Puasa yang percuma

puasa, Puasa yang percuma, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

Ada orang lari tergesa-gesa menuju bandara dari rumahnya. Setelah turun dari taksi, dia pun langsung melompat menuju bandara. Namun, ternyata pesawatnya telah berangkat mendahului kita. Pasti orang tersebut kecewa. Lantas bagaimana jika hal itu terjadi pada kita?

Sama halnya dengan puasa. Tatkala berpuasa, pasti kita mengharapkan imbalan yang besar dari Allah SWT atas ibadah puasa yang telah dilakukan. Maka bagaimana kecewanya orang yang berpuasa satu bulan penuh namun hanya mendapat imbalan lapar dan dahaga saja. Ada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang berpuasa yang (tidak mendapatkan pahala), hanya mendapatkan lapar dan dahaga.” (H.R. Thabrani).

Siapa mereka? Dalam kitab Ihya’ Ulum Ad-Din karya Imam Al-Ghazali disebutkan suatu hadis yang diriwayatkan oleh Jabir dari Anas bin Malik. Dalam hadis tersebut dijelaskan ada lima perkara yang dapat menyebabkan batalnya pahala puasa, namun puasanya tetap sah, hanya saja pahala ibadahnya berkurang.

Berbohong

Hendaknya kita menjauhi perkara ini, meskipun dalam keadaan puasa atau tidak. Karena jika kita berbohong dalam keadaan puasa, maka hasilnya akan sia-sia dan tidak mendapatkan pahala dari Allah SWT. Hanya menggugurkan kewajiban puasa supaya tak berdosa. Nabi bersabda,

وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah orang yang berbicara kemudian ia berbohong untuk membuat orang-orang tertawa. Celakalah dia, Celakalah dia!” (H.R. Abu Daud).

Bahkan dalam hadis pun kata celaka disebutkan sebanyak tiga kali. Ini menjadi bukti bahwa berbohong itu sangat dilarang oleh Nabi Muhammad SAW. Maka dari itu, saat berpuasa untuk mengisi kejenuhan tak boleh berbohong saat bercanda. Karena Nabi, tatkala berbicara serius dan bercanda itu tidak pernah berbohong.

Namun, menurut ibnu Syihab dalam kitab Shahih Muslim, ada kalanya berbohong diperbolehkan dalam tiga kondisi. Yakni, ketika keadaan berperang, mendamaikan pertikaian antar sesama, dan ucapan suami kepada istri atau sebaliknya. Namun yang ketiga ini perlu digarisbawahi. Karena tidak semena-mena berbohong, tapi berbohong dalam rangka untuk menumbuhkan rasa cinta dan romantisme.

Menggunjing

Sebelum membicarakan kejelekan atau aib orang lain, hendaknya kita harus mengintropeksi diri kita sendiri. Karena bisa saja kejelekan atau aib kita itu lebih besar dari pada yang digunjing. Allah mengibaratkan orang yang menggunjing sama halnya dengan memakan daging orang yang digunjing. Allah berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَ لَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha penerima tobat lagi maha penyayang.” (Q.S. Al-Hujurat: 12).

Dikisahkan, pada zaman Rasulullah SAW ada dua orang wanita yang sedang berpuasa. Lalu ada orang yang menceritakan keadaan keduanya, “Wahai Rasulullah, di sini ada dua orang yang sedang berpuasa. Keduanya hampir pingsan karena kehausan.”

Namun, Rasulullah berpaling dan tidak menggubrisnya. Orang itu pun datang lagi kepada beliau dan menceritakan kembali kisah tersebut. “Apakah kedua wanita itu boleh membatalkan puasanya?” Rasulullah malah membawakan ember untuk keduanya. Tak disangka, saat ember itu dihadapkan, keduanya muntah yang terdapat nanah dan darahnya. Kemudian Rasulullah bersabda yang artinya:

“Kedua wanita ini berpuasa dari apa yang dihalalkan Allah. Namun berbuka dengan yang diharamkan Allah. Keduanya duduk-duduk untuk makan daging manusia (menggunjing).” (H.R. Ahmad).

Menggunjing itu dosanya sama, antara orang yang menggunjing dan yang mendengar gunjingannya. Maka dari itu, jika ada orang yang mengajak kita untuk menggunjing, kita menjauhinya saja agar tidak mendapat dosa.

Adu Domba

Janganlah adu domba! perbuatan itu lebih bahaya daripada perbuatan setan. Karena setan itu membisikkan kejahatan kepada manusia dalam khayalannya. Sedangkan, orang yang adu domba meracuni pikiran manusia secara bertatap muka dan nyata.

Omongan itu berbahaya jika tidak digunakan dengan baik. Oleh karena itu, saat berbicara dengan orang lain sebaiknya dipikir terlebih dahulu tentang hal yang akan dibicarakan. Apa ada manfaat atau malah merugikan orang lain? Jika tidak maka tidak perlu disampaikan.

Sumpah Palsu

Biasanya hal ini sering terjadi saat transaksi jual beli. Rasulullah telah mengingatkan dalam hadisnya yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abi Aufa,

أَنَّ رَجُلًا أَقَامَ سِلْعَةً وَهُوَ فِي السُّوقِ، فَحَلَفَ بِاللَّهِ لَقَدْ أَعْطَى بِهَا مَا لَمْ يُعْطِ لِيُوقِعَ فِيهَا رَجُلًا مِنَ المُسْلِمِينَ

“Bahwa ada seorang memasarkan barang dagangannya di pasar, lalu dia bersumpah dengan nama Allâh bahwa dia telah menjual barang dagangannya dengan harga (sekian, padahal) dia belum menjual barangnya itu (dengan harga yang disebutkan tersebut), untuk memperdaya seseorang dari kaum Muslimin.” (H.R. Bukhari).

Kemudian Allah menurunkan surat Ali Imran ayat 77,

…إنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلاً

“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allâh dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit (harta dunia)…” (Q.S. Ali Imran: 77).

Sumpah palsu ini sama seperti kisah antara Adam dan Hawa yang dihasut setan untuk mencicipi buah (khuldi). Setan berkata pada Siti Hawa, jika kau mencicipi buah ini kamu akan abadi dan menjadi malaikat. Karena setan membawa nama Allah. Hawa pun percaya pada perkataan setan dan mencicipi buah itu.

Melihat Dengan Syahwat

Hal tersebut menyebabkab pahala puasa itu melebur secara sia-sia. Jadikanlah puasa itu sae-sae (baik-baik) bukan sia-sia! Disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW,

الْعَيْنُ تَزْنِي، وَالْقَلْبُ يَزْنِي، فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ، وَزِنَا الْقَلْبِ التَّمَنِّي، وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ مَا هُنَالِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ

Mata itu berzina, hati juga berzina. Zina mata dengan melihat (yang diharamkan), zina hati dengan membayangkan (pemicu syahwat yang terlarang). Sementara kemaluan membenarkan atau mendustakan semua itu.” (HR. Ahmad).

Karenanya, mata sebisanya dengan keinginan kuat tidak melihat yang haram, tapi digunakan untuk melihat perkara yang baik.

Walhasil, puasa kita akan menjadi sia-sia belaka bila melakukan lima hal di atas. Perjuangan menahan lapar dan dahaga yang disertai godaan tiada henti menjadi kandas sebab sembrono dalam beribadah. Tentu kita tak mau hal itu terjadi, bukan?

*disarikan dari kajian ilmiah Pasar Waqiah Ramadhan oleh Dr. KH. Fathul Bari S.S., M.Ag. (14/04/2021)

(M. Naufal/Lingkar Pesantren)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: