SAMPAIKAN WALAU SATU HADITS

odohONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abdillah bin Amr Ra, Rasul saw bersabda:
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
Sampaikan apa yang datang dariku meskipun satu ayat / satu hadits saja. [HR Bukhari]

Catatan Alvers

Hadits di atas adalah anjuran Rasul saw kepada setiap kita untuk menyampaikan ayat dari beliau. Apakah ayat yang dimaksud? Di dalam kitab tuhfatul Ahwadzi Bi syarah Jami’ at-tirmidzi disebutkan bahwa yang dimaksud “ayat” pada sabda tersebut bisa jadi berupa ayat al-Qur’an meskipun pendek, hadits Nabi saw, dan perkataan baik seperti nasehat, bukankah agama itu adalah nasehat. Kemudian al-Mubarakfuri (W. 1353 H) pengarang kitab tersebut berkata :
أَيْ بَلِّغُوا عَنِّي أَحَادِيثِي لَوْ كَانَتْ قَلِيلَةً
Maksudnya adalah sampaikanlah hadits-hadits yang datang dariku meskipun sedikit.

Janganlah ragu menyampaikan nasehat kebaikan, bukankah menyampaikan kebaikan adalah perintah Rasul saw. Memberi nasehat bukanlahlah tugas orang yang shaleh saja, atau orang yang ahli ibadah yang tidak pernah melakukan maksiat. Sampaikanlah nasehat, mudah-mudahan dengan barokah nasehat yang disampaikan dirimu menjadi (bertambah) shaleh.  Al-Hasan Al-Bashri berkata :

أيها الناس! إني أعظُكُم ولست بخيركم ولا أصلحكم، وإني لكثير الإسراف على نفسي، غيرُ مُحكمٍ لها، ولا حاملها على الواجب في طاعة ربها، ولو كان المؤمن لا يَعِظُ أخاه إلا بعد إحكام أمر نفسه، لَعُدِمَ الواعظون، وقلَّ المذكرون
“Wahai sekalian manusia sungguh aku akan memberikan nasihat kepada kalian meskipun aku bukanlah orang yang paling baik dan yang paling shalih di antara kalian. Sungguh aku memiliki banyak maksiat dan tidak mampu mengontrol dan mengekang nafsuku supaya selalu taat kepada Allah. Andai seorang mukmin tidak boleh memberikan nasihat kepada saudaranya kecuali setelah ia mampu mengontrol nafsunya niscaya hilanglah para pemberi nasihat dan minimlah orang-orang yang mau mengingatkan.” [Ibnul Jauzy, Adabul Hasan al-Bashri wa zuhduh wa mawa’idzuh].

Marilah saling menasehati, bukankah dalam surat yang pendek yaitu Surat al-Ashr yang disebutkan oleh Imam Syafii bahwa seandainya al-Quran turun berupa satu surat ini saja niscaya sudah cukup menjadi petunjuk bagi manusia. Di dalam surat tersebut tersirat bahwa orang yang beruntung adalah mereka yang saling menasehati dalam hal kebenaran dan kesabaran.

Menyampaikan nasehat kebaikan baik secara lisan maupun tulisan bukanlah hal yang mudah, karena syetan tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Berikut ada sepenggal kisah KH. Bisri Mustofa, seorang penulis produktif dengan salah satu karya fenomenalnya yaitu tafsir al-Ibriz. KH. Ali Maksum Krapyak bertanya kepada sahabatnya, KH. Bisri Mustofa: “Kalau soal kealiman, barangkali saya tidak kalah dari sampean, bahkan mungkin saya lebih alim, tapi mengapa sampean bisa begitu produktif menulis, sementara saya selalu gagal di tengah jalan. Baru separo atau sepertiga, sudah macet tidak bisa melanjutkan. KH. Bisri Mustofa menjawab: Lha, soalnya sampean menulis lillahi ta’ala (karena Allah ta’ala), sih!. Kalau saya, menulis dengan niat nyambut gawe. Etos saya dalam menulis sama dengan penjahit. Lihatlah penjahit itu. Kalau pun ada tamu, penjahit tidak akan berhenti menjahit. Dia menemui tamunya sambil terus bekerja. Soalnya, bila dia berhenti menjahit, periuknya bisa ngguling. Saya juga begitu. Kalau belum-belum sampean sudah niat yang mulia-mulia, setan akan mengganggu sampean dan pekerjaan sampean tak akan selesai. Lha, nanti kalau tulisan sudah jadi dan akan diserahkan kepada penerbit, baru kita niati yang mulia-mulia, linasyril ilmi (untuk menyebarkan ilmu) atau apa. Setan perlu kita tipu.”[Buku : Mutiara Pesantren, Perjalanan Khidmah KH. Bisri Mustofa]. Wallahu A’lam. Semoga kita bisa menjalankan perintah Rasul untuk menyampaikan kebaikan dan menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: