Terbaru

Perjalanan Santri dari Negeri Gajah Putih

By on 11 April, 2018 0 53 Views

Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” tidak bisa dipandang sebelah mata. Eksistensinya telah menembus batas negara hingga ke dunia internasional. Salah satu bukti nyata adalah beberapa santri putra maupun putri yang berasal dari luar negeri. Widadi Deng, santriwati asal Negeri Gajah Putih, Thailand, salah satunya.

Sekolah di  Indonesia ?

Awalnya, gadis yang akrab disapa Wida ini datang ke Indonesia untuk berwisata bersama saudaranya. Wida memang sudah terpikat dengan Indonesia yang memiliki banyak tempat wisata menarik. Tempat yang dia kunjungi adalah Kota Kediri, tepatnya di Pare yang terkenal sebagai “Kampung Inggris”. Di sana, dia tinggal selama kurang lebih tiga bulan untuk kursus Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Hidup itu penuh kejutan. Wida baru tahu bahwa dirinya memiliki kerabat di Malang. Kerabatnya tersebut  mondok dan bersekolah di An-Nur II. Maka dari itu, sang ayah menawarkan kepada Wida untuk bersekolah di An-Nur II. Wida pun mengiyakan tawaran ayahnya itu.

Menurut dugaan Wida, An-Nur II adalah boarding school atau sekolah islam biasa yang ada asramanya. Ternyata dugaannya salah, tempat mencari ilmu yang kini dia pijak merupakan  pondok pesantren salaf.

Tantangan  Menjadi  Santri  Baru

Sambil membawa barang bawaan yang banyak, Wida melangkah memasuki gerbang “biru” utama pondok. Bumi An-Nur II menyambut kedatangannya. Jantungnya berdegup kencang, grogi. Lalu, dengan smartphone-nya, Wida menghubungi orang tuanya untuk meminta do’a, berharap kerasan mondok dan dilancarkan segala urusannya.

Sebagai santri baru yang berasal dari mancanegara, Wida mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Hingga kini pun dia masih sering salah pengucapan. Misalnya, pada suatu saat dia pernah mengajak teman-temannya untuk makan bersama, dia berkata “Ayo, rek makan barang-barang !” Lantas teman-temannya tertawa. “Ya kenyang dong, makan barang-barang.” Sebenarnya maksud Wida itu “makan bareng-bareng”.

Ketika teman-temannya berbicara dengan bahasa Jawa pun dia sangat bingung, tidak mengerti. Di balik itu semua Wida tetap semangat. “Ya sulit, tapi tetap semangat karena saya juga sudah belajar di Pare,” ujarnya. Konon, sewaktu di Pare dia pernah menangis karena kesulitan mempelajari Bahasa Indonesia.

Wida mengakrabkan diri dengan teman-temannya berawal dari saling sapa ketika bertemu. Seiring waktu berjalan, Wida sudah memiliki banyak teman. “Gokil! Gak nyangka bisa punya teman dari luar negeri dan deket sama dia,” kesan Eva, salah satu teman karib Wida. Di mata teman-temannya Wida adalah sosok kawan yang ramah dan baik hati.

Untuk menu makan, kali pertama dia makan dengan lauk tempe goreng di pondok, dia langsung suka. Padahal sewaktu di Pare, dia sangat anti dengan tahu dan tempe. Mungkin keajaiban pondok pesantren.

Wida juga menemui kesulitan lain, yaitu maknai kitab. Beruntung oleh ustadzahnya dia diajari huruf-huruf pego secara intensif. Dia juga belajar dari teman-temannya yang sudah mahir. Dengan semangat belajar yang berkobar, akhirnya usahanya berbuah manis, dia sudah bisa maknai kitab dengan huruf pego.

“Meskipun bisa, tapi saya masih belum ngerti artinya karena kan pakai Bahasa Jawa,” ucapnya. Walaupun begitu, ambisinya dalam mencari ilmu di An-Nur II tidak surut karena kendala tersebut.

Menyandang Predikat ‘Santri’

Menyadari dirinya telah menjadi santri, sebelumnya sungguh tidak pernah terbayang olehnya. Jangankan membayangkan menjadi santri, pondok pesantren saja tidak pernah muncul dalam benaknya. Baru pertama kali ini dia menjumpai tempat  bernama pondok pesantren, di Indonesia ini, dan dirinya langsung terjun ke dalamnya. Demikianlah  Nyatanya takdir Allah berkata demikian, Wida menyandang predikat santri. Wida sangat bersyukur dan senang.

“Senang, bangga, bisa memotivasi, bisa diceritakan ke wali santri yang tanya supaya tambah mantap untuk memondokkan putra putrinya,” kesan Ustadzah Miftah, selaku pengurus pondok putri.

Tak Ada Perbedaan di Antara Kita

Wida betah mondok di An-Nur 2 bukan karena dia santri mancanegara lantas fasilitas yang didapatkannya berbeda dengan santri lain. Registrasi dan biaya administrasi juga tidak berbeda, sama dengan santri lainnya. Wida layaknya santri-santri yang lain. Nasi yang dimakan sama, kamar yang dia tempati sama, sekolahnya sama, perlakuan dari pengurus pondok (ustadzah) sama, tiada yang diunggulkan antara satu santri dengan santri yang lain.

“Ya, tidak ada bedanya. Sama saja dengan santri lain. Memang dari pondok seperti itu”, tutur Ustadzah Halimatus Sa’diyah. Islam tidak memandang manusia dari latar etnis, suku, bangsa, ataupun kasta. Islam merangkul semua perbedaan itu menjadi lebur satu sama lain. Yang ada yakni “kita sama-sama muslim, kita saudara!”

Tak Terlupakan dari An-Nur 2

Dalam menjalani kehidupan kaum santri di An-Nur II, Wida menjumpai berbagai hal unik yang tidak akan terlupakan olehnya. Pertama, satu kamar yang digunakan tidur bersama teman-teman yang jumlahnya sampai puluhan orang yang membuat penghuninya terlihat seperti “ikan pindang”, berjejer-jejer rapi, kadang pula tak karuan posisi tidurnya. Selain itu, yang dia suka adalah budaya mengantri. Mungkin memang benar bahwa ”santri” adalah singkatan dari “SAbar mengaNTRI”. Ke kamar mandi antri, makan juga antri, beli jajan antri pula, serba antri? Menurutnya, dari budaya antri itulah kesabaran diri bisa diasah.

Kemudian, dari pengamatan Wida, sistem pendidikan pondok An-Nur II berbeda dengan pendidikan  yang ada di Thailand. Perbedaan yang paling menonjol adalah sikap taat dan hormat kepada Kyai dan guru. Ketika Kiai, keluarga Kiai, atau guru lewat maka semua santri menepi untuk memberi jalan sambil ta’dzim menundukkan kepala. “Saya beri nilai 10 karena sangat bagus sekali dan miracle,” ungkapnya.

Satu lagi, hal istimewa yang membuat hari-harinya berwarna, yaitu teman. Perbedaan latar belakang suku bangsa tidak dirasakannya. Wida tidak berpikir bahwa jika dirinya adalah warga Thailand dan temannya warga Indonesia, maka sulit untuk berbaur satu sama lain. Sesama teman itu saling mengingatkan kebaikan. Itulah indahnya pertemanan. Teman begitu berarti baginya. Teman yang membuatnya tetap bertahan dan tambah kerasan.

Tak terasa masa nyantri Wida telah memasuki tahun ketiga. Sudahlah pasti dalam sebuah kehidupan ada suka dan duka. Wida menjalani semuanya dengan rasa syukur dan bahagia. An-Nur 2 telah menjadi rumah kedua di hatinya. Wida sangat kerasan mondok di pesantren cahaya ini, seakan-akan ia tidak ingin pulang ke negerinya. Sungguh jika suatu hari nanti, ketika dia harus beranjak pergi dari An-Nur 2, pastilah akan ia simpan semua kenangan indah tentang masa-masa nyatri, tak rela untuk melupakannya secuil pun.

 

Multimedia Putri

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: