang arab yang tentunya berbahasa Arab, pula Al-Quran sebagai mu’jizat agung itu berlafadzkan Arab, serta seluruh penduduk surga yang berbahasa Arab.

 

Seperti realita kehidupan, jika kita cinta seorang, niscaya hal lain yang bersangkutan dengannya akan kita cintai juga. “Begitupun cinta kita pada bahasa Arab yang boleh jadi perantara cinta kita padanya, Rasul”, tutur beliau di tengah penyampaiannya.

 

Di akhir kesempatan itu Beliau sempat berpetuah, “Siapa saja di antara kalian yang nanti selamat (di) akhirat, tolong bantu sahabat samping kalian. Karena tiada yang tahu siapa yang ditakdirkan selamat”.

 

*Hadiah dari Lebanon

 

Syekh Amin sangat senang berada di An-Nur II, dan sebagai kenang-kenangan, beliau memberikan sejumlah hadiah. Menjelang waktu dhuha kemarin, Selasa (27/03) secara simbolis beliau memberikan sebuah kenangan kepada pengasuh, Dr. KH. Fathul Bari, M. Ag berupa Imamah khas Turki. Dan di malam harinya, bagi santri yang dapat menjawab pertanyaan beliau, dihadiahkan sebuah kopyah khas Turki warna putih dengan warna merah di atasnya.

 

“Imamah itu adalah kebanggaan bangsa Turki. Sangat identik sekali dengan kebiasaan para sufi”, terang Ismail.

 

Atas isyarat itu, beliau berharap bila mana Pondok Pesantren Wisata An-Nur II ini kedepannya bersinar lebih terang. Layaknya filosofis nama pendiri “Badrun” yang berarti Purnama. “Purnama adalah yang paling mencolok di antara bintang lain”, begitu pungkas beliau.

 

Pewarta : Ilham

Editor : Izzul Haq

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: