Terbaru
annur2.net

Sebuah “Syair Kesedihan” Untuk “Sang Purnama”

By on 19 Februari, 2018 0 6 Views

 

“Hatiku dipenuhi dengan rintihan, oleh sebab Syech Badruddin, Hatiku mulai merasa sedih karena harus berpisah dengan Syech Badruddin.”

 

Seperti itulah Syech Ahmad Muhammad Al-Basyuni dari Mesir menuliskan sebuah syair untuk KH Badruddin Anwar. Syair ini ditulis langsung oleh guru tugasan dari Universitas Al-Azhar Mesir itu, ketika masa tugas beliau telah usai dan harus pulang ke negaranya.

 

Dua tahun bertugas di Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo”, membuat guru yang mengajar bahasa Arab ini mengenal akrab sosok Kiai Bad akan kesabarannya, kebaikannya, keistiqomahannya hingga kasih sayang beliau. Dan masa perpisahan Syech Basyuni dengan Kiai Bad ini, meninggalkan sebuah kesedihan tersendiri baginya.

 

“Sudah beberapa tahun aku mengenalnya, seorang yang bertaqwa lagi mulia”, seperti itulah Syech Basyuni menuliskan pribadi Kiai Bad pada bait ketiga “Syair Kesedihan” itu.

 

“Hatinya tampak merintih karena merindukan baginya Nabi. Hatinya yang begitu lembut kepada semua mahluk”

 

Seperti yang telah kita ketahui, Kiai Bad setiap tahun melaksanakan ibadah Umroh. Hal ini menunjukkan besarnya kecintaan beliau terhadap baginda Nabi Muhammad SAW. Beliau juga sangat senang untuk mendengarkan sholawat Nabi yang dibacakan oleh santri-santri. Terutama sholawat “Burdah” yang amat beliau istiqomahkan untuk dibaca. Dan tak sedikit pula santri yang diutus oleh beliau untuk sering-sering membaca sholawat “Burdah”.

 

*Sosok yang Penyayang*

 

Dalam agama Islam, kita diajarkan untuk menyayangi sesama mahluk. Dalam hadist pun diterangkan barang, siapa yang menyayangi sesamanya maka tuhan akan menyayanginya juga.

 

Hal itu benar-benar diamalkan oleh Kiai Badruddin. Beliau menaruh perhatian yang besar terhadap umat. Dalam masalah ekonomi sekalipun. Adanya Jama’ah Pengajian “Pasar Waqiah” adalah bentuk nyata perhatian beliau kepada kesejahteraan ekonomi umat.

 

Maka dari itu, tertulis pula dalam syair ini bahwasanya beliau adalah, “Seorang ulama yang penuh kasih sayang kepada para fakir miskin”.

 

Beliau pun juga merupakan sosok yang sabar. Ketika menghadapi santri yang nakalnya sudah “kelewatan”, beliau tidak pernah menunjukkan rasa marah kepada santri tersebut. Justru beliau mengajak santri itu untuk makan atau sekedar jalan-jalan. Dan saat itulah beliau memberikan nasihat-nasihatnya yang lembut.

 

Syair ini pun diakhiri dengan sebuah do’a penutup yang dipanjatkannya kepada Allah SWT untuk Romo KH M Badruddin Anwar,

“ Wahai dzat yang belas asih, masukkan ia pada surga yang tertinggi, dan kumpulkan kami dengannya di surga-Mu yang paling tinggi. Yaa Syikona…Ya Syaikhona…Ya Syaikhona…, Kiai Badruddin…”.

 

(MFIH/Lingkar Pesantren)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: