PWR Malam Ke-11: Pendosa Tapi Ingin Mendapat Ampunan? Berikut Langkah-Langkahnya

Pasar Waqiah Ramadan 2026M/1447H Malam Ke-11

Kajian: Ampunan Allah Swt.

Oleh: Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag.

قال اللهُ : يا ابنَ آدمَ ! إنك ما دعوْتَنِي ورجوتني غفرتُ لك على ما كان فيك ولا أُبالي ، يا ابنَ آدمَ ! لو بلغت ذنوبُك عنانَ السماءِ ثم استغفرتني غفرتُ لك ولا أُبالي ، يا ابنَ آدمَ ! إنك لو أتيتني بقُرابِ الأرضِ خطايا ثم لقيتَني لا تُشركُ بى شيئًا ؛ لأتيتُك بقُرابِها مغفرةً.

Artinya: “Wahai anak Adam! Selama engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampunimu atas dosa yang ada padamu dan Aku tidak peduli.

Wahai anak Adam! Seandainya dosamu mencapai setinggi langit lalu engkau memohon ampun kepada-Ku, pasti Aku ampuni dan Aku tidak peduli.

Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku tanpa menyekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi)

***

annur2.net –  Hadis qudsi ini memberi kabar yang begitu menggembirakan bagi para hamba Allah Swt., yang berdosa. Allah tidak semerta-merta meninggalkan mereka, tetapi Dia akan menerima hamba-Nya yang kembali di jalan kebenaran.

Dosa merupakan penyakit bagi seorang hamba dan setiap penyakit pasti ada obatnya. Taubatlah obat mujarab untuk menghapus dosa yang telah diperbuat.

Allah menegaskan melalui Nabi Muhammad saw., bahwasannya setiap hamba yang selalu berdoa dan mengharap ampunan-Nya, Dia akan mengampuni semua dosanya.

يا ابنَ آدمَ ! إنك ما دعوْتَنِي ورجوتني غفرتُ لك على ما كان فيك ولا أُبالي

Artinya: “Wahai anak Adam! Selama engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampunimu atas dosa yang ada padamu dan Aku tidak peduli. 

Dosa Sebesar Apapun Allah Ampuni

Bentuk maghfirah (ampunan) Allah bukan sekadar ampunan dosa-dosa kecil. Walaupun seorang hamba itu memiliki dosa setinggi langit yang begitu luas (butuh waktu 12,6 juta tahun dengan kecepatan cahaya untuk menembus langit), selagi dia ingat jalan kembali ke Allah ampunan-Nya tetap ada untuknya.

يا ابنَ آدمَ ! لو بلغت ذنوبُك عنانَ السماءِ ثم استغفرتني غفرتُ لك ولا أُبالي

Artinya: Wahai anak Adam! Seandainya dosamu mencapai setinggi langit lalu engkau memohon ampun kepada-Ku, pasti Aku ampuni dan Aku tidak peduli.

Bahkan dosa yang sangat banyak hingga memenuhi bumi, Allah Swt., akan mengampuninya dengan kadar yang sama (sepenuh bumi). Tetapi butuh kunci ampunan yang harus tetap dipegang agar mendapat maghfirah-Nya, bertaubat dan tidak syirik.

يا ابنَ آدمَ ! إنك لو أتيتني بقُرابِ الأرضِ خطايا ثم لقيتَني لا تُشركُ بى شيئًا ؛ لأتيتُك بقُرابِها مغفرةً.

Artinya: “Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku tanpa menyekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi pula.”

Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., memberikan singkatan tata cara taubat yang mudah dihafal yaitu INA.

  1. Iqla’: Berhenti dari maksiat yang ia lakukan.
  2. Nadam: Menyesali perbuatan maksiat yang telah berlalu.
  3. Azam: Berniat tidak akan melakukan maksiat lagi.

Tiga hal ini merupakan tata cara taubat nasuha (bersungguh-sungguh). Namun muncul pertanyaan yang sering mengganggu banyak orang: Bagaimana jika sudah bertaubat, lalu terjatuh lagi dalam maksiat?

Ada kisah seseorang yang sowan ke kiai. Saat itu ia curhat, “Pak kiai, aku ini banyak dosa”. “Ya taubat!” Sahut kiai. “Kalau maksiat lagi?” Imbuh orang tersebut. “Ya taubat lagi.” Terang kiai. Seketika itu orang tersebut bingung kok seperti itu.

Suatu hari saat ia mencuci mobilnya, kiai lewat. Lalu bertanya, “Kok dicuci mobilnya, Pak?” “Kotor, Kiai.” jawabnya. “Kan mobilnya dipakai lagi, apa gak kotor” pertanyaan lanjutan kiai. “Ya dicuci lagi, Kiai.” imbuhnya. “Ya seperti itu manusia.” ujar kiai.

Manusia memang tempat salah dan lupa. Hati bisa kotor oleh maksiat, sebagaimana mobil kotor oleh debu jalanan. Maka solusinya bukan berhenti memakai mobil, tetapi rajin membersihkannya.

Begitu pula taubat. Selama kita masih hidup, selama pintu taubat belum tertutup, maka jangan pernah menunda untuk kembali kepada Allah.

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ

“Dan sungguh, Aku Maha Pengampun bagi siapa yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap dalam petunjuk.” (QS. Thaha: 82)

(Abu Raihan Efendi/Mediatech An-Nur II)

Artikel Terbaru

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

@2026 | Yayasan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”Zeldrex