22 Mei, 2018
  • 22 Mei, 2018

Sebuah Pesan Ulang Tahun dari Pak Danrim

By on 18 Februari, 2018 0 0 Views

kol. Inf. Bangun Nawoko di tengah-tengah santri memberikan sambutannya setelah mendapat kejutan selamat ulang tahun dari KH Fathul Bari.

“Maaf Pak! Permisi, bisa kita ngobrol sebentar?”

“Iya kenapa?”

“Saya dari annur2.net, ingin sedikit mewawancarai bapak”

“Iya silahkan”

Demikianlah percakapan annur2.net dengan tentara berbadan tegak itu. Tetapi, sebelum itu, beliau telah memberikan sebuah cerita yang mengejutkan kepada para santri.

Pria berbaju hijau toska dan berpeci hitam itu tiba-tiba berjalan ketengah-tengah para santri ketika mikrofon diberikan kepadanya. “Maaf sebelumnya, saya mohon izin duduk bersama para santri”, ucapnya. “Saya merasa tidak pantas kalau duduk di depan bersama guru-guru kami”, lanjutnya.

Rupanya, begitu surprise kejutan dari KH. Fathul Bari, S. S. M. Ag kepada Kol. Inf. Bangun Nawoko yang sedang berulang tahun pada malam hari itu. Yaitu malam dimana peringatan satu tahun wafatnya KH. M Badruddin Anwar diperingati.

Sebuah kehormatan yang tidak disangka-sangka, lantaran pada sambutannya, Kiai Fathul memberikan kejutan ucapan selamat ulang tahun yang disertai dengan bacaan sebuah syair yang dilagukan. Hal itu membuat Kol. Bangun berkata, “Saya tidak bisa berbicara apa-apa malam hari ini, saya tidak menyangka mendapat kehormatan seperti ini”, akunya. Komandan Korem 083 Baladika Jaya ini, sangat berterima kasih atas penghargaan yang beliau dapatkan pada malam hari itu (16/02).

Bpk. Danrim (kanan) dan KH Fathul Bari (kiri) dalam acara Haul pertama KH Badruddin Anwar.

Berdiri di tengah-tengah santri, pria yang baru memasuki usia 49 tahun ini menyalurkan semangat juang kepada santri-santri. Tapi, sebelumnya, “kita kenalan dulu, tak kenal maka tak sayang”, ucapnya.

Dalam memperkenalkan dirinya, beliau banyak bercerita tentang pengalamannya di masa lampau. Dikisahkan, dua puluh delapan tahun lalu, beliau pernah nyantri di Pondok Pesantren Darrusalam, Watu Congol. Lucunya, beliau malah bilang kepada kiainya bahwa, “Kiai saya mau mondok, tapi tidak mau mengaji”, ceritanya.

Perihal nyantrinya tentara ini, karena beliau mencari do’a kiainya supaya diterima di Akabri. Dan benar saja, berkat restu gurunya, beliau diterima di Akabri dan masuk di TNI hingga menjabat sebagai Komandan Korem.

Dalam sambutan unik itu, beliau banyak memberikan pesan kepada para santri. “Menjadi santri adalah sebuah nikmat tersendiri, tidak semua orang mendapatkan rezeki berharga ini”, nasihatnya. Kalau kita melihat, memang banyak di luar sana anak-anak yang ingin nyantri, tetapi orang tuanya lebih memilihkan anaknya untuk bersekolah di sekolah faforit. Begitu pula alasan-alasan lain yang mengahalangi seorang anak untuk mengenyam pendidikan di pesantren.

Maka dari itu, sebagai santri jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan langka itu. Menjadi santri adalah kebangga’an. Bagaimana tidak, tidak bisa dipungkiri peran santri dalam memerdekakan bangsa ini. Seperti kata beliau, “Yang memerdekakan bangsa ini bukan tentara, tapi do’a dan perjuangan para santri dan kiai”, riuh tepuk tangan menyambut perkataan yang menggebu-gebu itu.

Dan di akhir sambutannya itu, beliau memberikan sebuat selogan, “Nusantara” yang merupakan singkatan NU, santri, tentara. “Maka kalau ketiganya itu sudah bersatu, akan terbentuk bangsa yang tayyibatun wa rabbul ghofur”, kembali riuh tepuk tangan menyambut.

Tidak berhenti di situ, seusai acara, kepada wartawan annur2.net beliau menyampaikan banyak hal perihal peran santri dalam mengisi kemerdekaan ini. Santri akan memiliki peran-peran vital dalam mempertahankan NKRI yang kini terus menerus diuji kekuatannya.

Dimana nantinya, akan lahir generasi-generasi emas santri yang keren. Setidaknya seperti itulah beliau berkata. Dengan generasi keren inilah akan terlahir para Dandim, bahkan jendral, para pengusaha sukses, para pendidik-pendidik yang hebat, para dokter, dan lain sebagainya. Disamping itu, mereka juga sudah dibekali dengan ilmu akhirat yang luar biasa. Itu pasti akan membawa pencerahan-pencerahan terhadap negri ini.

“Harapan saya, mereka bisa merubah wajah islam yang memang betul-betul menyejukkan, islam yang damai” tutur beliau. Dari penuturan itu, maka akan terwujudlah islam yang benar-benar rahmatan lil ‘alamin. “Jangan Islam yang menakutkan” tambahnya.

Tidak lain karena sampai sekarang ini, terlalu banyak kita melihat islam begitu menakutkan, dan seolah-olah menjadi musuh bagi agama lain. Padahal islam tidak seperti itu, “Islam itu mudah, Islam itu indah, Islam itu damai”, ucapnya diakhir perjumpaanya dengan annur2.net pada malam hari itu.

(MFIH)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.