20 September, 2018
  • 20 September, 2018
penutupan pengajian ahad legi

Penutupan Pengajian Ahad Legi

By on 6 Mei, 2018 0 162 Views

Menyambut Bulan Ramadhan

 

“Kita telah sampai pada penghujung bulan Sya’ban, artinya kita akan sampai pada bulan sayyid as-syuhur, bulan terbaik, yaitu bulan Ramadhan, itu artinya ini adalah pengajian Ahad Legi yang terakhir di tahun ini”, tutur KH. Fathul Bari dihadapan para jamaah yang menghadiri penutupan pengajian rutin Ahad Legi, Ahad (06/05) di depan masjid An-Nur II Al-Murtadlo.

 

“kita harus berdo’a kepada Allah, supaya kita bisa menemui bulan ramadhan” nasihat beliau. Karena tidak ada jaminan bagi kita untuk dapat menemui bulan mulia itu. “Kematian itu tak panjang usia, tua bukan syarat untuk mati, banyak orang belum tua sudah mati”, beliau bertutur.

 

Dengan begitu beliau juga mengingatkan agar tidak tertipu dengan keadaan yang masih sehat ataupun kita yang punya banyak harta. “Karena syarat mati juga tidak harus sakit, tua ataupun miskin semua pasti mati”, tambah beliau.

 

*Keutamaan Bulan Ramadhan*

 

Al-hafidz ibnu Rajab mengatakan “Sampai pada bulan Ramadhan dan bisa berpuasa di dalamnya adalah nikmat yang agung, nikmat yang mulia dan nikmat yang tak ternilai harganya.”

 

Dikisahkan, ada tiga orang sahabat yang bersama-sama maju ke medan perang. Setelah perang selesai, salah satu dari tiga sahabat tersebut selamat dan dua lainnya mati syahid. Sahabat yang selamat itu pun mati beberapa tahun kemudian.

 

Setelah kematiannya, ada salah seorang sahabat lain bermimpi. Dalam mimpinya itu, sahabat yang selamat itu masuk ke surga terebih dahulu daripada dua sahabat yang mati syahid. Datanglah sahabat yang bermimpi itu kepada rasululah untuk menanyakan prihal mimpinya.

 

Rasulullah pun menjawab bahwa, itu bukanlah hal yang mengherankan. Karena orang yang mati terakhir itu masih bisa menambah pahala sholat dan puasa di sisa hidupnya. Dan ia juga menemui bulan Ramadhan, dimana terdapat salah satu malam di bulan itu yang bernama lailatul qadar. Pada malam itu pahala ibadah dilipat gandakan menjadi seribu bulan.

 

Jika dihitung, seribu bulan sama dengan 83 tahun lebih sedikit. Itu artinya kalau kita mendapatkan kemuliaan malam itu, sama saja kita beribadah seumur hidup -Nabi pernah bersabda, “Umur umatku berada di antara 60-70 tahun.”- Sebab lailatul qadar inilah, sahabat yang tidak meninggal di medan perang tersebut dapat masuk surga terlebih dahulu.

 

Dr. KH. Fathul Bari S. S., M. Ag. Berpesan, “Berbahagialah dengan datangnya bulan Ramadhan.” Karena, imbuhnya,  para sahabat dahulu bersuka cita akan datangnya bulan Ramadhan. Bahkan enam bulan sebelum bulan Ramadhan mereka mereka berdo’a agar dipertemukan dengan bulan suci ini.

 

Pada saat bulan Ramadhan tiba, mereka berdo’a sebulan penuh ditambah lima bulan berikutnya. Isi do’anya yaitu memohon agar puasanya diterima oleh Allah. Para sahabat berbuat demikian karena mereka sadar akan besarnya pahala di bulan Ramadhan.

 

Muhammad Miqdadul Anam

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: