Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi keagamaan Indonesia yang lahir pada 16 Rajab 1344 H atau 31 Januari 1926 atas keinginan KH. M. Hasyim Asy’ari dan persetujuan gurunya KH. Kholil, Bangkalan.
Saat ini NU menjadi organisasi islam terbesar di dunia dengan anggota lebih dari 90 juta. NU menganut mazhab Syafii dalam masalah fikih dan Asy’ariyah dalm masalah akidah. Para tokoh NU merupakan pendukung konsep “Islam Nusantara”. Namun, beberapa tokoh dan ulama sepuh “NU garis lurus” menolak konsep tersebut dan memilih pendekatan yang lebih konservatif.
Kini NU sedang berbahagia karena usianya telah mencapai 100 tahun. Sebagai “warga” NU kita mungkin sudah tahu tema perayaan satu abad Nahdlatul Ulama, atau mungkin tidak. Dalam peringatan hari lahirnya kali ini, NU mengusung tema “Merawat Jagat, Membangun Peradaban”. Lalu, sudah sejauh mana Nahdatul Ulama merealisasi tema tersebut? Sudah berjalankah, atau mungkin belum sama sekali?
Tema yang diusung kali ini bukan hanya sekedar jargon, melainkan juga tanggung jawab bagi NU. Nahdlatul Ulama berusaha merealisasi tema tersebut jauh sebelum perayaan satu abad NU. Ini tampak dari terselenggaranya forum R20 (Religion of Twenty).
Forum Religion of Twenty (R20) merupakan forum pertemuan tokoh-tokoh agama dunia yang terlaksana pada 2-3 November 2022 di Bali. Inisiator forum ini adalah KH. Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU yang ingin menegaskan peran penting agama sebagai solusi atas berbagai macam problem dunia.
Nahdlatul Ulama, sebagai inisiator, mengajak para pemuka agama di dunia mencari solusi dari permasalahan dunia dengan merujuk pada kitab suci masing-masing agama. Ini membuktikan bahwa NU berusaha menjaga dan merawat peradaban dunia dengan menjadikan agama sebagai poros.
Nahdlatul Ulama juga berusaha merealisasi dawuh Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dalam Muktamar NU pertama kali. Cita-cita menjadikan Nahdlatul Ulama sebagai wadah konsolidasi semesta dan mewujudkan islam yang rahmatan lil ‘alamin.
(Muhammad Abror S/Mediatech)
