Terbaru

Sebuah Kunci Mencari Ilmu, dari Ulama Sufi

By on 29 Maret, 2018 0 38 Views

Dikisahkan, Imam Syafi’i seorang ulama madzhab itu berjalan-jalan di sebuah pusat kota. Lalu, tidak sengaja beliau melihat aurat dari seorang wanita. Dari sebab itu, kekuatan hafalan beliau yang sangat kuat itu melemah. Tidak seperti sedia kala. Mengetahui hal itu, Imam Syafi’i mengunjungi gurunya, Imam Waqi’.

 

Di sana, Imam Syafi’i curhat, mengadu kepada gurunya itu tentang melemahnya kemampuan hafalannya itu. Dan Imam Waqi’ pun memberikan sebuah irsyad, petunjuk kepada muridnya itu untuk meninggalkan maksiat. Karena, ilmu adalah nur, cahaya, dimana cahaya petunjuk dari Allah tidak diberikan kepada hambanya yang bermaksiat.

 

Kisah Imam Syafi’i yang beliau tulis dalam bentuk syair itu dikisahkan oleh Syekh Amin bin Muhammad Ali Ad-Duhaby Al-Jailani dalam sebuah wawancara ekslusif dengan annur2.net. Dimana kisah tersebut adalah salah satu kunci mendapatkan ilmu manfaat bagi seorang santri. Yaitu menjauhi perbuatan maksiat. Tidak hanya itu, beliau yang seorang ulama dari Lebanon itu juga meyakinkan kita untuk selalu bertaqwa kepada Allah.

 

Dalam kunjungan beliau yang kedua kalinya di Pondok Pesantren Wisata An-Nur II pada Selasa 27 Maret 2018 itu, beliau menjelaskan bahwa ilmu Allah sangat luas sekali. Dan apa yang telah diketahui umat manusia sangatlah sedikit. Andaikan seluruh lautan adalah tinta yang digunakan untuk menulis ilmu Allah, maka itu semua takkan cukup.

 

“Belajarlah ketika fajar tiba” tambahnya. Beliau menganjurkan kita, para pencari ilmu untuk belajar ketika fajar tiba, artinya di pagi hari, ketika subuh. Karena, saat itulah pikiran kita masih fresh. Sehingga, apa yang kita pelajari dan kita hafalkan mudah untuk difahami. Memang hal ini sedikit berat untuk dilakukan, tetapi ingat! Beliau juga berpesan, “semangat adalah kunci berikutnya”.

 

Santri Zaman Now adalah Pohon yang Masih Berbunga

 

Seperti yang kita ketahui, di zaman yang serba cepat ini, kehadiran tekhnologi menjadi salah satu penghalang bagi para pencari ilmu. Karena, mereka belum bisa memanfaatkan tekhnologi tersebut dengan baik. Tekhnologi bagaikan pisau, ketika di tangan seorang pembunuh, maka ia akan menjadi berbahaya. Dan sebaliknya, ketika ia berada di tangan seorang koki, pisau itu dapat menghasilkan makanan yang lezat. “Jadi, gunakan tekhnologi itu ketika darurat (sekedar kebutuhan) saja”, nasihat beliau yang kini sudah berusia 70 tahun.

 

Santri zaman now adalah harapan bagi bangsa dan agamanya di masa mendatang. Mereka bagaikan pohon yang suatu saat nanti akan berbuah. Artinya, masa nyantri adalah masa pohon itu masih berbunga. Bukankah sebelum berbuah harus berbunga terlebih dahulu?. “Seorang penuntut ilmu yang giat dan semangat belajar, kelak ia akan menjadi seorang yang alim sehingga ia dapat membawa umat manusia kepada ridho Allah” tutur beliau.

 

Kunci Terakhir

 

Penting diingat pula, kunci terakhir dalam mencari ilmu adalah takdzim serta taat kepada guru. Bukankah seorang murid itu bagaikan budak bagi gurunya? Seperti yang dikatakan oleh Sayyidina Ali, “Aku adalah budak dari orang yang mengajariku, walau hanya satu huruf”.

 

Sudah seharusnya sebagai seorang santri untuk ta’at dan ta’dzim kepada gurunya. Wawancara ini pun ditutup dengan sebuah nasihat dari Ahmad Syauqi, “Guru itu layaknya seorang rasul”.

 

Pewarta : Izzul Haq

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: